JAKARTA –Tabloidskandal.com ll Kritik ibarat obat pahit, tapi dapat menyembuhkan penyakit. Karena itu, Polri tidak antikritik, dan selalu membuka ruang bagi masyarakat luas menilainya.
Demikian dikatakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam sambutannya di acara Hoegeng Awards, dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke 76, di The Tribata Darmawangsa, Jakarta, Jumat (1/7/2022).
Menurut Kapolri, kritik menjadi sangat penting sehingga dapat dipahami apa yang harus diperbaiki oleh pihak yang dikritik, dalamhalini adalah institusinya. Dengan demikian, ke depannya hal itu dapat menjadi harapan masyarakat.
"Komitmen kami untuk terus berbenah dan tidak antikritik. Kami mencoba terus membuka ruang agar masyarakat bisa menilai dan mengkritik kami," kata Listyo, seperti dikutip CNN Indonesia.
Selanjutnya dia bercerita ketika kerap dimarahi Jenderal Polri (Purn) Surojo Bimantoro (Kapolri ke-16), padahal kondisinya lagi kecapaian. Tapi ia yakin, bahwa hal itu merupakan suatu kebaikan ke depannya.
Sementara mantan Kapolri Surojo Bimantoro yang hadir, terlihat senyum mendengar namanya disebut.
Karena itu, lanjut Listyo, diharapkan anggota Polri tak jumawa manakala mendapat apresiasi, dan jangan sampai membuat polisi jadi lupa diri.
Seperti diketahui, sejauh ini masih banyak kasus yang dilakukan oleh oknum polisi. Tahun ini saja, menurut data Komisi Untuk Orang Hilang Korban Tindak Kekerasan (KontraS) ada sekitar 677 kekerasan yang dilakukan oleh aparat sepanjang Juli 2021 hingga Juni 2022.
Kekerasan itu paling banyak dilakukan menggunakan senjata api dengan 456 kasus. Sehingga menyebabkan 928 jiwa luka-luka, 59 jiwa tewas, dan 1240 orang ditangkap.
Berdasarkan catatan KontraS, jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Sepanjang Juni 2020 - Mei 2021, KontraS menyebut setidaknya 651 kasus kekerasan dilakukan oleh Polri terhadap masyarakat sipil.
Sejak awal menjabat sebagai Kapolri, Listyo pun gencar mencanangkan reformasi Polri agar menjadi institusi yang lebih baik dan jauh dari kekerasan. Ia pun membuat slogan Presisi yang merupakan akronim dari Prediktif, Responsibilitas, Transparansi dan Berkeadilan.
Namun slogan itu dinilai KontraS tak terealisasi dengan baik. Mereka pun menyindir, slogan tersebut sebagai Perbaikan Palsu Institusi Polri.