Tutup Menu

Mahasiswa STIA Amuntai Raih Penghargaan Ide Paling Inovatif di Future Leaders Summit 2026

Senin, 12 Oktober 2026 | Dilihat: 23 Kali
    
Amuntai-Kalsel - Tabloidskandal.com ||
Khaidir Yahya, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Amuntai, Kalimantan Selatan, menorehkan prestasi dalam Indonesia Future Leaders Summit 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia di Depok, Jawa Barat, pada 7–9 Oktober 2026.
 
Dalam kegiatan tersebut, Khaidir mengikuti forum pengembangan kepemimpinan yang mempertemukan mahasiswa terpilih dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk bertukar gagasan, mengasah kemampuan kepemimpinan, serta merumuskan solusi terhadap berbagai persoalan publik melalui kegiatan *Policy Hackathon*.
 
Penghargaan *Most Innovative Idea* atau Ide Paling Inovatif diberikan atas gagasan yang dinilai memiliki pendekatan kreatif dalam menjawab persoalan publik. Dalam kompetisi tersebut, peserta ditantang untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebabnya, serta menyusun usulan kebijakan yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut.
 
Khaidir menjelaskan bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut melalui proses seleksi yang mencakup pengumpulan dokumen identitas, sertifikat prestasi akademik, serta penulisan esai mengenai keresahan terhadap persoalan sosial di daerah dan motivasi untuk menjadi seorang pemimpin.
 
Menurutnya, proses tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat sekaligus menyampaikan gagasan yang dapat berkontribusi bagi pembangunan daerah.
 
Menurut Khaidir, menjadi bagian dari forum ini bukan sekadar kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri, tetapi juga ruang untuk membawa persoalan daerah agar dapat dilihat dari perspektif yang lebih luas. 
 
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian sekarang adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, termasuk dampaknya terhadap masyarakat di Kalimantan Selatan.
 
Khaidir memberikan masukan, untuk penanganan karhutla membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga pada upaya pencegahan, pemantauan wilayah rawan, penyampaian informasi yang cepat, dan koordinasi antarpihak" ujarnya
 
Menurutnya, pemanfaatan teknologi dan penguatan partisipasi masyarakat dapat menjadi bagian dari strategi untuk mendukung upaya tersebut. 
Data lapangan yang akurat, sistem pelaporan yang mudah diakses, serta keterlibatan pemerintah daerah dan komunitas masyarakat diperlukan agar langkah pencegahan dapat berjalan lebih terarah.
 
Ia juga menekankan bahwa penanganan karhutla perlu mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan, seperti gangguan kesehatan akibat asap, terganggunya aktivitas masyarakat, serta kerusakan lingkungan yang dapat berlangsung dalam jangka panjang.
 
“Persoalan karhutla tidak cukup ditangani melalui kegiatan yang hanya bersifat sementara. Kita membutuhkan langkah yang terencana, pembagian peran yang jelas, dan evaluasi yang terukur agar program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
 
Khaidir berharap forum kepemimpinan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan gagasan yang lebih konkret melalui kolaborasi antara pemerintah, mahasiswa, komunitas pemuda, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap persoalan lingkungan.
 
Ia menilai, mahasiswa memiliki peran strategis dalam membantu mengidentifikasi persoalan di lapangan, membangun kesadaran masyarakat, serta menjembatani komunikasi antara masyarakat dan pemangku kebijakan.
 
Selain memperluas wawasan mengenai kepemimpinan dan penyusunan kebijakan, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi Khaidir untuk membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
 
Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama kegiatan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan daerah, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan.
 
Menurutnya, prestasi dan pengalaman dalam forum nasional seharusnya tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi menjadi dorongan untuk menghadirkan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.
 
“Harapan saya, gagasan yang lahir dari forum seperti ini dapat ditindaklanjuti menjadi program nyata. Generasi muda perlu berani menyampaikan persoalan daerah, menawarkan solusi, dan membangun kolaborasi agar perubahan yang diharapkan bisa diwujudkan bersama,” pungkasnya.
 
(Khaidir Yahya)

Dapatkan Info Teraktual dengan mengikuti Sosial Media TabloidSkandal.com