,
17 September 2021 | dibaca: 87 Kali
Pasien BPJS Pertanyakan Pelayanan RSU Cilincing & RSUD Koja Jakut
noeh21
JAKARTA Tabloidskandal.com || Warga Kelapa Dua, Kelurahan dan Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara (Jakut) geger. Anak keempat pasangan suami istri (pasutri), Ade Supriatna (36) dan Dian Septiani (25), warga Jl. Kelapa Dua, telah meninggal dunia di RSUD Koja Jakarta Utara, Jl. Deli No. 4, Kelurahan dan Kecamatan Koja, Jakut, Senin (13/19/2021).  

Menurut Ade, dirinya sangat menyayangkan kejadian yang dialami anaknya. “Karena dari dulu, saya menginginkan anak perempuan. Begitu istri saya mengandung anak perempuan, saya sangat gembira sekali. Tapi saya langsung sedih dan terpukul setelah pihak RSUD Koja menyatakan anak saya meninggal dunia saat operasi caesar di RSUD Koja,” ungkap Ade kepada Media. Kamis (16/09/2021).

Ade bercerita, istrinya (Dian Septiani) pada Kamis (09/09/2021), merasakan perutnya mules. “Melihat tanda tanda mau melahirkan, istri saya dilarikan ke Puskesmas Kelurahan Kali Baru, Jl. Kalibaru Timur 1, Jakarta Utara. Setelah dilakukan pemeriksaan pihak Puskesmas Kali Baru, istri saya dinyatakan pembukaan satu. Sehingga pihak Puskesmas menyarankan pulang ke rumah dan besoknya, Jumat (10/09/2021) disarankan ke RSUD Cilincing,” ungkap Ade.

Mengikuti arahan pihak Puskesmas Kali Baru, Ade membawa istrinya ke RSUD Cilincing, Jumat (10/09/2021). “Saya menggunakan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Dengan BPJS, Istri saya memasuki RSU Clincing pukul sekitar 08.00 WIB. Lalu, istri saya di tes Swab Covid 19. Sambil menunggu hasil tes Swab Covid, terbitlah pemeriksaan ultrasonografi. Selanjutnya, istri saya diputuskan untuk dirujuk ke RSUD Koja Jakut,” ucap Ade.

Masih Ade, Sabtu (11/09/2021), istrinya dibawa ke RSUD Koja Jakut dan tiba pukul 08.00 WIB. “Istri saya dimasukkan UGD sambil menunggu hasil Swab dari RSU Clincing. Tak lama kemudian, saya mendapat hasil tes Swab via whatsapp dari pihak RSU Cilincing, bahwa istri saya dinyatakan positif covid,” kata Ade.

Ade mengaku, di hari Sabtu itu, pukul 23.00 WIB, dirinya dimintai tanda tangan pihak RSUD Koja untuk pemindahan kamar penangan medis dari UGD ke ruang isolasi covid. Saya mendapat kabar bahwa istri saya tidak bisa di operasi cesar, karena harus menjalani isolasi covid terlebih dahulu. Hari Senin (13/09/2021), baru pihak RSUD Koja melakukan penanganan operasi cesar 09.00 WIB, dipimpin dokter Bram. Setelah dilakukan operasi, pukul 09.45 WIB, dari whatsapp anak saya dinyatakan meninggal dunia,” aku Ade sedih.
Ade menegaskan, sangat kecewa atas pelayanan dan penangan RSU Cilincing dan RSUD Koja Jakut. Ade mengaku, ketidakpuasan masalah ini sempat disarankan Suryati, yang akrab dipanggi Mami Kenanga untuk mengajukan komplin agar bisa dimediasi langsung oleh manajemen RSUD Koja Jakut. “Tapi karena saya buta hukum dan takut salah melangkah, akhirnya saya dan istri sepakat menguasakan ke advokat,” ucap Ade.

Ade beserta sepupunya Jupri bertandang ke kantor Advokat Dwi Heri Mustika, S.H & Partner di Jl. Mangga Besar No. 179, Jakarta Pusat (Jakpus), Kamis (16/09/2021). “Benar, kami sudah menerima kuasa hukum dari Ade, suami dari Dian Septiani. Kami masih mempelajari berkas dan dokumen yang sudah diserahkan kepada kami. Dalam waktu dekat, kami segera melakukan langkah hukum, baik perdata maupun pidana,” tegas Samsul Arifin, S.H, M.H kepada media.

Humas RSUD Cilincing, Nawa mengatakan terimakasih kepada awak media sudah bersedia melakukan klarifikasi dalam hal pemberitaan, selanjutnya ia menyerahkan kepada kepala Instalasi RSUD Cilincing, Jumat (17/09/2021).
“terimakasih banyak sudah bermaksud klarifikasi ya, ini ada dokter Lia sebagai Kepala Instalasi,”katanya.

Diwaktu yang sama Kepala Instalasi Dr Lia selaku kepala Instalasi RSUD Cilincing  menjelaskan baru mengetahui bahwa pasien yang dirujuk dari rumah sakitnya meninggal di RSUD Koja, ia pun menerangkan bahwa rujukan ke Poli RSUD Koja dikarenakan pasien dinilai masih bisa ditangani di Poli.

“Ini kan pasiennya Dr Fina ya, yang pertama kali melakukan pemeriksaan kehamilan di RSUD Cilincing, untuk kondisi klinis memang Dr Fina yang menjelaskan, mengapa harus di rujuk, seingat saya pasien tersebut di rujuk ke POLI RSUD Koja, dari Poli rumah sakit kita ke Poli RSUD Koja, kenapa bisa dari poli ke poli karena memang pasien dinilai masih bisa di rujuk ke Poli, oh meninggal ya pak (bayinya), baru tahu saya, karena saya konfirmasi juga sama bidan saat USG kondisinya masih aktif bayinya, betul ibu Fina ada di hari itu dan itu tanda tangannya bu Fina,” jelasnya.

Dr. Mayang Sari, sebagai Kabag Progam dan Informasi Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa indikasi dari perlunya tindakan segera dilakukan  itu dapat dilihat dari rekam medisnya, menurutnya sudah jelas bahwa kondisi pasien kekurangan air ketuban yang di akibatkan oleh Ketuban Pecah Dini (KPD). “Itu tertulis jelas air ketuban sudah berkurang karena KPD (Ketuban Pecah Dini) perlu di operasi, ya kalau pasien positif covid19 ruangan perawatannya harus terpisah dengan pasien non covid.”imbuhnya saat dihubungi melalui telpon selulernya. (BERSAMBUNG....) 
(Novi)
 
Berita Terkait
Berita Lainnya