Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM Bukan Terobosan, Tapi Manipulasi Keadilan
Selasa, 23 Agustus 2022 | Dilihat: 567 Kali
Pelapor : Ajie Jahrudin Editor : H. Sinano Esha
JAKARTA - Tabloidskandal.com ll Pemerintah melalui Menkopolhukam Mahfud MD dan Deputi V Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jaleswari Pramodhawardani mengklaim bahwa Keppres Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu adalah terobosan pemerintah, atas tertundanya proses pembentukan RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) dan proses penyelidikan dan penyidikan antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung yang tidak ada titik temu.
Menurut Ketua SETARA Institute Hendardi, klaim tersebut adalah cara negara memanipulasi jalan keadilan bagi korban, dan sama sekali tidak akan melimpahkan keadilan, malah menyajikan pembelajaran berharga bagi bangsa atas kejahatan-kejahatan masa lalu.
Dijelaskan, argumen KKR yang belum dibahas, bisa dibantah, mengapa baru berpikir menyelesaiakan pelanggaran HAM di sisa masa jabatan? Padahal sejak awal menjabat, bahkan sejak era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, baik melalui Wantimpres RI maupun melalui Menkopolhukam, desakan, aspirasi, diskusi dan langkah-langkah penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu sudah pernah dibahas.
“Berkali-kali elemen korban, termasuk kelompok masyarakat sipil dimintai pendapat. Tetapi nyatanya, harapan itu diabaikan dengan membentuk Keppres yang lebih menyerupai Panitia Santunan bagi korban, kemudian dianggap telah menyelesaikan tuntutan keadilan penanganan pelanggaran HAM masa lalu,” papar Hendardi dalam siaran pers yang diterima Tabloidskandal.com, Senin (22/8/2022).
Presiden Jokowi, katanya lagi, tidak menangkap pesan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 18/PUU-V/2007 tertanggal 21 Februari 2008, yang pada intinya penentuan kualifikasi pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum tahun 2000 bukanlah domain DPR. Tetapi kewenangan Komnas HAM dan Kejaksaan Agung, yang tanpa menunggu keputusan DPR, Kejaksaan Agung memulai suatu proses penyidikan.
Sementara tugas DPR, lanjut Hendardi, hanyalah merekomendasikan pembentukan pengadilan HAM kepada Presiden RI. Dengan demikian, jalan penyelesaian yudisial sebenarnya tidak ada kebuntuan, kalau Jokowi bisa mendisiplinkan Jaksa Agung untuk melanjutkan tahap penyidikan atas hasil kerja Komnas HAM. Faktanya, Jaksa Agung selalu berlindung, menunggu adanya keputusan DPR.
“Pembentukan UU KKR, semestinya pula bisa diakselerasi, jika Jokowi mampu mendisiplinkan jajaran pemerintahannya plus partai-partai pendukungnya. Merevisi UU Minerba, UU KPK, bahkan membahas UU Cipta Kerja, Jokowi dan jajarannya bisa melakukan dengan begitu cepat. Mengapa untuk KKR Jokowi terus menunda?” ujarnya.
Ditegaskan Hendardi, klaim jalan yudisial masih bisa dijalankan secara paralel adalah kosmetik politik yang ditujukan untuk melemahkan penentangan atas ide Keppres ini. Judul Keppres saja penyelesaian non-yudisial, maka peristiwa pelanggaran HAM berat itu dianggap sudah selesai.
Seharusnya, kata dia, pilihan yudisial atau non yudisial ini adalah produk akhir setelah sebuah komisi yang mengungkap kebenaran pelanggaran HAM berat selesai bekerja. Bukan sejak awal ditetapkan jalur non yudisial, karena itu artinya menegasikan jalan keadilan yang lebih obyektif, yakni jalur yudisial.
“Dari seluruh jejak advokasi penyelesaian pelanggaran HAM Berat Masa Lalu, agaknya Presiden Jokowi-lah yang paling lemah secara kepemimpinan, sehingga ide dan rencana pemutihan pelanggaran HAM bisa diakomodasi dan menjadi kebijakan Presiden,” ujar Hendardi.
Posisi Mahfud MD dan Jaleswari Pramodhawardani, menurut dia, dapat dipahami dan sudah seharusnya membela produk kerja Presiden Jokowi, sekalipun itu berpotensi memanipulasi keadilan.