,
06 Januari 2022 | dibaca: 52 Kali
Akankah Tersangka Dugaan Korupsi Bank DKI Diadili?
noeh21
Kantor Kejari Jakpus, ilustrasi uang
Penulis : Fauzi Rahim
Sumber: Nando/Deteksionline.com

Jakarta –Tabloidskandal.com ll Sejak Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus) menetapkan dua pimpinan Bank DKI dan Direktur Utama PT Broadbiz Asia sebagai tersangka kasus dugaan korupsi merugikan negara senilai Rp 39 miliar
Pada pertengahan November 2021, hampir dua bulan belakangan ini masih belum ada jelesan. Banyak masyarakat mempertanyakan, apakah kasus itu akan diadili?

Berkaitan dengan pertanyaan tersebut, beberapa wartawan berusaha mencari tahu sejauh mana progres Kejari Jakpus menangani kasus korupsi Bank DKI.

Menurut Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Jakpus, Yon Yuviarso, pihaknya masih mendalami kasus dugaan tindak pidana korupsi senilai Rp 39 miliar, yakni pemberian fasilitas Kredit Pemilikan Apartemen Tunai (KPA Tunai) dari Bank DKI kepada PT Broadbiz Asia.

"Masih on progress. Masih terus dikembangkan. Penyitaan (barang bukti) sudah dilakukan," jelas Yon sebagaimana dilansir Deteksionline.com, Kamis (6/1/2022).

Saat ini, lanjut dia, Kejari Jakpus belum bisa menjelaskan perkembangan perkara tersebut, mengingat prosesnya masih dalam tahap penyidikan.

"Mohon maaf, karena masih tahap penyidikan, jadi aku masih belum bisa menjelaskan. Peristiwanya sendiri sudah terang benderang, dan sudah ada tersangkanya," paparnya.


Tiga Tersangka

Beberapa waktu lalu, dalam kaitan kasus tersebut, Kejari Jakpus telah menetapkan tiga tersangka, yakni RI selaku Direktur Utama PT Broadbiz Asia, MT Pimpinan Bank DKI Cabang Pembantu Muara Angke, dan JP Pimpinan Bank DKI Cabang Permata Hijau.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jakpus, Bima Suprayoga, menahanan para tersangka tersebut. “Kami telah melakukan penahanan terhadap tiga orang tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi. Yakni, kasus pemberian fasilitas kredit kepemilikan apartemen, atau KPA Tunai dan bertahap oleh Bank DKI Cabang Pembantu Muara Angke dan Bank DKI Cabang Permata Hijau kepada PT Broadbiz Asia, periode 2011 hingga 2017,” jelas Bima Suprayoga, dalam jumpa pers di Kantor Kejari Jakpus, Kemayoran, Selasa (16/11/2021).

Menurut Kajari Jakpus, pihaknya penetapan status tersangka dan menahannya karena telah memiliki dua alat bukti. Salah salah satunya adalah laporan dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK).

“Dari hasil perhitungan BPK, telah terjadi kerugian keuangan negara sebesar Rp.39 miliar lebih. Penjelasan atas kerugian negara dari BPK sudah kami terima, ” kata Bima.

Lebih jauh Kajari menjelaskan, ketga tersangka ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) berbeda. Tersangka RI dan MT ditahan di Rutan Salemba, Jakarta Pusat. Adapun  untuk JP di Rutan Cipinang, Jakarta Timur.

Pada bagian lain, Bima mengatakan bahwa pihaknya masih terus melakukan pengembangan. Sebab, tidak tertutup kemungkinan ada tersangka baru dalam kasus ini.

Para tersangka itu, lanjut Bima dijerat Pasal 2 ayat (1)  juncto Pasal 18, dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.


 
Berita Terkait
Berita Lainnya