Oleh: Ayu Gembirowati Soekarno Putri
Setiap 28 Oktober kita mengulang janji yang sama: Bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu, Indonesia.
Tapi saya ingin bertanya jujur kepada kita semua, khususnya kaum muda. Masihkah Sumpah Pemuda itu hidup di dada kita, atau hanya menjadi seremoni tahunan yang dibacakan di lapangan upacara lalu dilupakan?
Kakek saya, Bung Karno, selalu berkata: Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Hari ini, Indonesia punya lebih dari 60 juta pemuda. Tapi pertanyaannya, ke mana guncangan itu kita arahkan?
Saya melihat dua wajah pemuda hari ini.
Wajah pertama adalah pemuda yang hebat. Mereka ada di startup, di desa-desa membangun pangan, di kampus-kampus menolak ketidakadilan, di laboratorium menciptakan teknologi. Mereka mewarisi api Sumpah Pemuda yang sesungguhnya. Mereka tidak bertanya apa yang negara berikan padanya, tapi apa yang bisa mereka berikan untuk bangsa.
Wajah kedua adalah wajah yang membuat saya prihatin. Pemuda yang terjebak dalam polarisasi, yang mudah diadu domba oleh algoritma media sosial, yang lebih fasih menghujat bangsanya sendiri daripada membangunnya. Yang lupa bahwa bahasa persatuan kita adalah Bahasa Indonesia, bukan bahasa kebencian.
Sumpah Pemuda 1928 lahir bukan dari ruang ber-AC. Ia lahir dari pemuda-pemuda yang miskin, dijajah, berbeda suku, berbeda agama, tapi berani bersepakat. Mereka berani melampaui ego kedaerahan untuk satu kata: INDONESIA.
Hari ini, tantangan kita bukan lagi penjajah dengan senjata. Tantangan kita adalah:
Pertama, penjajahan mental. Rasa minder menjadi bangsa sendiri. Lebih bangga produk luar negeri ketimbang karya anak bangsa.
Kedua, penjajahan ekonomi. Ketika aset-aset bangsa, air, pasar, energi, dikelola tanpa keberpihakan kepada rakyat kecil. Bukankah Sumpah Pemuda juga sumpah keadilan sosial?
Ketiga, penjajahan digital. Ketika pemuda kita menjadi pasar, bukan pemain. Menjadi konsumen, bukan pencipta.
Maka memaknai Sumpah Pemuda hari ini, bagi saya, adalah tiga hal:
Pertama : Berani Bersatu, Bukan Sekadar Berkumpul. Bersatu itu bukan berarti seragam. Seperti warna-warni Sumpah Pemuda dulu, Jong Java, Jong Sumatranen, Jong Ambon, mereka berbeda tapi sepakat. Kita harus kembali belajar bersepakat untuk hal-hal besar bangsa, bukan bertengkar untuk hal-hal kecil.
Kedua : Berani Berkarya, Bukan Hanya Berbicara. Bung Karno tidak hanya berpidato, beliau menulis, beliau menggambar, beliau membangun. Pemuda hari ini harus menjadi pemuda yang berkarya nyata. Sekecil apa pun.
Ketiga :Berani Menjadi Penjaga. Penjaga Pancasila, penjaga konstitusi, penjaga persatuan. Jika bukan pemuda yang menjaga rumah besar Indonesia ini, siapa lagi?
Saya sebagai cucu Bung Karno, hanya ingin menitipkan pesan: Jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Cinta yang kritis, cinta yang membangun, bukan cinta yang buta.
Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Mari kita jahit kembali merah putih yang mungkin mulai robek oleh perbedaan, dengan benang persatuan.
Karena Indonesia ini, sesungguhnya, belum selesai. Dan ia menunggu tangan-tangan pemuda untuk menyelesaikannya.
Merdeka!
_Jakarta, 28 Oktober 2026_