,
14 Juni 2020 | dibaca: 177 Kali
Pernyataan Haru Ex Pasien Covid Dalam Doa Tolak Bala’ Di Mavila
noeh21


Mataram Skandal-

Masa Lock Down pandemic corona yang panjang dan membosankan kini berangsur pulih pasca diberlakukannya fase new normal yang dicanangkan pemerintah. Kegiatan ekonomi dan pemerintahanpun mulai terasa normal kendatipun masih dalam pengawasan Gugas covid-19.

Disejumlah tempatpun mulai digelar do’a bersama sebagai ritual tolak bala’ yang salah satunya dilaksanakan oleh warga BTN Mavila Indah Lombok Barat dengan hajat pandemic segera berakhir dan Corona berlalu dan menghilng.

Acara tersebut dikuti oleh puluhan warga seputar komplex Mavila yang dibuka oleh Ketua Panitia penggagas acara tersebut Kapt. Inf. Sahlan.





Dalam sambutan pembukaannya Sahlan menjelaskan bahwa acara tersebut digelar mengikuti kebiasaan nenek moyang, Sabtu 13/6 menjelang petang.

“Acara ritual ini selalu dilaksanakan oleh nenek moyang kita ketika ada wabah berupa bala’ dengan berdo’a secara bersama sama memohon agar wabah segera berakhir. Umumnya acara ini dibarengi dengan memakan bubur merah. Dan keyakinan ini benar benar terbukti sejak dahulu sebagaimana yang dilakukan oleh nenek moyang kita dan patut untuk dilestarikan dan dipertahankan’’ paparnya.

Sebelum acara zikir dan do’a dimulai terlebih dahulu disi testimony sebagai refrensi warga berupa penuturan salah seorang warga mafila yang pertama terpapar covid-19 dan yang pertama dijadikan sample pengujian alat rapid test yang diciptakan oleh UGM sebelum dipakai secara massive oleh para medis.

Warga mafila ex pasien corona positif yang berinisial  H.US yang berumur sekitar 50 tahun tersebut memulai penuturannya dengan penuh haru. Dengan mata berkaca kaca US memulai kisahnya dari awal ketika tubuhnya mulai terasa meriang campur batuk karena tenggorokan yang mendadak gatal dan rada sakit saat menelan.

“Berkat do’a dan dukungan warga Mafila Rengganis, kami pada tanggal 16 Mei 2020 dinyatakan sembuh dari infeksi covid 19, setelah dirawat isolasi selama 16 hari dirumah sakit. Dan telah melaui tes Swab berturut turut 2 kali dan hasilnya negtif, dan dibolehkan pulang pada tanggal 27 Mei 2020”, ujarnya memulai kisahnya dihadapan warga yang telah menerima kepulangannya.
Lanjut H.US,” Lalu kami diminta untuk melakukan isolasi mandiri sampai tanggal 10 Juni, dan seua pesan pesan dari rumah sakit telah kami jalani selama isolasi mandiri’.

Menurut penuturan H.US, informasi yang diserap dari rumah sakit, sebagian besar warga NTB menderita serangan corona ringan dan sedang tidak seperti daerah lain.  Termasuk yang dialaminya sendiri adalah OTG.

“Menurut informasi dari rumah sakit sebagian besar warga NTB menderita infeksi ringan dan sedang, termasuk yang kami alami adalah OTG. Awalnya sekitar akhir Maret 2020  ba’da isya tiba tiba  saya batuk karena rasa gatal ditenggorokan disertai panas.

Lalu saya minum obat batuk sejenis Bodrex.  Besoknya panas badan reda, namun menjelang sore kembali badan terasa panas hingga 5 hari. Selanjutnya kami melakukan ceck up darah khawatir DB atau typus namun negative. Namun banyak ditemukan sel sel darah putih dengan asumsi infeksi saluran kencing.

Selanjutnya kami ke apotek membeli obat anti biotic dan saya minum selama 5 hari 3 kali sehari, dan kondisi kembali membaik kendatipun masih rada batuk dan panas kambuh menjelang sore. Dihari ke 10 karena khawatir kena corona lalu kami dironsen ternyata juga normal dan tak terpikir kena covid. 

Sekitar tanggal 2 Mei kebetulan Hepatika Mataram mendapat kerjasama dengan UGM mendapat projeck  pembuatan rapid test covid-19. Nah ditariklah saya sebagai salah satu polentir untuk uji coba dan ternyata hasilnya reaktif”,tuturnya.

Dan sejak itu dirinya mengaku tidak pernah keluar lagi, dan dirinya teringat sempat kontak dengan tetangga dan rekan rekan kerjanya sehingga membuatnya terbebani rasa khawatir  dan rasa bersalah jikalau yang diajaknya kontak tersebut juga terpapar. Tanggal 2 mei dirinya meminta untuk menjalani Swab tes di RSU Mataram.  dan yang pertama kali ditanya kalau dirinya adalah kluster Goa sementara dirinya tidak pernah kontak dengan kluster yang dimaksud oleh medis. 

“Waktu saya Swab tes saya ditanya  apakah saya pernah kontak dengan kluster Goa, tapi saya jawab tidak pernah. Untuk menjalani perawatan saya dimintain surat pengantar dari puskesmas yang akhirnya saya penuhi dengan meminta surat pengantar dari puskesmas Perampuan”,ujarnya.

H.US mengaku ditampung diperumahan Guru Dasan Geres Gerung. Dan tanggal 11 keluar hasil swab yang menyatakan dirinya positif corona.

“Tanggal 11 Mei saya menerima hasil swab yang menyatakan saya positif corona, dan saya menangis mengingat rekan rekan dan tetangga yang sempat kontak dengan saya karena ada kemungkinan tertular infeksi”, ungkapnya dengan mata nanar.

Menurutnya selama perawatan diberikan makanan yang bergizi 4 sehat 5 sempurna dan  yang terpenting adalah tidak gelisah dan panic,”hanya ketenangan yang dapat mempercepat pemulihan”, ujarnya.(N3G)
Berita Terkait
Berita Lainnya