Kelangkaan Air dan Lahan Kritis Di Bantul Mengkhawatirkan
Sabtu, 22 Januari 2022 | Dilihat: 619 Kali
Petani Tugimin Menjelaskan Kepada Jajaran SUPD II Kemendagri (foto istimewa)
Penulis : Redaksi Tabloidskandal.com
Editor : Fathoni AG
Bantul –Tabloidskandal.com ll Permasalahan klasik yang belum terselesaikan selama ini di Bantul, DI Yogyakarta, adalah lahan kritis dan kelangkaan air. Warga dan para petani sudah seperti bosan berkeluh kesah karena tak ada solusinya.
Seperti yang dikeluhkan Tugimin (62), warga setempat, lantaran langkanya ketersediaan air menjadi permasalahan serius yang dihadapi para petani di Bantul. Menurut dia, ada 147 petani yang tergabung dalam Kelompok Petani Lestari Mulyo selaku pengelola lahan yang kini kritis dan kekeringan.
Seperti diketahui, luas lahan yang dikelola para petani sekitar 35 hektar. Sebagian besar, atau sekitar 32,3 hektar, di antaranya ditanami berbagai jenis pohon seperti durian, kelengkeng, dan sebagainya. Sementara sisanya, 2,7 hektar dikelola Pemerintah Kabupaten Bantul sebagai Agro Wisata Bukit Dermo.
Sementara itu, menurut Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah (SUPD) II Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Iwan Kurniawan, bahwa lahan tersebut merupakan program penerapan model pengelolaan lahan kritis berbasis masyarakat oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Bangda) Kemendagri. Hal itu disampaikan setelah pihaknya melakukan peninjauan beberapa waktu lalu.
"Kami ingin identifikasikan, kira-kira untuk melanjutkan (program) apa saja yang perlu kami kembangkan," kata Iwan, seperti dikutip JPNN (Kamis, 20/1/2022).
Program itu, lanjutnya, merupakan upaya pemerintah untuk memanfaatkan lahan kritis agar menjadi produktif dengan memberdayakan masyarakat. Juga dikatakan, pemerintah berperan dalam hal melayani dan membantu melalui berbagai program.
"Artinya yang menjadi ujung tombak di dalam penanganan lahan kritis itu adalah masyarakat," ujarnya.
Dikatakan Iwan, untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, manfaatkan lahan dengan cara menanam pohon yang memiliki nilai ekonomi, dan dari jenis tanaman yang bisa menyerap air saat musim hujan, serta mengairi saat musim kemarau.
"Bukan hanya berdampak pada pendapatan petani, tetapi juga terhadap lingkungan," tutur Iwan.