,
02 Agustus 2019 | dibaca: 381 Kali
Klarifikasi Raharusun Tentang Berita Pengawal Bupati
noeh21


Langgur, Skandal 

Kabag Humas dan Protokoler Kabupaten Malra, Antonius Raharusun membantah  berita tentang pengawal Bupati Malra bertindak  preman dan mengancam wartawan.

"Itu tidak benar alias Hoax," tegas  Raharusun, seraya menyebut penyampaian Pelor Hukubun sebagai pengawal Bupati Malra, sedikit pun tidak ada hubungan dan terkait dengan Bupati Malra.





"Karena apa yang di lontarkan saudara Pelur Hukubun kepada rekan rekan jurnalis sebagian dari mitra kerja. Kan dia ingatkan wartawan kalau menulis berita
baik baik. Saya pikir itu satu kritikan yang baik," tutur  Reharusun.

Namun sayang,  wartawan bersangkutan  mengkambing hitamkan saudara Pelor sebagai pengawal Bupati sebagai preman.

Raharusun mengaku, sebelum melakukan konferensi pers sempat bertanya tanya ke beberapa  jurnalis. "Saya tanya, apakah tadi pengawal Bupati ada mengancam wartawan di sini?"

Ternyata,  4 jurnalis menyatakan pernyataan pengawal Bupati itu satu masukan yang paling baik buat  jurnalis.

"Maksudnya agar menulis berita itu yang baik dan benar agar  disukai pembaca," ungkap 4 jurnalis tadi.

Karena itu, selaku Kabag Humas Protokoler Kabupaten  Malra mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Malra dn bahwa pengawal Bupati  preman dan ancam wartawan, itu tidak benar. Berita tersebut Hoax.

Pelor Hukubun menilai berita tentang dirinya  sengaja membangun opini. "Tapi saya tidak menanggapi  serius, saya jadikan sebuah pengalaman," ujar Hukubun.

Menurut dia, apa yang disampaikan ke teman-teman wartawan, didengar juga Ketua PWO Maluku, wartawan  itu menulis berita baik baik. Alasannya, selain  mitra kerja, juga semua keluarga,.

"Jadi hal yang wajar kalau sebagai kakak harus berikan masukan agar selalu dihargai bahkan disukai orang," tutur Hukubun

Ketua PWO Maluku menyesalkan  pemberitaan Evav News  menyinggung namanya dan jabatan, sekaligus rekan rekan jurnalis lain yang sempat heboh di media Online Evav News

Menurut Rahakbauw, selain melanggar kode etik jurnalis, juga tidak melakukan konfirmasi kepada wartawan yang berada di tempat peristiwa itu.

"Kok tiba tiba nama kami sudah termuat dalam pemberitaan," jelas Rahakbauw, menyebut tidak ada nada ancaman dari Pelor Hukubun. Apalagi mencaci maki.

"Bahasa Pelor itu sebagai kritisi agar pemberitaan itu harus bagus agar senang di baca dan  disayangi. Kita ini semua bermitra," ujar ketua PWO (Tim)
Berita Terkait
Berita Lainnya