Tutup Menu

Kader Partai: Putusan DPP Demokrat Tidak Demokrasi

Senin, 04 April 2022 | Dilihat: 553 Kali
Kader Partai Demokrat Jatim sebut, Putusan DPP Demokrat Tidak Demokrasi (foto istimewa)
    
Editor: H. Sinano Esha

SURABAYA –Tabloidskandal.com ll Di internal sendiri (Partai Demokrat) tidak bisa demokratis dengan bagus, lantas apa yang bisa dijual, jika partai berkeadilan yang menjunjung demokratis, tapi diajari seperti ini (tidak demokrasi?).

Demikian ditegaskan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Demokrat Kabupaten Malang, Ghufron Marzuki, terkait penunjukan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Jawa Timur (Jatim) masa bakti 2022-2027 oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, padahal dalam Musawarah Daerah Jatim yang bersangutan keok, kalah bersaing dengan Bayu Erlangga.

"Nyatanya di internal sendiri tidak bisa demokratis bagus. Nanti apa yang bisa kita jual, tunjukkan ke masyarakat. Sebuah partai berkeadilan, menjunjung demokratis tapi diajari seperti ini," kata Ghufron, seperti dikutip CNN Indonesia, Senin (4/4/2022).

Ketua DPC Demokrat Kabupaten Malang itu menyayangkan keputusan DPP Demokrat menunjuk Emil Dardak sebagai Ketua DPD Demokrat Jatim. Katanya, Muda Surabaya menjadi sia-sia jika buntutnya Jakarta yang menentukan.
 
Jika akhirnya seperti itu, lanjuta Ghufron, mestinya dari awal tidak perlu menggelar musyawarah daerah.

Tak kalah sengitnya pernyataan yang terlontar dari Ketua DPC Demokrat Kota Madiun, Istono. Dalam kaitan ini dia mendesak Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjelaskan atas penunjukan Emil Dardak. Padahal Ketua DPD Jatim terpilih hasil Muda VI Surabaya adalahung Bayu Airlangga, tokoh yang berjasa besar dalam membangun jaringan Partai Demokrat di Jawa Timur. Dan dinilai bahwa keputusan DPP Demokrat tidak demokrasi

"Saya kira tidak perlu Musda kalau ujungnya ditentukan elite partai. Demokrat yang selama ini menyuarakan pentingnya kepemimpinan yang demokratis di era reformasi ini, akhirnya tenggelam dengan keputusannya sendiri dalam menentukan ketua di Jatim," papar Istono menyesali sikap yang diambil DPP Demokrat, Minggu (3/4/2022).

Bakal Calon


Seperti diketahui, hasil pemilihan pada Musda VI Partai Demokrat  Jatim yang di gelar di Surabaya (1 Januari 2022), suara terbanyak adalah Bayu Erlangga dengan 25 DPC, sementara Emil Dardak hanya 13 DPC. Alih-alih malah yang ditunjuk sebagai Ketua DPD Jatim adalah Emil Dardak, pihak yang kalah.

Penunjukan itupun menimbulkan kekecewaan, dan memicu konflik internal partai, khususnya kader di Jatim. Yang berujung pada anggapan, Demokrat tidak lagi demokrasi.

Benarkah begitu? Menurut Ketua Badan Pembina Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (BPOKK) DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron, bahwa Musda  hanya menetapkan Bakal Calon menjadi Calon Ketua, di mana selanjutnya mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di DPP Demokrat.

"Dan (Musda) bukan banyak-banyakan dukungan, hal ini untuk menghindari proses pemilihan yang pragmatis," katanya seraya mengingatkan, bahwa mekanisme saat ini berbeda dengan AD/ART sebelumnya di mana seluruh proses selesai di tingkat pelaksanaan Musda, yakni suara terbanyak.

"Pelaksanaan Musda kali ini hanya menetapkan dari Bakal Calon menjadi Calon Ketua, di mana maksimal 3 nama diusulkan ke DPP untuk mengikuti tahapan Fit and Proper Test (uji kelayakan dan kepatutan) di hadapan Tim 3 (Ketum, Sekjen, dan Kepala BPOKK),” papar Herman, sebagaimana keterangan tertulisnya yang dikutip CNN Indonesia, Minggu (3/4/2022).

 
Berkaitan dengan silang pendapat kader Demokrat di Jatim, Herman mengingatkan bahwa seharusnya para Ketua DPC memahami mekanisme pengambilan keputusan pimpinan partai saat ini. Ia mengklaim AD/ART dan PO 02/2022 telah dikonsultasikan dan disosialisasikan kepada para Ketua DPD dan DPC sebelumnya.
Sumber: CNN Indonesia



 

Dapatkan Info Teraktual dengan mengikuti Sosial Media TabloidSkandal.com