,
31 Januari 2021 | dibaca: 193 Kali
Dr. Anto Suroto Arsitek Cafe MIO Indonesia
noeh21

TabloidSkandal, Jakarta                    

Sekali layar terkembang surut kita berpantang. Slogan ini sepertinya pas disandang Ketum Asosiasi Pengusaha Industri Kreatif Indonesia (Apiki).                    

Maka tak heran keberadaannya sebagai salah satu Dewan Pembina Media Independen Online (MIO Indonesia) pun dicurahkannya secara total dan alot. "Jika sudah tercebur saya tidak akan tanggung. Karena sudah jadi prinsip saya untuk melaksanan sesuatu secara total untuk menggapai hasil maksimal", ujar pria flamboyan ini saat berbincang di cafe MIO Indo, graha fareza, Jakarta Pusat, minggu 31/1/21.

Sesuatu yang dilakukan tanggung, ujar Anto, hasilnya pun akan tanggung. "Ngak enak kan jika tanggung ? Pasti ngak nikmat", ujarnya berseloroh.                    

WhatsApp Image 2021-01-31 at 13.44.59.jpeg (78 KB)
Dr Anto Suroto, arsitek dibalik pendirian Cafe MIO Indonesia

 

Demikian halnya dengan cafe MIO. Anto  mentor dan motivator tiga dimensi, jurnalis, kuliner dan destinasi bagi insan pers nusantara. 

Sebagaimana dilansir sebelimnya, kendatipun belum seumur jagung MIO INDONESIA, sebuah organisasi tempat berhimpumnya bagi perusahaan-perusahaan media masa berbasis online, yang baru saja di deklarsikan pada bulan Desember 2020. Dan paska pelantikan jajaran Pengurus Pusat MIO INDONESIA yang dilaksanakan di Hotel Best Western, Kemayoran Jakarta Pusat, pada hari Jumat, (29/1/2021), organisasi tersebut langsung membuat gebrakan dengan membuat “Kedai Literasi Pers” yang nantinya akan dibentuk di seluruh wilayah Indonesia.

Menurut Ketua Umum MIO INDONESIA, gagasan ini muncul karena adanya peluang-peluang secara positif yang dapat disinergikan antara pengusaha café sebagai pemilik usaha dan dengan kalangan insan pers.

“Keberadaan Kedai Literasi Pers ini nantinya, hanya sebagai bentuk kemitraan saja dengan tempat –tempat usaha apapun namanya, baik itu yang konsepnya berupa café, kedai, warung kopi atau lainnya dengan tanpa harus merubah nama tempat usaha tersebut, namun si pemilik tempat perlu menyiapkan pojokan ruang untuk “Kedai Literasi Pers” yang akan diberdayakan sebagai sarana membedah berbagai hal yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas tentunya,” ujar AYS Prayogie, saat memberikan keterangan pers, (30/1/2021), di Café MIO Indonesia, Graha Farezza, Jakarta Pusat.

Prayogie menjelaskan lebih jauh bahwa dalam upaya menyikapi new normal di Jakarta dan juga di seluruh wilayah Indonesia, seyogyanya seluruh elemen masyarakat dapat melakasanakan secara massif program pemerintah dalam upaya memutus mata rantai penyebaran corona virus disease 2019 atau yang lazim disebut dengan Covid-19.

Namun disatu sisi masyarakat juga butuh menjalankan aktifitas kesehariannya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.  Untuk itu menurut pemimpin Redaksi HINEWS.id itu, sebagai manfaat dengan adanya keberadaan “Kedai Literasi Pers” yang nantinya ada  di setiap wilayah Kepengurusan MIO terbentuk di seluruh Indonesia, harus mampu menjadi solusi sebagai pengurai polarisasi informasi yang terjadi ditengah masyarakat luas.

“Kedai Literasi Pers akan menjadi salah satu solusi dalam memecah berbagai masalah yang terjadi disatu wilayah, anggap saja nantinya bisa menjadi fasilisator bagi pihak-pihak yang berbeda untuk duduk dalam satu meja mencari win-win solusi yang sama sama menguntungkan,” ujarnya.

WhatsApp Image 2021-01-31 at 13.45.22.jpeg (143 KB)
Ollies Datau (Pres Lira, pembina MIO)

 

Keberadaan “Kedai Literasi Pers” yang saat ini selain berada di Graha Farezza Jakarta Pusat, juga sudah mulai diberdayakan “Kedai Literasi Pers” yang berada di pojok ruang “Rajanya Sego Kucing” yang lokasinya terletak di Jalan Raya Bogor KM 27 – Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur.

“Tentu keberadaan Kedai Literasi Pers dimanapun nantinya berada, dipastikan akan memberikan fasilitas dan layanan khusus bagi para pengunjung yang kebetulan memiliki kartu identitas sebagai anggota MIO Indonesia, selamat berburu kuliner dengan saling mendukung usaha miliknya  anak negeri,” ujar Prayogie.                                                                 

Sementara itu, pengelola Cafe MIO Indo, Ahdiyat mengatakan, untuk sementara, sajiannya hanya terfokus pada minuman hangat. Keberadaan cafe ini, tak lepas dari fenomena seringnya para jurnalis nongkrong.

"Artinya, walaupun kongko minum copi, kita bisa saling tukar informasi, dan membangun sinergi. Dan hal-hal sebagaimana diurai Ketum Yogie", ujar Ahdiyat yang juga jurnalis Tabloidskandal com.                       

Ahdiyat memaparkan menu kopi di cafenya beragam. Ada kopi hitam, kopi latte, kopi signature, milk signature maupun milk based. Rate secangkir kopi sesuai dengan isi kantong wartawan online dan  generasi milineal. "Pasti terjangkau," jelas Ahdiyat  mengumbar senyum.

Bagi dia, moto cafe Mio Indo, sesuai dengan jurnalis online dan kaula muda milenial: yang cabut dan dekat langsung mampir. "Artinya, nongkrong di manapun, ujungnya mampir ke sini," jelas Ahdiyat.

Cuma, di saat PSBB saat ini, cafe ini melarang jadi tempat nongkrong dengan jumlah berlebihan, yang akhirnya menciptakan kerumunan.

"Kita taat peraturanlah. Beli, langsung minumnya di rumah. Nantilah setelah corona berlalu cafe ini akan normal. Lifestyle secara santuy," jelasnya mengumbar tawa, mengutip istilah anak milenial.

Berita Terkait
Berita Lainnya