,
28 Maret 2019 | dibaca: 491 Kali
Prabowo Dapat Lampu Hijau Ke Istana Merdeka
noeh21



Jakarta,

Meski masih di bawah petahana, pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno mendapat lampu hijau "menempati" Istana Merdeka. Elektabilitas pasangan ini 49.49 persen, sedangkan Jokowi - Ma'ruf 50.51 persen.

Demikian hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Regional (LeSuRe) dalam rilisnya yang dikirim ke Skandal, 27/3. 



Mufti Mubarok

Menurut M. Mufti Mubarok, Direktur LeSuRe survei in melibatkan 152 juta responden, dimulai 10 Febuari sampai 25 Mare 2019, dengan menggunakan dua metode sekaligus. Pertama, pendekatan metode semi real count dan survei sampling.

"Dua metode ini sengaja LeSuRe  gunakan untuk mengukur lebih akurat dan komprehensif hal yang terpenting, seperti popularitas, akseptabilitas dan akuntabilitas masing-masing Paslon," tuturnya. 

Namun untuk memperjelas LeSuRe lebih fokus pada elektabilitsd calin dengan pendekatan semi real count. "Pendekatan semi real count ini sebenarnya metode kualitatif yang dikuantitatif," ujar Mubarok.

Hasilnya, dari 152 juta responden itu, dengan analisa Time Line Series pengguna media sosial yang aktif dilakukan verifikasi skore pembobotan dan verifikasi pengguna media sosial, maka lewat data Time Line Serie itu LeSuRe  menyimpulkan elaktabilitas 02 mencapai 49.48.

"Itu artinya, lampu kuning buat Petahana dan lampu hijau buat penantang" beber Mubarok.

Dia menguraikan,  Data Time Line Elaktabilitas LeSuRe per 10 Febuari hingga 25 Maret sebagai berikut.

10 Febuari, elektabilitas  01, 39 persen, 02, 55 persen. Sedan margin eror 6 persen.

20 Febuari, elaktabilitas 01, 52 persen, 02 48 persen. Sedang margin eror 0 persen.

2 Maret, elaktabilitas 01, 47 persen, 02, 43 persen. Sedang margin eror 0 persen.

6 Maret, elaktabilitas 01, 58 persen, 02, 36 persen. Sedang margin eror 6 persen.

9 Maret, elaktabilitas 01, 41 persen, 02, 51 persen. Sedang margin eror 8 persen.

23 Maret, elaktabilitas 01, 51 persen, 02, 49 persen. Sedang margin eror 0 persen. 

26 Maret, elaktabilitas 01, 50.51 persen, 02, 49,49 persen.

"Data time elaktabilitas melalui tiga pendekatan, yaitu analisis dynamic, analisis jaringan dan analis percakapan," jelas Mubarok.




Menurut dia, dari analisis dynamic timeline dapat dilihat bagaimana perkembangan strategi komunikasi atau kampanye yang sudah dilakukan oleh masing-masing paslon, termasuj pergerakan isu dan peristiwa penting dalam kampanye politik, baik  penyampaian visi misi, membangun personal branding, juga membangun koalisi antar partai politik dan elit politik.

Kedua, dari analisis jaringan dilihat dari  popularitas individual, Jokowi masih lebih unggul dibandingkan dengan Prabowo. Karakteristik individual Jokowi merupakan daya tarik tersendiri. 

Namun jika dilihat dari kekompakan jaringan, komunikasi kubu Prabowo lebih unggul. 

Ketiga, dari analisis percakapan dapat dianalisis isi dari komunikasi atau pembicaraan yang dilakukan, termasuk pesan apa saja yang sering dibicarakan, siapa saja yang sering membicarakan.

"Analisis ini serta momentum yang ada kurang dimanfaatkan oleh paslon dan timnya bahkan menjadi blunder bagi masing masing kubu," tuturnya.

Dari ketiga  Pendekatan analisis, tersebut, maka dapat ditarik score atau nilai elektablitas paslon 01 dan 02 sudah hampir cross/ sama  dengan perbandingannya elektabiltas 01 sebesar 50.51% dan 02 sebesar 49.49%.

" Artinya jika selama 3 minggu ke depan tidak ada blunder dan sunami politik, maka selisih elektabilatas hanya 0.50. Sehingga ada peluang nantinya pemilu ini akan dibawa ke meja Mahkamah Konstitusi," ujarnya.

Selain itu, tambah Mubaroq, untuk memperkuat data dan analisa, LeSuRe juga melakukan survei dengan cara sampling. 
Survei pendekatan sampling menggunakan metode konvensional dengan sampling sebesar 1.200 yang tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia, rentang waktu antara 17 februari sampai 17 maret 2019, menunjukkan hasil yang juga hampir sama yaitu elektabilitas paslon 01 sebesar 49.05% dan paslon 02 sebesar 46.95% dengn margin error 4% 

"Hal ini menunjukkan bahwa setelah debat pertama, kedua dan ketiga  terjadi perubahan pada elektabilitas pada kedua kubu," jelas Mubarok.

Peningkatan elektabilitas terjadi pada kubu paslon 02 sebesar 2 persen dan penurunan elektabilitas sebesar 1 persen pada kubu paslon 01. 

Menurutnya, tipisnya selisih nilai elektabilitas ini cukup membahayakan paslon 01, sedangkan bagi paslon 02 juga masih perlu strategi baru karena faktor penentu 02 sudah mulai menurun. Sedangkan faktor penentu paslon 01 terlihat ada peningkatan, tapi tidak menambah elektabilitas.

Rekomendasi dan Kesmimpulan 
Dari kedua metode survei yag telah dilakukan oleh LeSuRe, dapat disimpulkan bahwa setelah debat ketiga dilakukan, selisih elektabilitas antara 01 sebagai petahana belum terlalu aman karena elektabiltas berada di bawah 50 persen menjelang pemilu. 


​​​​

Selain itu, selisih nilai elektabilitas antara paslon 01 dan paslon 02 tidak lebih dari 2.5 persen. Bila mengabaikan margin error, maka ada kemungkinan terjadi cross terhadap nilai elektabilitas tersebut, mengingat pemilu tinggal 3 minggu lagi.

Kejar mengejar elektabilitas sangat dinamis antara 01 dan 02. Hal tersebut menunjukkan bahwa masing-masing kubu sudah bekerja secara maksimal dan hanya tinggal menunggu detik detik akhir pada 17 April mendatang.

Dalam rentang waktu 3 sampai 2 minggu bahkan 1 minggu ke depan  juga dapat diprediksi jika  masing-masing paslon tidak membuat blunder, maka posisi elektabiliitas akan stabil. Namum jika ada blunder, maka akan sangat dapat mempengaruhi elektabiltas masing masing paslon.

Selisih nilai elektabilitas yang tipis ini akan terus berlanjut dan semua peta elektabilitas masih bisa terjadi, apakah petahana 01 bisa bertahan ataukah 02 bisa menyalip di last minute tergantung dari faktor nasib dan nasib yang berpihak, atau lebih tepatnya tergantung sunami politik terakhir. (Lian)
Berita Terkait
Berita Lainnya