Tutup Menu

Jalan Raya Legok, Lintas Neraka Kabupaten Tangerang

Sabtu, 04 Juni 2022 | Dilihat: 85 Kali
Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Hidayatullah menyoroti kerusakan parah Jalan Raya Legok yang membahayakan pengendara (foto istimewa)
    
Pelapor : Soleh (Kontri)
Editor   : H. Sinano Esha

TANGERANG –Tabloidskandal.com ll Beberapa waktu lalu di depan salah satu perumahan di Jalan Raya Legok-Kelapa Dua terpampang baliho bertulisan Peraturan Bupati (Perbup) Tangerang Nomor 46 Tahun 2018 tentang Pembatasan Waktu Operasional Mobil Barang Pada Ruas Jalan Di Wilayah Kabupaten Tangerang. Cukup mencolok, karena ukurannya cukup besar.

Peraturan yang membatasi kendaraan jenis truk dari golongan 1 sampai golongan 5 tersebut, yakni yang boleh melintas pada pukul 22.00 - 05.00 WIB, ternyata tak dianggap serius oleh pengemudi kendaraan tersebut.

Faktanya, sebagaimana pemantauan Tabloidskandal.com, selepas pukul 05.00 hingga malam hari sebelum pukul 22.00 WIB kendaraan berat banyak berlalu-lalang di ruas Jalan Raya Legok.

Lebih memprihatinkan lagi, di ujung Jalan Raya Legok, persisnya di simpang Islamic, Karawaci, tak sedikit polisi lalulintas (Polantas) dan petugas Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten (Dishub Pemkab) Tangerang berjaga dan mengatur arus lalulintas. Mereka seakan membiarkan begitu saja kendaraan berat seperti truk pengangkut tanah/pasir dan kontiner melintas pada siang hari. Tanpa ada keinginan menindak sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Dampaknya, akibat banyak kendaraan kelas jumbo melintas di ruas jalan berdiameter sekitar 5 meter, kemacetan tak dapat dihindari lagi. Khususnya di tiap pertigaan (simpang). Mulai dari di simpang Islamic, pertigaan Kelapa Dua, pertigaan Sosro, pertigaan Alfa Midi, pertigaan SPBU Pagedangan, hingga pertigaan Legok-Curug.


Biang kerok kemacetan dan hancurnya Jalan Raya Legok adalah truk bertonase berat. Puluhan tahun menjadi lintas "neraka", bahkan seolah-olah kondisi tersebut semacam pembiaran. Padahal peraturan untuk itu sudah diterbitkan Bupati Tangerang. (foto istimewa)


Bukan cuma kemacetan, jalan Raya Legok yang jadi akses utama ke pintu tol Jakarta-Tangerang, yang terbentang dari simpang Islamic hingga pertigaan Pasar Legok sepanjang 9 kilometer, tak mampu menahan beban truk ukuran besar. Akibatnya, jalan terbuat dari beton hancur lebur berantakan, lubang menganga dan retak di sana-sini terlihat di ruas jalan ini.

Perbaikan memang kerap dilakukan. Mulai dari tambal sulam permukaan jalan yang rusak, sampai perbaikan beton yang berlubang. Tapi kerusakan tetap saja terjadi jika aparat Polantas dan Dishub Pemkab Tangerang tak peduli dengan Perbup Tangerang No. 46 Tahun 2018 dan UU No. 22 Tahun 2009. Di mana truk bersumbu 16 lalulang tanpa dicegah.

Bahaya Pengendara

Menurut anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari Fraksi PKS, Hidayatullah, kerusakan parah ruas jalan membahayakan pengendara, baik roda dua maupun empat.

"Sulit sekali menjaga dan merawat jalan untuk warga Kabupaten Tangerang. Sudah berkali-kali dilaporkan ke dinas terkait, dan memang sudah ada perbaikan, tapi hanya tambal sulam jalan dengan hotmix, sementara kendaraan yg lewat melampaui tonase kapasitas jalan," katanya, seperti dikutip online Bratapos, Jumat (3/6/2022).

Dijelaskan Hidayatullah, kepada Kepala Dinas PU dan Kepala Dinas Perhubungan diusulkan perbaikan secara permanen, bukan tambal sulam yang selama ini dilakukan.

“Tindakan yang hanya perbaikan saja, selain menghabiskan energi dan anggaran, hasilnya nggak maksimal. Solusinya, selain perbaikan total permanen, juga mengaktifkan Perbup Bupati (No.46/2018) terkait jam operasional kendaraan berat yang melintas di Jalan Raya Legok,” sarannya.

Sebagai pengguna hari-hari Jalan Raya Legok, Hidayatullah mendesak Pemkab Tangerang membuat Pos Timbangan bagi kendaraan besar yang melintas Jalan Raya Legok. Hal ini untuk antisipasi kelebihan kapasitas tonase yang jadi beban badan jalan.

"Sebelum saya jadi anggota dewan, jalan itu melulu rusak. Tidak ada perubahan yang signifikan. Seyogianya pendapatan pajak Pemkab Tangerang yang jumlahnya melampaui target, digunakan untuk layanan masyarakat berupa jalan yang baik, dan tidak rusak dan berlubang lubang," sarannya. 

Warga perumahan yang biasa melintas Jalan Raya Legok juga berharap Pemkab Tangerang melakukan perbaikan permanen ruas jalan, dan membatasi tonase truk yang melintas. Mengingat jalan yang rusak, berlubang sedalam ukuran mata kaki orang dewasa, membahayakan pengendara motor.

“Apalagi jika tergenang air. Banyak pemotor jatuh lantaran terperosok lubang, dan tak sedikit mobil kecil rusak onderdilnya. Saya berharap, jalan itu diperbaiki permanen, truk tonase besar dilarang masuk. Jangan dibiarkan, dan bikin rusak jalan. Pertanyaannya, kenapa lebih milih perbaikan tambal sulam setiap saat, ketimbang permanen?” tukas Rokas, warga salah satu perumahan di kawasan lintas Jalan Raya Legok.
 
 

Dapatkan Info Teraktual dengan mengikuti Sosial Media TabloidSkandal.com