_Ketika kuasa memabukkan dan jabatan membutakan, maka kejatuhan adalah satu-satunya guru._
Haryo dulu orang penting. Disanjung. Ditakuti. Dipuja. Tapi pensiun datang, dan semua topeng runtuh.
Selirnya, _Sherly_, pergi membawa rahasia. Istrinya, _Miranti_, pergi membawa harga diri. Rekan-rekannya menutup pintu: "Kami butuh portofolio, bukan koneksi."
Di titik terendah itulah Haryo bertemu dirinya sendiri. Tanpa jabatan, tanpa gengsi, tanpa sorak.
Melalui filosofi _Owah Gingsir_ — hidup berputar, silih berganti — ia belajar satu hal: Titik nol bukan akhir. Titik nol adalah rahim. Tempat manusia dilahirkan kembali sebagai versi yang lebih jujur.
Ini bukan novel tentang sukses. Ini novel tentang gagal, sadar, lalu berbenah. Tentang keluarga yang retak, lalu belajar menganyam ulang cinta.