Tutup Menu

Tour Peserta Rapimnas JMSI Ke Pulau Penyengat

Selasa, 22 Maret 2022 | Dilihat: 78 Kali
Rombongan Rapimnas Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Tahun 2022 Tour Kepulau Penyengat (foto istimewa)
    
Pelapor: A. Rakhman Hudri
Editor  : H. Sinano Esha

BATAM – Tabloidskandal.com ll Pasca Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Tahun 2022 yang di gelar di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) selama dua hari (18-20/03/2022), Pengurus Daerah (Pengda) JMSI Kepri membawa seluruh peserta ke kawasan wisata Batam,  di antaranya Pulau Penyengat.

Pulau Penyengat berjarak lebih kurang 37 kilometer dari pusat Kota Batam. Di antara peserta yang berasal dari seluruh Indonesia,  nampak ikut terlibat di dalam rombongan  tour city Ketua UmumJMSI Teguh Santosa, Ketua JMSI Kepri Eddy Supriatna, dan pujangga Kepr, Ramon Damora. Rombongan berlayar dari  Pelabuhan Telaga Pungur.

“Dua unit speedboat disiapkan Dinas Pariwisata Provinsi Kepri untuk mengangkut rombongan. Kapal fiber berkuatan mesin 250 tenaga kuda akan berlayar di perairan Pulau Bintan,” kata Hendro Saky, Ketua JMSI Aceh.

Penyengat merupakan salah satu dari sekian banyak pulau di wilayah Bintan. Luas pulau itu hanya 2 kilometer persegi, atau 240 hektar. Letaknya lebih dekat ke Tanjung Pinang, pusat pemerintahan Provinsi Kepri.


Masjid Bersejarah Di Pulau Penyengat (foto istimewa)


Dari catatan sejarah, Pulau Penyengat sudah dikenal oleh pelaut-pelaut pada masa dahulu. Hal itu lantaran terdapat perigi atau sumur air tawar yang dibutuhkan bagi para pelaut.

Dari cerita-cerita rakyat, kata Penyengat berasal dari adanya serangan binatang berbisa terhadap pelaut yang melanggar larangan saat mengambil air tawar di sana. Nama hewan itu selanjutnya disebut Penyengat, dan berikutnya menjadi nama pulau itu sendiri, yakni Pulau Penyengat.

Dikutip dari Wikipedia, Pulau Penyengat dulunya pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau Lingga, dan pulau itu merupakan mas Kawin Sultan Mahmud Syah saat menikah dengan Engku Raja Hamidah pada 1803.

Untuk menuju Pulau Penyengat, selain menyewa speedboat seharga Rp2 juta sekali jalan dengan kapasitas penumpang 25 orang, juga dapat menggunakan Kapal Motor Penumpang (KMP) jenis RoRo lewat Pelabuhan Punggur. Ongkosnya Rp68 ribu ke Tanjung Pinang, selanjutnya menumpang perahu Pompong ke Pulau Penyengat dengan tariff Rp 7.000/kepala.

Masjid Raya Sultan Riau

“Dari Pelabuhan, berjalan kaki ke Masjid Raya Pulau Penyengat. Jaraknya sekitarberlabuh,” jelas Hendro.

Bangunan dan ornamen Masjid Raya Pulau Penyengat, sangat kontras dengan bangunan lainnya. Selain didominasi warna kuning emas, letak bangunan juga lebih tinggi dibandingkan perumahan masyarakat.

“Menuju kedalam masjid, kita akan melewati anak tangga yang berjumlah 13 buah. Gerbangnya terbuat dari beton, berbentuk kubus setinggi dua meter, dan bersambungan dengan pagar beton yang mengeliling masjid. Konstruksi pagar seperti benteng, kokoh yang membentengi masjid,” kata Hendro lagi menjelaskan fisik bangunan mesjid.

Melewati pagar, terdapat halaman luas dengan sisi kanan kiri ada dua bangunan besar, atau bisa di sebut rumah Sotoh. Juga ada dua balai berkontruksi kayu di halaman masjid itu.

Di dalam masjid, terlihat sisa-sisa kejayaan era Kesultan Riau Lingga dari konstruksi bangunan. Yakni, tebal dinding masjid, ornamen dalam masjid, serta tiang penyanggah mencirikan kentalnya budaya melayu pada bangunan tersebut.

Masjid Raya Pulau Penyengat memiliki 13 kubah, yang tersusun 3 kubah bagian depan, 3 kubah bagian tengah, dan empat kubah bagian depan pintu masuk. Terdapat dua menari kecil di depan ke arah kiblat, dan dua menara tinggi yang agak besar di depan pintu masuk pada kiri dan kanan. Secara total, masjid ini memiliki 17 kubah. Dan masjid ditopang oleh empat tiang sebagai penyanggah yang kokoh.


Masjid Raya Pulau Penyengat Memiliki 13 Kubah (foto istimewa)

Menurut salah satu penjaga masjid, keberadaan 17 menara itu dilambangkan sebagai jumlah rakaat dalam sholat. Juga dinjelaskan, dinding bangunan masjid memiliki ketebalan 50 sentimeter, terbuat dari campuran tanah lempung atau tanah liat bercampur putih telur.

Mengutip wikipedia, masjid di bangun oleh Sultan Mahmud pada 1803, kontruksinya masih berupa kayu. Pada 1832, Raja Abdurrahman bersama dengan lima ribu masyarakat Penyengat memugar masjid, hingga bangunan menjadi seperti yang terlihat saat ini.

Makam Raja Hamidah Engku Putri

Dari Masjid Raya Pulau Penyengat, rombongan ke komplek Makam Raja Hamidah Engku Putri, bisa ditempuh sekitar 10 menit berjalan kaki dari masjid. Sesuai namanya, di lokasi itu dikebumikan Raja Hamidah Engku Putri, permaisuri Raja Mahmud Riayat Syah.

Banyaknya pohon besar di sekitar makam, menjadikan udara sejuk dan teduh. K keterangan yang tertulis pada pamplet terbuat dari campuran semen dan pasir berbentuk seperti papan tulis, terdapat sejumlah nama-nama yang juga dikebumikan di komplek itu, seperti Raja Ahmad, Raja Alimaji, dan Raja Abdullah, serta Raja Aisyah.

Hari pun beranjak siang, azan berkumandang dari Masjid Raya Sultan Riau Pula Penyengat, dan rombongan JMSI se-Indonesia menunaikan sholat zuhur. Usai sholat, dilanjutkan dengan makan siang bersama, sungguh sebuah perjamuan sejarah dari JMSI Kepri bagi seluruh JMSI di nusantara.(Sumber : Jaringan Media Siber Indonesia)

 

Dapatkan Info Teraktual dengan mengikuti Sosial Media TabloidSkandal.com