(Ambin Demokrasi)
Rumah Para Penjilat
Senin, 18 Mei 2026 | Dilihat: 22 Kali
Oleh: Noorhalis Majid
Coba tebak, siapa yang paling banyak menduduki berbagai jabatan di pemerintahan hingga ormas serta organisasi yang dibentuk oleh pemerintah? Bukan sekedar dua atau tiga jabatan sekaligus, bahkan lebih. Seandainya segala jenis jabatan yang tersedia ditawarkan kepada yang bersangkutan, maka semua jabatan itu ingin diraih, diraup dengan serakah.
Saya pastikan orang tersebut bukanlah yang paling kompeten atau paling berprestasi. Melainkan orang yang paling istimewa sebab pandai menjilat. Tentu saja yang dijilat adalah pimpinan. Bukan hanya puja-puji yang selalu disampaikan dalam setiap kesempatan, hingga gestur tubuh, sikap dan laku, layaknya penjilat ulung dengan cium tangan bolak-balik kepada pimpinan tiap kali bertemu, mungkin mengalahi cium tangan kepada orang tua.
Yang dijilat juga setali tiga uang. Suka dengan pujian, sanjungan, serta cium tangan sembah sujud, dan kompensasinya berbagai jabatan diberikan, diupayakan dengan segenap kemampuan. Bila perlu, tanpa malu ikut melobi sana-sini, agar jabatan bisa diberikan.
Jabatan disajikan layaknya santapan hidangan di atas meja makan. Tinggal pilih jabatan-jabatan tersebut. Atas nama otoritas, hak prerogatif, serta kewenangan yang melekat, maka segalanya diberikan dan direstui, yang menentang akan tersingkir dan dimusuhi.
Jadilah pemerintahan yang sejatinya memiliki kewenangan dalam menentukan berbagai jabatan, laksana rumah para penjilat. Karena yang menempati jabatan-jabatan strategis hanya para penjilat, dikelilingi barisan pragmatis dan oportunis, yang berlaku santun karena kecipratan tingkah polah para penjilat.
Siapa yang dirugikan atas tingkah polah penjilat? Tentu saja organisasi, lembaga, institusi yang diduduki oleh sang penjilat. Bisa dipastikan karena dipimpin oleh orang yang memiliki banyak jabatan, akhirnya tidak satu pun terurus dan terkelola dengan profesional. Semuanya jalan serba tanggung, bahkan berjalan ala kadarnya, sahibar.
Warga juga turut dirugikan, karena organisasi, lembaga dan institusi yang mestinya berperan maksimal mengurusi hal-hal terkait kepentingan warga, justru peran dan fungsinya jadi minimalis. Begitu pula dengan jabatan, kedudukan dan berbagai posisi, yang seharusnya dapat ditempati oleh orang-orang pilihan yang kompeten lagi berprestasi, justru hanya diisi para penjilat dan akhirnya pragmatisme dan sikap oportunis, semakin subur.
Fenomena ini tentu bukan perkara sederhana. Ini adalah tanda-tanda zaman atas mundurnya peradaban dan akal sehat. Perlahan namun pasti, kompetensi tidak lagi penting, bahkan bukan menjadi syarat utama untuk meraih jabatan. Walau bodoh, asal pandai menjilat, jabatan tinggal pilih, karena segala kemudahan terbuka lebar di rumah para penjilat. ( Irwan )