,
15 Agustus 2019 | dibaca: 425 Kali
Dugaan Penyimpangan STQH Terus Bergulir
noeh21

Skandal Musirawas 

Pemeriksaan dugaan penyimpangan  kegiatan Seleksi Tilawatil Quran dan Hadist (STQH) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) terus bergulir di Tindak Pidana Korupsi (TIPIKOR) Polres Musi Rawas. Rabu (14/08).

Kasat Reskrim AKP Wahyu Setyo Pranoto  melalui  Kanit Tipikor IPDA Khoiril menegaskan terus bekerja untuk mengungkap  dugaan penyimpangan di kegiatan STQH Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) .

“Proses tetap berlanjut, saat ini kita sedang mempelajari semua berkas dokumen yang telah masuk,” tegas Kanit Tipikor kepada awak media bersemangat.

Dibeberkan Ipda Khoiril, saat ini tim penyidik Tipikor menunggu dokumen perbandingan harga untuk segera dievaluasi secepatnya .

Untuk pemeriksaan terhadap beberapa pihak terkait, setelah sebelumnya Kabag Kesra, Nawawi, Pejabat Pelaksa Teknis Kegiatan (PPTK), Widya Wulandari. Tim penyidik Tipikor juga telah memanggil serta memeriksa rekanan yakni PT. Untuk Negeri Production yang diketahui selaku Event Organizer untuk dimintai keterangan atas keterlibatan kegiatan yang dianggarkan dengan nilai miliaran rupiah itu.

Tak hanya sampai di EO, penyidik juga telah memanggil rekanan penyedia makan minum kegiatan. Namun pemanggilan tersebut tidak dipenuhi Catering Sempurna.

“terakhir kita memeriksa EO dan Cateringnya, tapi yang datang cuma EO, sedangkan Catering tidak ada kabar,” ujar Ipda Khoiril.

Di sisi lain, MS Iqbal Rudianto, Direktur PT Untuk Negeri Production  membenarkan bahwa dirinya telah dipanggil dan diperiksa oleh penyidik Tipikor Polres Musi Rawas.
Tapi dirinya tidak dapat berkomentar lebih banyak dan mengintruksikan awak media untuk konfirmasi langsung kepada Wawan yang diakuinya selaku pelaksana di lapangan.

Dalam keterangannya Wawan juga mengaku diminta keterangan oleh penyidik. Menurutnya, beberapa berkas sudah  diserahkan kepada penyidik Tipikor. Dia menjawab pertanyaan seputar perannya di lapangan dalam kegiatan STQH.

“Pengalaman kami di beberapa daerah biasanya setiap kegiatan itu satu (1) paket tidak dipisahkan. Di lapangan baru kita serahkan sub kegiatan pada rekan-rekan yang sejak awal ikut gabung bersama EO kita”, ungkap Wawan.

Lanjut dia, di Muratara  tidak satu paket, hanya khusus tenda, sound system dan beberapa kegiatan terkait aksesoris.

“Kalau kita tahu sejak awal pelelangan sudah kusut seperti ini dan bermasalah dengan hukum, EO kita tidak akan masuk ke Muratara. Cukup ini yang terakhir bagiku," gurutu Wawan.

Wawan membantah ada informasi EO memakai dana dari seseorang oknum pejabat yang mengakibatkan oknum tersebut rugi. (Tim)
Berita Terkait
Berita Lainnya