,
30 Mei 2021 | dibaca: 230 Kali
TERKAIT JABATAN KEPALA OHOI RAHARENG ATAS, LIMA MARGA SEPAKAT ANGKAT SUMPAH ADAT
noeh21
Malra, Tabloidskandal.com
Polemik perebutan kursi kepemimpinan Kepala Desa/Ohoi Rahareng Atas berujung buntut. Kisruh tanpa titik temu ini kemudian memaksakan lima marga ohoi menyerahkannya secara ritual kepada hukum adat setempat.

Minggu itu, tepatnya pada tanggal 30 Mei tahun 2021, Pusar kampung (Woma) Desa/Ohoi Rahareng menjadi saksi atas pengangkatan sumpah adat yang dilayangkan di wilayah yang dijuluki Larvul Ngabal itu.

Dengan begitu, kelima Marga (Meek, Foor, Renhoran, El dan Rahawarin) memastikan hukum adat yang berlaku di wilayah tersebut, Para nenek moyang (leluhur) serta TUHAN dapat menyelesaikan persoalan ini secara tuntas dan nyata.

Ketika dikonfirmasi Tabloidskandal.com terkait pencalonan Kepala Ohoi serta pengangkatan sumpah adat dimaksud, seorang dari kelima marga ini mengaku bahwa setelah tiga generasi dari keluarga Renhoran/Ohoitawun, maka jabatan Kepala Ohoi Rahareng Atas diambil alih oleh Aleksander Foor yang pada saat itu menjabat sebagai Pejabat sementara karena terdapat kekosongan pada Kursi Kepala Ohoi Rahareng atas.

"Dalam perjalanannya, berdasarkan petunjuk dan Izin dari bapak Yance Tobias Renhoran/Ohoitawun anak dari Kustap Renhoran/Ohoitawun yang tidak berada di tempat maka menunjuk Yustus Ohoiner untuk menjabat sebagai Kepala Ohoi," tutur Melkias.

Setelah Yustus Ohoiner, kembali lagi atas izin Yance Tobias Renhoran/Ohoitawun, menunjuk Welhelem Ohoiner menjadi Pejabat Kepala Ohoi Rahareng Atas," tambahnya.

Melkias membeberkan bahwa setelah Welhelem Ohoiner, Agustinus Ohoiner kembali mengambil alih Kepala Ohoi tanpa pengetahuan Ahli waris Riin Koit (Renhoran/Ohoitawun) dan pada tahun 2014 anaknya bernama Roni F. Ohoiner turut melanjutkan Jabatan tersebut tanpa sepengetahuan Pewaris Kepala Ohoi/ Riin Koit. Renhoran/Ohoitawun).

“Ketika kami mengetahui bahwa kekuasaan itu sudah diserobot oleh orang lain maka, pada tahun 2012, kami berjuang untuk mengembalikan kepada mata rumah yang memiliki hak," jelas Melkias.

Namun perjuangan itu tidak sampai ke tangan penguasa saat itu, karena keterbatasan komunikasi dan koordinasi dari masyarakat kecil. Selanjutnya tepat pada tanggal 27 Mei 2021 dari Foor ub tel melakukan sumpah adat di Vat Larwul (Tempat Hukum Larvul) di Ohoi Rahareng.

"Sesuai sejarah yang kami tahu bahwa sampai sekarang belum ada penyerahan kekuasaan kepada marga lain, selain Renhoran/Ohoitawun." tandasnya.

Menurut pengakuan kelima marga, tujuan dari sumpah ini adalah meminta kepada Hukum untuk melihat bahwa yang benar adalah BENAR dan yang salah adalah SALAH.  

“Duang e, Hukum Nit yamab ubub toran bir e Ib tub Lin Wahid, ne Im do Fo Im liik Tibang loak, Im ikbo Im futuir afa sa in tub fo sa, aka Ken in tub fo Ken. Im ikbo imkai hir inbe ni Kuas naa Ohoi i. imdo fo im liik en be fel ni Kuas i Wahaid, om naa Hukum enfit, om tef tal naa rir rahan Rin raan, en hov ni lisan tu man, Raat wel." ungkapnya dalam bahasa daerah.
Danny
Berita Terkait
Berita Lainnya