,
25 April 2020 | dibaca: 398 Kali
Tanah Perhutani Diserobot Di Alas Tengah Sumbermalang Program RHL pun Gagal Total
noeh21

Banyuwangi, Skandal

Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang diluncurkan pemerintah pusat melalui Perhutani di wilayah Kabupaten Situbondo pada tahun lalu diindikasi gagal sejak perencanaan. Hal itu dikatakan Ketua Umum LSM SITI JENAR Eko Febrianto

”Menurut pengamatan kami di lapangan program RHL di desa Alas Tengah Kecamatan Sumber malang kabupaten Situbondo itu gagal karena lahan / Hutan yang menjadi target penghijauan tersebut beralih fungsi dan beralih nama menjadi tanah pribadi /  bersertifikat ,” kata Ketua umum LSM SITI JENAR ( Situbondo Investigasi jejak kebenaran) kepada wartawan di Situbondo, Jum'at (24- April 2020).




Menurutnya progam tersebut dianggap gagal total karena Perum Perhutani KPH Bondowoso tidak mengetahui kalau tanahnya diserobot warga dan berubah status kepemilikan menjadi milik perorangan sejak diikut sertakan pada program PRONA dari tahun 2016 - 2017.

​​​​​​Dan beralihnya status tanah negara Kesatuan Republik Indonesia ini tak lepas dari keterlibatan para cukong cukong tanah. Oknum pemerintah desa. Bahkan oknum oknum Markus (Makelar Kasus) level atas di Situbondo ini, dengan hasil pelaksanaannya yang direncanakan oleh Perhutani seperti yang kita ketahui bersama menjadi GATOT alias Gagal Total.

”Indikasi gagalnya dari awal karena areal 
target penghijauan tersebut sudah 
beralih status dan sangat kelihatan akan terjadi kegagalannya. Akan tetapi mengapa 
daerah dalam hal ini KPH PERHUTANI kok menyetujui ? Nah ini yang juga kita patut  untuk dipertanyakan.

Ketua umum LSM Siti Jenar juga menulis surat resmi ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  melaporkan ke pihak Divisi Regional perhutani Jatim untuk turun dan mengecheck langsung kebawah karena program RHL di Desa Alas Tengah Kecamatan Sumbermalang Kab Situbondo ini sangat berpotensi menimbulkan kerugian Negara. Eko pun menambahkan kami menyampaikan ini Tentunya dibarengi dengan berbagai bukti, fakta lapangan dan data yang benar-benar akurat. Ini juga menyangkut upaya Pemulihan Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah rusak" ujar Eko

Eko juga berharap alangkah baiknya Pemerintah sebagai pemilik anggaran segera melakukan Evaluasi dengan melibatkan Tim Independen. Tujuannya untuk membuktikan apakah program RHL tersebut layak diteruskan atau tidak. Jangan sampai milliyaran Uang Negara menguap tanpa hasil (Mubadzir). 

"Apalagi ini program pemulihan Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sangat penting. Jangan sampai Uang Negara terus keluar, tapi disatu sisi kerusakan lingkungan tidak ada perbaikan yang signifikan. Bahkan semakin parah karena ulah perambah hutan yang tidak bisa dihentikan oleh mereka yang diberi amanah sebagai penjaga hutan dan sungai itu," terangnya.

Sebelumnya juga sempat diberitakan, di beberapa media kalau Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang diluncurkan pemerintah melalui Perhutani KPH Bondowoso yang meliputi 2 kabupaten yaitu Situbondo dan Bondowoso ini, diindikasi banyak kegagalan dan berpotensi besar Merugikan Negara dan Masyarakat juga Perhutani itu sendiri. apalagi ditambah permasalahan banyak tanah Negara yang dikelola Perhutani berubah kepemilikannya menjadi milik oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. salah satu contoh gamblangnya seperti yang terjadi di Desa Alas Tengah Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo ini. 

Kami juga sangat berharap  Semoga Rekan-rekan di "Teritorial dan Legal" bisa segera memecahkan masalah ini agar masalah / problem Desa Alas Tengah Kec. Sumbermalang Kab. Situbondo ini segera dapat teratasi. Itu harapan Saya.
Pungkas Eko.

Terpisah dengan Ketum LSM Siti Jenar, Ketum LPLH Kabupaten Situbondo, Ilham Fahruzi mengatakan, Tanah, Air, Udara adalah milik Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dilindungi oleh UUD 1945 maka kami siap membela dan mempertahankannya, bagi kami NKRI Harga Mati, disini tidak ada harga tawar-menawar lagi, sejengkal tanah milik Negara harus diperjuangkan dan dipertahankan serta apapun resikonya." terangnya

Ilham Fahruzi selaku Ketum LPLH melanjutkan pernyataannya, " Rawe-Rawe Rantas , Malang-Malang Putung , Sikat habis pengganggu kelestarian lingkungan hidup NKRI." Tegasnya.(MS) Perhutani Di Serobot Di Alas Tengah Sumbermalang Program RHL pun Gagal Total

Tabloidskandal.com, Situbondo~ Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang diluncurkan pemerintah pusat melalui Perhutani di wilayah Kabupaten Situbondo pada tahun lalu diindikasi gagal sejak perencanaan. Hal itu dikatakan Ketua Umum LSM SITI JENAR Eko Febrianto

”Menurut pengamatan kami di lapangan program RHL di desa Alas Tengah Kecamatan Sumber malang kabupaten Situbondo itu gagal dikarenakan lahan / Hutan yang menjadi target penghijauan tersebut beralih fungsi dan beralih nama menjadi tanah pribadi /  bersertifikat ,” kata Ketua umum LSM SITI JENAR ( Situbondo Investigasi jejak kebenaran) kepada wartawan di situbondo, jum'at (24- April 2020).

Menurutnya Progam tersebut dianggap gagal total karena perum perhutani KPH Bondowoso tidak mengetahui kalau tanahnya di serobot warga dan berubah status kepemilikan menjadi milik perorangan sejak diikut sertakan pada program PRONA dari tahun 2016 - 2017. Dan beralihnya Status tanah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tak lepas dari keterlibatan para cukong cukong tanah. Oknum pemerintah desa. Bahkan oknum oknum Markus (Makelar Kasus) level atas di Situbondo ini, dengan hasil pelaksanaannya yang direncanakan oleh Perhutani seperti yang kita ketahui bersama menjadi GATOT alias Gagal Total.

”indikasi gagalnya dari awal karena areal Target Penghijauan tersebut sudah b
Beralih Status dan sangat kelihatan akan terjadi kegagalannya. Akan tetapi mengapa 
Daerah dalam hal ini KPH PERHUTANI kok menyetujui ? nah ini yang juga kita patut  untuk dipertanyakan.

Ketua umum LSM Siti Jenar juga menulis surat resmi ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  melaporkan ke pihak Divisi Regional perhutani Jatim untuk turun dan mengecheck langsung kebawah karena program RHL di Desa Alas Tengah Kecamatan Sumbermalang Kab Situbondo ini sangat berpotensi menimbulkan kerugian Negara. Eko pun menambahkan kami menyampaikan ini Tentunya dibarengi dengan berbagai bukti, fakta lapangan dan data yang benar-benar akurat. Ini juga menyangkut upaya Pemulihan Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah rusak" ujar Eko

Eko juga berharap alangkah baiknya Pemerintah sebagai pemilik anggaran segera melakukan Evaluasi dengan melibatkan Tim Independen. Tujuannya untuk membuktikan apakah program RHL tersebut layak diteruskan atau tidak. Jangan sampai milliyaran Uang Negara menguap tanpa hasil (Mubadzir). 

"Apalagi ini program pemulihan Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sangat penting. Jangan sampai Uang Negara terus keluar, tapi disatu sisi kerusakan lingkungan tidak ada perbaikan yang signifikan. Bahkan semakin parah karena ulah perambah hutan yang tidak bisa dihentikan oleh mereka yang diberi amanah sebagai penjaga hutan dan sungai itu," terangnya.

Sebelumnya juga sempat diberitakan, di beberapa media kalau Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang diluncurkan pemerintah melalui Perhutani KPH Bondowoso yang meliputi 2 kabupaten yaitu Situbondo dan Bondowoso ini, diindikasi banyak kegagalan dan berpotensi besar Merugikan Negara dan Masyarakat juga Perhutani itu sendiri. apalagi ditambah permasalahan banyak tanah Negara yang dikelola Perhutani berubah kepemilikannya menjadi milik oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. salah satu contoh gamblangnya seperti yang terjadi di Desa Alas Tengah Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo ini. 

Kami juga sangat berharap  Semoga Rekan-rekan di "Teritorial dan Legal" bisa segera memecahkan masalah ini agar masalah / problem Desa Alas Tengah Kec. Sumbermalang Kab. Situbondo ini segera dapat teratasi. Itu harapan Saya.
Pungkas Eko.

Terpisah dengan Ketum LSM Siti Jenar, Ketum LPLH Kabupaten Situbondo, Ilham Fahruzi mengatakan, Tanah, Air, Udara adalah milik Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dilindungi oleh UUD 1945 maka kami siap membela dan mempertahankannya, bagi kami NKRI Harga Mati, disini tidak ada harga tawar-menawar lagi, sejengkal tanah milik Negara harus diperjuangkan dan dipertahankan serta apapun resikonya." Terangnya

Ilham Fahruzi selaku Ketum LPLH melanjutkan pernyataannya, " Rawe-Rawe Rantas , Malang-Malang Putung , Sikat habis pengganggu kelestarian lingkungan hidup NKRI." Tegasnya.(MS)
Berita Terkait
Berita Lainnya