Mengenal Lebih Dekat Raja Malem Tarigan, Sang Sosok Visioner
Kamis, 09 April 2026 | Dilihat: 1056 Kali
Tabloidskandal.com – Jakarta || Nama Raja Malem Tarigan kini menjadi sorotan dalam lanskap pengelolaan aset publik di Ibu Kota. Sejak dipercaya oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada 23 Desember 2025 sebagai Direktur Properti dan Perpasaran Perumda Pasar Jaya, ia memikul mandat besar: mentransformasi wajah pasar Jakarta ke arah yang lebih modern, produktif, dan bernilai ekonomi tinggi.
Penunjukan ini bukan sekadar pengisian jabatan struktural. Di baliknya, tersimpan ekspektasi terhadap figur yang tidak hanya memahami tata kota, tetapi juga mampu menerjemahkan gagasan menjadi eksekusi nyata. Raja Malem hadir dengan latar sebagai perencana kota yang ditempa dalam dunia investasi dan pengembangan kawasan strategis—kombinasi yang jarang dimiliki birokrat konvensional.
Di bawah tanggung jawabnya, terdapat 153 pasar yang tersebar di berbagai sudut Jakarta. Aset-aset ini, sebagian besar berada di lokasi strategis, selama ini lebih banyak berfungsi secara konvensional. Di tangan Raja Malem, arah kebijakannya bergeser: pasar tidak lagi sekadar ruang transaksi, melainkan simpul ekonomi yang dapat dikembangkan secara multipurpose.
Pendekatan yang ia dorong bertumpu pada lima pilar. Mulai dari optimalisasi aset berbasis komersial, pembenahan tata kelola perpasaran, hingga revitalisasi fisik pasar agar selaras dengan kebutuhan masyarakat urban. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kelancaran distribusi perdagangan sebagai bagian dari ketahanan pangan, serta membuka ruang investasi baru melalui pengembangan properti berbasis campuran.
Gagasannya sederhana namun progresif: aset pasar harus bekerja lebih produktif. Tidak hanya sebagai tempat jual beli, tetapi juga sebagai ruang ritel modern, fasilitas publik, hingga potensi hunian yang terintegrasi.
Jejak pemikirannya dapat ditarik ke belakang, saat ia bertugas di Badan Pengelola Otoritas Danau Toba. Di sana, ia memimpin pengembangan kawasan Toba Caldera Resort, sebuah proyek strategis nasional yang menuntut kemampuan orkestrasi investasi sekaligus pengelolaan kawasan wisata.
Selama hampir lima tahun, ia mengawal pengembangan lahan seluas 386 hektar menjadi kawasan pariwisata terpadu—dari hotel, glamping, hingga fasilitas pertunjukan. Ia tidak berhenti pada tahap promosi, tetapi memastikan investasi benar-benar terwujud. Kehadiran investor seperti Nimoland Group dan Bobobox menjadi penanda keberhasilan pendekatan tersebut, termasuk operasional Bobocabin dengan tingkat hunian yang tinggi.
Pengalaman itu memperlihatkan satu benang merah: bagi Raja Malem, investasi harus berujung pada realisasi, bukan sekadar komitmen di atas kertas.
Di luar jabatan formal, kiprahnya juga terlihat dalam organisasi profesi. Ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia dan aktif di berbagai jejaring perencanaan serta real estat, termasuk di Realestat Indonesia. Posisi ini menempatkannya sebagai figur yang menjembatani dunia teknokrasi, kebijakan, dan investasi.
Kini, tantangan terbesarnya berada di Jakarta—sebuah ruang yang jauh lebih kompleks dibanding kawasan pengembangan baru seperti Danau Toba. Di sini, ia berhadapan dengan dinamika sosial-ekonomi yang hidup: pedagang, konsumen, hingga persoalan klasik tata kelola pasar.
Namun justru di situlah relevansi pengalamannya diuji. Transformasi Pasar Jaya tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik, melainkan juga pembenahan ekosistem. Menghubungkan pasar tradisional dengan tuntutan gaya hidup modern menjadi pekerjaan yang membutuhkan keseimbangan antara visi dan sensitivitas sosial.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Raja Malem Tarigan terletak pada kemampuannya mengubah aset menjadi nilai. Bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi daerah melalui peningkatan pendapatan, serta bagi masyarakat sebagai pengguna utama.
Di titik ini, sosok Raja Malem Tarigan tidak sekadar administrator. Ia tampil sebagai arsitek perubahan—seorang visioner yang diuji bukan oleh gagasan, melainkan oleh kemampuannya mewujudkan gagasan itu di lapangan.
(Red)