Tutup Menu

Memecah Data SILO, Dishub DKI Integrasikan Data Transportasi Real-Time

Kamis, 20 Agustus 2026 | Dilihat: 321 Kali
    
Jakarta – Tabloidskandal.com  – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan mulai memecah tembok data Silo di sektor transportasi. Lebih dari 35 sumber data dari MRT, TransJakarta, LRT, KRL, terminal hingga APILL kini diintegrasikan dalam satu dashboard berbasis real-time.

Inovasi ini digagas Pusdatinhub Dishub DKI Jakarta dengan nama “Optimalisasi Dashboard Integrasi Data Transportasi Berbasis Real-Time untuk Mendukung Pengambilan Keputusan Strategis”.


Listiyaning H., Kepala Pusdatinhub Dishub DKI menjelaskan, tantangan utama bukan kekurangan data, tapi bagaimana membuat data yang tersebar bisa dipakai cepat.

“Selama ini data ada di platform berbeda-beda. Validasi masih manual. Integrasi lintas moda belum optimal. Ini menghambat kita melihat kondisi mobilitas secara utuh,” ujar Listiyaning.

Untuk menjawab itu, Dishub DKI menggunakan teknologi API untuk menghubungkan sistem. Tahap awal, dashboard sudah mengintegrasikan data dari PT MRT Jakarta, PT Transportasi Jakarta, dan PT JakLingko Indonesia.

Terkait data KRL Jabodetabek dan LRT Jabodebek, selain di lingkungan Pemprov DKI, Dishub bersinergi dengan Kemenhub untuk memastikan integrasi data berjalan dan terhubung dalam ekosistem mobilitas nasional.



Inovasi ini dibangun di 3 pilar: teknologi, tata kelola, dan kolaborasi kelembagaan.

Manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. Data real-time membuat layanan publik lebih responsif. Pemerintah bisa lebih cepat mendeteksi gangguan, memahami pola mobilitas, dan mengambil keputusan.

Lebih jauh, data ini dibuka untuk akademisi sebagai research infrastructure. Bisa dipakai untuk meneliti efektivitas integrasi antarmoda, prediksi permintaan, hingga hubungan kecepatan lalu lintas dengan konsumsi energi.

Kementerian ESDM dan Jasa Raharja juga disebut sebagai calon pengguna. Data mobilitas bisa dikawinkan dengan data BBM untuk transport-energy intelligence. Sementara Jasa Raharja bisa menggunakannya untuk memetakan titik rawan kecelakaan.

Listiyaning menegaskan, keberhasilan tidak diukur dari selesai tidaknya aplikasi.
“Ukurannya: apakah data lebih berkualitas, informasi lebih cepat, keputusan lebih tepat, dan masyarakat dapat pelayanan lebih baik,” katanya.

Model Jakarta ini juga bisa direplikasi daerah lain. Daerah industri bisa integrasikan data logistik. Daerah wisata bisa kaitkan dengan data kunjungan wisatawan.

“Indonesia tidak kekurangan data transportasi. Pekerjaan besar kita adalah memastikan data itu bisa berbicara satu sama lain,” tutup Listiyaning.

(Wahyuning)
 

Dapatkan Info Teraktual dengan mengikuti Sosial Media TabloidSkandal.com