,
23 Oktober 2019 | dibaca: 474 Kali
Kekeringan Semakin Parah, Gubernur Gelar Sholat Istisqa’ Di Alun-Alun Rembang
noeh21
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (blangkon hitam) bersama jajaran menunaikan sholat istisqa’ di Alun-Alun Rembang, untuk memohon hujan, Selasa (22/10).

Rembang, Skandal

Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Jawa Tengah yang dipusatkan di Alun-Alun Rembang, Selasa siang (22 Oktober 2019), diwarnai dengan menggelar sholat istisqa’ atau sholat meminta hujan.

Tampak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur Taj Yasin, Bupati dan Wakil Bupati Rembang ikut sholat istisqa’ di barisan shaf terdepan. Meski di bawah terik sinar matahari, namun jemaah sholat terlihat khusyuk.

Ganjar Pranowo mengatakan sholat sunnah tersebut merupakan bentuk ikhtiar batin dan spiritual, menyusul kekeringan panjang yang terjadi di wilayah Jawa Tengah, termasuk di Kabupaten Rembang. Akibatnya, kesulitan air bersih melanda.

“Mungkin sebagian orang ada yang percaya dan ada yang tidak. Tapi kita yang meyakini itu kita tunjukkan kemarin hari Jum’at di Masjid Agung Jawa Tengah dan turun hujan, maka kita kembali berdo’a semoga diridloi Allah SWT dan turun hujan, “ ungkapnya.

Sebelumnya, ketika upacara Hari Santri Nasional di Alun-Alun Rembang, Ganjar menyebutkan Wakil Presiden, Kiai Ma’ruf Amin berlatar belakang ulama. Di Jawa Tengah, sang Wakil Gubernur, Taj Yasin juga dikenal sebagai santri muda.

“Siapa yang sudah tahu Wakil Gubernur Jawa Tengah, ngacung. Gus Yasin mriki gus, kita tunjukkan ke dunia, bahwa gubernur dan wakil gubernurnya kompak. Wakil Gubernurnya ya kiai, ya santri, jos gandos, “ kata Ganjar mempersilahkan Gus Yasin untuk memberikan sambutan.

Ganjar mendorong supaya santri tidak hanya menekuni ilmu agama, tetapi juga mendalami ilmu-ilmu kekinian, karena perkembangan dunia tekhnologi begitu sangat cepat.

“Seiring kedipan mata kita, clap berubah semua. Semua itu, tidak bisa kita tolak, tidak bisa mengelak. Santri harus berdiri di barisan terdepan peradaban zamanyang berubah ini. Tidak hanya ilmu fiqih yang kita tekuni, tapi e-budgeting, e-commerce, e-learning. Santri harus menguasai ilmu-ilmu mutakhir, “ bebernya.
Kebetulan momentum Hari Santri Nasional tahun ini sempat ditandai dengan pengesahan Rancangan Undang-Undang Pesantren menjadi Undang-Undang. Artinya, pendidikan pesantren telah disetarakan dengan pendidikan formal. Ganjar berharap pengesahan tersebut memberikan ruang lebih bagi santri, untuk memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa dan negara. (Sutrisno/Rbg).

 
Berita Terkait
Berita Lainnya