,
28 November 2020 | dibaca: 307 Kali
Sidang  Penganiayaan Dalam Agenda Pembelaan Terdakwa melalui Virtual
noeh21
Bojonegoro, Skandal

Sidang yang digelar melalui  sidang virtual dalam kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Teguh Widarta (47) terhadap Sri Andani (52) keduanya berasal dari desa Jati Mulyo kecamatan Tambak rejo kabupaten Bojonegoro masih jalani proses proses persidangan dengan agenda pembelaan terdakwa pada hari kamis 26 Nopember 2020.

menurut terdakwa Teguh Widarta  saat membacakan pembelaan di depan majelis hakim mengatakan bahwa menampar sebanyak lima kali tamparan hingga telinganya sempat berdenging dan keterangan saksi Tambar menurut terdakwa adalah memberi keterangan palsu dengan tujuan memperberat hukuman terdakwa serta menurutnya anak-anak korban telah  menebar ujaran kebencian melalui medsos.
kemudian pihak terdakwa mengharapkan kepada pihak majelis hakim agar mengharapkan keadilan hukum yang seadil-adilnya dan menurutnya masalah ini hanya perkelahian bukan penganiayaan serta pihaknya membela diri ,ungkapnya.

setelah terdakwa membacakan pembelaan kemudian keluar ruangan mendekati anak korban yang bernama Ratna dan putri yang sudah dewasa merasa marah bercampur dengan jengkel karena ibunya dianiaya dan mengingat pembelaan yang dibacakan tidak sesuai apa saat yang dilihatnya sendiri saat kejadian di lokasi.

kemudian agenda pembacaan  pembelaan yang dibacakan oleh pihak terdakwa Teguh widarta saat sidang dilihat dan didengar oleh pihak korban langsung sri Andani.

dan saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pembelaan yang dibacakan oleh terdakwa itu adalah tidak sesuai kejadian yang sebenarnya ,kalau pihaknya  mengatakan penganiayaan tersebut dilakukan di tempat takziah , kemudian menurut terdakwa bahwa saksi Tambar dan Sarji memberi keterangan palsu justru sebaliknya bahwa saksi terdakwa memberikan keterangan palsu ,oleh karena menurut korban Sri Andani,saksi terdakwa  Narto setelah diketahui pihaknya memberi keterangan palsu akhirnya melarikan diri, pihak korban berani reka ulang, keluhnya.

dan pihak korban menambahkan bahwa kasus yang dialaminya sama dengan kasus penganiayaan yang terjadi di desa Kalisari kecamatan Boureno pada bulan nopember  2019 dalam kasus yang sama koq dituntut 5 bulan penjara sedangkan pihak terdakwa hanya di tuntut 3 bulan penjara sedangkan 5 kali sidang sedangkan pihaknya 7kali persidangan belum selesai, keluhnya.

sidang dalam agenda mendengar bacaan pembelaan terdakwa dipimpin oleh ketua majelis hakim Unggul Tri Esti Mulyono,SH.MH,Isdaryanto,SH,MH,Sumaryono,SH,MH dan panitera Maya ,SH serta jaksa penuntut umum Bambang Tejo,kemudian sidang dilanjutkan dalam minggu depan 3 desember 2020 yang akan datang,(Bond)
Berita Terkait
Berita Lainnya