,
24 Agustus 2019 | dibaca: 396 Kali
Bursa Inovasi Desa Sebarkan Virus Ekonomi Kreatif 
noeh21
Bupati Rembang Abdul Hafidz bersama Wakil Bupati Bayu Andriyanto bersama isteri Maninjau Salah Satu Stand klaster Asal Desa Pancur yang menampilkan produk inovasi parfum.


Rembang, Skandal

Salah satu eksitensi membangun negara dari pinggiran atau desa ditandai lahirnya Undang Undang Desa.

Sebab, membangun   tidak hanya fisik, namun potensi wilayah dan sumber daya manusianya. Selain infrastruktur, kepentingan umum, membangun ekonomi, juga tidak bisa diabaikan membangun budaya.

"Makanya kami menerbitkan Perbud, salah satunya isinya 30 persen Dana Desa dialokasikan untuk pemberdayaan. Sesuai arahan Presiden Jokowi, kita sudah bergeser dari fisik ke ekonomi," tutur Bupati menyampaikan hal itu dalam acara Bursa Inovasi Desa Claster I Rembang Timur kemari (22/8) di Gedung Pertemuan Soponyono- Sluke.

Menurit Bupati ada tujuh kecamatan yang tergabung dalam klaster I, yaitu wilayah Rembang Timur yakni; kecamatan Sluke, Kragan, Sarang, Sedan, Pancur dan Lasem. 

Hadir di acara itu Bupati Rembang Abdul Hafidz, dan Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, turut mendampingi Kepala Dinpermades Rembang Sulistiyono beserta isteri juga unsur Forkompinda, Forkompincam,  dan Kabid Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinpermades Dukcapil Provinsi Jawa Tengah Nadi Santoso.

Hafidz mengatakan, selain kebijakan yang disesuaikan dengan arah kebijakan pemerintah pusat, juga menekankan pola pikir wilayah jangan sampai terpaku di pariwisata. Namun potensi lain yang ada di desa. Karena potensi yang dimiliki desa berbeda-beda.

“ Inilah yang harus dipahami utuh dan jangan sampai dipaksakan. Bervariasi seperti klaster Pancur yang menampilkan parfum, dan stand lainnya yang menampilkan limbah ternak. Kemudian ada klaster lain juga menampilkan makanan dari daun bambu untuk kripik, kerajinan gypsum serta tempurung kelapa di Sale,” ungkapnya.  

Kepala Dinpermades Sulistiyono mengatakan, melalui pendampingan pihaknya selalu menggali berbagai potensi-potensi yang ada di desa salah satunya melalui Bursa Inovasi desa yang menampilkan sejumlah inovasi kreatif mulai kerajinan, makanan, hingga limbah ternak.

“Diharapkan desa-desa lain yang kurang inovatif bisa meniru dan tahun anggaran 2020 mendatang desa-desa yang berinovasi itu dapat menganggarkan 30 persen anggaran yang bersumber dari Dana Desa untuk pemberdayaan masyarakat,” kata Sulistiyono kepada Skandal.com. 

Sebagai apresiasi, ke depan pihaknya akan memberikan penghargaan kepada tiap-tiap tim inovasi kecamatan yang bersemangat tinggi melakukan pendampingan, termasuk kades-kades yang banyak melakukan inovasi.

Ketua Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Sluke, Arif Sakroni menyampaikan berbagai produk inovasi ditampilkan di wilayahnya. Masing-masing Desa Trahan (bank sampah), Manggar (Tambatan Perahu), Sendangmulyo (limbah tahu), Jurangjero (aesesoris), Pangkalan (Pangkriyes) Jatisari (madin berbasis masyarakat), Labuhan Kidul (Joper bikin basah). 

“Madin gratis berbasis masyarakat ini, kepedulian desa untuk mencetak pemuda berakhlakul karimah,” imbuhnya. (Sutrisno/Rbg).
Berita Terkait
Berita Lainnya