Tutup Menu

Tragedi Stadion Kanjuruhan Harus Diusut Tuntas

Selasa, 04 Oktober 2022 | Dilihat: 1169 Kali
Stadion Kanjuruhan Rusuh (foto istimewa)
    
Pelapor : Ajie Jaruhdin
Editor    : H. Sinano Esha

JAKARTA – Tabloidskandal.com ll  Tidak ada satupun tim olahraga yang ingin kalah, oleh karenanya jangan menyalahkan tim apalagi pemainnya, mereka sudah berusaha namun ternyata lawannya jauh lebih baik.

Demikian ditegaskan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali terkait kerusuhan pasca pertandingan antara Arema FC dengan Persebaya di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang menewaskan sedikitnya133 penonton.

Kerusuhan itu diakibatkan ulah supporter Arema FC yang tidak terima timnya menderita kekalahan 2-3 dari Persibaya. Ratusan suporter merangsek ke lapangan dari tribun secara anarkis, membakar mobil polisi serta fasilitas umum lainnya, dan melawan petugas.

Lantaran dianggap membahayakan, petugas kemudian memukul mundur suporter beringas itu dengan memuntahkan gas air mata. Akibatnya, belasan ribu penonton panik, situasipun jadi rusuh. Sebagian besar tewas terinjak-injak.

Tentu saja peristiwa itu membuat Menpora Amali prihatin, terlebih lagi penyebabnya suporter tak terima tim kesayangannya kalah.

“Ini olahraga, hari ini bisa menang, besok bisa kalah. Saya sangat prihatin atas peristiwa ini. Seharusnya tidak boleh seperti itu. Terlebih penyebabnya lantaran tidak terima tim sepakbola kesayangan kalah,” ujar Amali kepada wartawan, Minggu (2/10/2022).

Atas kejadian itu, Amali berharap pada pertandingan sepakbola berikutnya tak terjadi lagi peristiwa yang serupa. Dan ini perlu adanya edukasi yang baik terhadao supporter agar dapat dimasifkan.

“Seharusnya tak boleh terjadi, pertandingan sepakbola dibebaskan dengan adanya penonton, yang tadinya tanpa penonton. Tapi, tidak dijaga dengan baik,” kata Menpora menyayangkan tragedi berdarah itu terjadi setelah pertandingan sepakbola disaksikan penonton secara langsung.


 
Menpora Zainudin Amali   Advokat Alexius Tantrajaya, SH, M.Hum


Skala Prioritas   

Rasa keprihatinan juga disampaikan advokat senior Alexius Tantrajaya, SH, M.Hum terkait banyaknya nyawa manusia melayang secara sia-sia. Dia pun mengutuk keras ulah suporter brutal, membuat situasi menjadi kisruh dan berdarah-darah.

Menurutnya, situasi itu membuat aparat bertindak tegas. Suka atau tidak suka memang harus dilakukan. Apalagi di antaranya berusaha melawan petugas.

“Jangan salahkan polisi jika terjadi tindakan tegas, mengingat upaya tersebut bersifat pengamanan situasi,” papar Alexius dalam keterangan tertulisnya yang diterima Tabloidskandal.com, Seni (3/10/2022).   

Pada bagian lain anggota organisasi advokat Peradi ini menduga, ada pihak-pihak tertentu memanfaatkan pertandingan Arema FC dan Persebaya menjadi rusuh.

“Bisa saja, kepentingannya untuk mengganggu stabilitas keamanan negara menjelang Pilpres 2024. Kerusuhan ini tidak boleh dianggap sederhana. Polri maupun aparat lainnya harus bisa mengungkapnya, dan menjadikan tragedi ini dalam skala prioritas penyelidikan. Tragedi ini harus diusut tuntas,” saran Alexius.

Diingatkan, bahwa peristiwa Stadion Kanjuruhan terbesar kedua setelah tragedi berdarah di Estadion Nacional Peru pada 24 Mei 1964. Peristiwanya terjadi ketika menggelar babak kualifikasi Olimpiade Tokyo antara tim sepakbola Peru dengan Argentina. Kerusuhan ketika itu memakan korban jiwa sedikitnya 328 orang.

“Sepakbola Inggris pun punya sejarah yang sama, yakni tragedi Hillsborough pada 15 April1989, kerusuhan fans Liverpool dengan Nottingham Forest. Tercata ada 96 nyawa melayang sia-sia,” papar Alexius mengingatkan peristiwa berdarah di dunia persepakbolaan Britania Raya.

Bagi Indonesia, menurut advokat ini, peristiwa Stadion Kanjuruhan merupakan pukulan bagi dunia persepakbolaan. Organisasi sepakbola dunia seperti Federation International Football Association (FIFA) kemungkinan akan mengambil sikap atas tragedi tersebut.

“Sikap FIFA akan diterapkan setelah ada hasil dari pihak penyelidik, atau pihak lain yang independen seperti tim pencari fakta  atas peristiwa Kanjuruhan. Semoga saja sepakbola nasional tetap Berjaya meski diwarnai tragedi memilukan,” pungkas Alexius penuh harap.

Diketahui, Menko Polhukam Prof. Mahfud MD telah mengumumkan dibentuknya Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan, Senin (3/10/2022).

TGIPF berisi 13 orang, terdiri dari pejabat perwakilan kementerian,akademisi, pengamat, organisasi profesi olehraga, dan jurnalis. Presiden Joko Widodo sudah menyetujui.

Susunan TGIPF Tragedi Kanjuruhan:

Ketua : Menko Polhukam Prof. Mahfud MD
Wakil Ketua : Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali
Sekretaris : Dr. Nur Rochmad S.H, M.H (Mantan Jampidum/Mantan Dep. III Kemenko Polhukam)

Anggota

1. Prof. Dr. Rhenal Kasali (Akademisi/UI)
2. Prof. Dr. Sumaryanto (Akademisi/Rektor UNY)
3. Akmal Marhali (Pengamat Olahraga/Save Our Soccer)
4. Anton Sanjoyo (Harian Kompas/Jurnalis Olahraga)
5. Nugroho Setiawan (Eks Pengurus PSSI berlisensi FIFA)
6. Letjen TNI (Purn.) Doni Munardo (Mantan Kepala BNMPB)
7. Mayjen TNI (Purn.) Dr Suwarno (Wakil Ketum KONI)
8. Irjen Pol (Purn.) Sri Handayani (Mantan Wakapolda Kalbar)
9. Laode M Syarif (Eks Wakil Ketua KPK/Kemitraan)
10. Kurniawan Dwi Yulianto (Eks Timnas Indonesia/APPI)



 

Dapatkan Info Teraktual dengan mengikuti Sosial Media TabloidSkandal.com