Tutup Menu

Karya Jurnalis Tabloidskandal.com Sudah Profesional

Jumat, 04 Maret 2022 | Dilihat: 202 Kali
Advokat Senior: Alexius Tantrajaya, SH, M. Hum dan Stefanus Gunawan, SH, M. Hum (foto istimewa)
    
Penulis : H. Sinano Esha

JAKARTA –Tabloidskandal.com ll Dua advokat senior yang juga penasehat hukum Tabloidskandal.com: Alexius Tantrajaya, SH, M.Hum dan Stefanus Gunawan , SH, M.Hum, menilai bahwa karya jurnalistik yang disajikan redaksional Tabloidskandal.com pada tahun 2022 cukup baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut mereka, karya jurnalistik yang dimaksud bukan cuma sebatas perubahan kualitas maupun kuantitas berita, tapi juga tata bahasa jauh lebih baik. Secara teknis, sudah dapat disejajarkan dengan online professional seperti Kompas, Detik, Tempo, Okezone, iNews, Tribune dan lainnya.

 “Sejak awal tahun ini (2022) di Tabloidskandal.com sudah nggak kelihatan lagi bahasa vulgar, serta penulisan yang kurang jelas artikulasinya. Beritanya sekarang ini, sudah memenuhi standar baku karya jurnalis,” kata Alexius,     

Pengacara senior ini berharap agar tim work redaksinya semakin memperkuat kualitas berita yang disajikan, mengingat persaingan di media online begitu ketat. Sebab, setiap saat muncul media portal baru yang siap bersaing dengan online lama.

“Apalagi keberadaan media sosial (Medsos) saat ini, bukan lagi menjadi milik warga kota-kota besar, kecamatan di pelosok daerah pun sudah punya portal berita. Dengan begitu, warga kecamatan sudah bisa memonitor perkembangan dan pembangunan wilayahnya lewat berita di onlinenya sendiri,” papar Alexius.

Ini artinya, kata dia, persaingan telah melebar jauh hingga pelosok daerah. Jika media online tak mampu bersaing, baik secara kualitas penyajian maupun kuantitas volume beritanya, maka secara hukum alam akan ditinggal pergi pembaca. Apabila tak ada pembacanya, dengan sendiri media itu bakal almarhum.

“Banyak media online gulung tikar lantaran tak ada yang baca, dan tak sanggup bersaing. Karena itu, saran saya kepada pengelola Tabloidskandal.com, harus mampu bersaing, tingkatkan kualitas penyajian berita , dan kuantitas volume berita. Juga harus menjaga profesionalisme sumber daya manusianya (SDM). Serta jangan lupa, ini tak kalah pentingnya, harus taat pada ketentuan hukum. Sebab banyak badan usaha media digugat perdata, dan SDM-nya dipidana karena beritanya melanggar aturan hukum,” Alexius mengingatkan.

Kartu Sakti

Hal senada juga dikatakan advokat senior Stefanus Gunawan. Bahkan dia berharap SDM (wartawan) daerah yang lemah terhadap perbendaharaan bahasa, teknis penulisan berita, dan kurang percaya diri ketika berhadapan dengan narasumber, mesti dibekali pendidikan yang memadai.

“Modal seorang jurnalis bukan sekedar pegang kartu sakti, tapi dia harus piawai disegala bidang, banyak baca agar pengetahuan luas, meningkatkan daya kreasi menulis berita, dan yang terpenting harus bersikap profesional,” ujar Stefanus terkait profesi kewartawanan.

Menurut pengacara ini, tidak gampang menjadi wartawan. Hanya orang-orang yang punya talen penyampai informasi yang baik dan benar saja yang pantas jadi juru warta, baik secara lisan (televisi/radio), maupun tulisan (media cetak/online).

“Jika saya disuruh memilih, jadi jurnalis atau pengacara, saya lebih memilih pengacara. Kenapa? Wartawan jauh lebih sulit, karena bukan sekedar melebarkan pengetahuan, tapi juga harus mampu dan profesional dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Nah, untuk urusan penyampaian itu yang saya anggap tidak mudah,” ungkap Stefanus.

Tapi, menurut dia, sejalan berkembangnya media online dalam satu dasa warsa belakangan ini, di tengah masyarakat bermunculan oknum wartawan yang kurang memenuhi standar profesional jurnalis.  Oknum seperti ini biasanya jumawa, melakukan pemerasan, bertingkah buruk, dan sikap negatif lainnya.

Begitu juga dengan media onlinenya, ada yang tidak mencerminkan sebagai piranti penyampaian informasi kepada masyarakat yang baik dan benar. Penggarapannya kurang baik, asal-asalan, dan sangat tidak profesional.

“Harapan saya, Tabloidskandal.com harus terus meningkatkan profesionalisme dan proporsionalnya sebagai portal berita di tengah ketatnya persaingan. Ini memang tidak mudah, tapi tetap harus dilaksanakan agar tak kalah bersaing. Apalagi, menurut catatan saya, ada sekitar 42 ribu Medsos di negeri ini. Konon, yang penyajiannya baik dan benar, di bawah 10 persen,” ujar Ketua DPC Jakarta Barat Peradi SAI.

Dua advokat ini juga berharap agar Tabloidskandal.com melakukan pembinaan dan menjaga hubungan kepada kalangan pengusaha. Dengan begitu, akan memperoleh iklan sebanyak mungkin. Sebab, menurut mereka, selain pengelolaan dan sikap professional SDM-nya, hidup mati online berita adalah pasokan iklan dan advertorial. Jika tak ada masukan finansial, usaha portal berita pun akan wasalam.

Berusaha Lebih Baik

Pimpinan Umum Tabloidskandal.com Taufik Rachman mengapresiasi penilaian dua advokat tersebut terhadap onlinenya. Dan dibenarkan bahwa pengelolaan yang dilakukan sejauh ini masih belum sepenuhnya seperti diharapan banyak pembaca. Tapi dia dan tim worknya akan terus berusaha lebih baik dari sebelumnya.


Pimpinan Umum Tabloidskandal.com Taufik Rachman (foto istimewa)


“Kami berusaha memperbaiki yang kurang, dan meningkatkan yang diangap baik. Mulai tahun 2022 ini kami melakukan perubahan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Itu karenanya, saya minta bantuan rekan saya, wartawan senior dan mantan jurnalis koran ekonomi terkenal Bisnis Indonesia untuk bergabung. Alhamdulilah, yang bersangkutan bersedia bergabung,” kata Ketua Dewan Pengawas Persatuan Wartawan Online Independen Nusantara (PWO IN) yang juga pendiri Ikatan Penulis Jurnalis Indonesia (IPJI).

Perubahan yang signifikan dilakukan adalah meningkatkan profesionalisme SDM. Baik di lingkungan manajemen, redaksional, maupun reporter di lapangan.

Pihaknya tak segan-segan memberikan sanksi pencoretan sebagai jurnalis Tabloidskandal.com jika tak bersedia memenuhi ketentuan dan aturan yang tertulis, baik secara etika, hukum  maupun porsinya sebagai pewarta.

“Mestinya malu pada diri sendiri, mengaku wartawan, pegang kartu pers pula, tapi kelakuannya tak profesional, dan jarang kirim berita. Manajemen membuka pintu upaya wartawan memperoleh iklan atau advertorial di tengah tugasnya sebagai jurnalis. Bahkan kami memberikan fee sebesar 60% dari nominal harga iklan yang diperolehnya. Kami berharap, setiap jurnalis Tabloidskandal.com merasa memiliki portal berita ini, sehingga terjadi saling menghidupi. Tanpa adanya media, wartawan pun akan kehilangan pendapatan,” tegas Taufik.
 

Dapatkan Info Teraktual dengan mengikuti Sosial Media TabloidSkandal.com