,
02 Januari 2021 | dibaca: 73 Kali
MengIndonesiakan Manusia dan Memanusiakan Indonesia
noeh21
Rully Rahadian
Jakarta – tabloidskandal.com
Tahun 2021 telah tiba. Tentunya kita semua memiliki resolusi tertentu yang menjadi harapan kita secara pribadi. Namun disamping itu, sebagai warga negara dan bangsa Indonesia yang baik tentunya kita harus benar-benar berbenah melakukan perubahan, khususnya dalam menyikapi hal-hal negatif yang telah kita lewati di tahun-tahun sebelumnya.
 
Apa saja yang harus kita persiapkan dalam menapaki tahun 2021 ini agar terjadi perubahan mendasar? Pertama adalah kita harus membangun sikap Nasionalisme dalam diri kita sebagai individu. Tidak pernah ada negara maju yang tidak dibangun atas sikap dan pola pikir sebagai seorang Nasionalis. Apalagi negara tersebut sudah kehilangan identitasnya, bahkan bergeser kepada identitas bangsa atau negara lain. Jika hal ini terjadi, kondisi bangsa yang seperti ini sungguh parah. Apalagi bangsa Indonesia yang telah diberi anugrah tanah, air, udara, semua mahluk hidup di dalamnya adalah kekayaan yang luar biasa. Alangkah bodoh dan kerdilnya kita yang tidak bersyukur, malah ingin menjadi bangsa lain.
 
Kedua, bangsa Indonesia adalah bangsa yang berTuhan. Manusia beragama merupakan representasi nilai-nilai keTuhanan di muka bumi, agar manusia selalu bersikap baik terhadap sesama manusia, mahluk hidup lainnya, dan kepada lingkungannya. Manusia beragama adalah manusia yang seharusnya patuh kepada aturan yang terkandung dalam setiap ajaran agamanya. Di dalam ajaran agama apapun, pasti terkandung nilai-nilai kebajikan, sehingga ajaran tersebut mengatur tata cara kehidupan yang baik di muka bumi dan dalam hubungan sosial.
 
Ketiga, kita harus membiasakan diri tidak menilai seseorang dari pangkat, jabatan dan kekayaannya. Indonesia adalah bangsa yang sebagian besar masyarakatnya masih termasuk bermental jongos. tidak memiliki percaya diri dan keyakinan terhadap kemampuannya. Tidak jarang pula tebalik. Sesorang yang merasa berpangkat tinggi, bergelar panjang, berharta melimpah, memandang orang lain lebih rendah daripada dirinya. Sungguh patut dikasihani tipe orang yang seperti ini, karena dalam kehidupan nyata, masih ada langit di atas langit. Penampilan fisik seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan integritas diri yang di dalamnya terangkum nilai-nilai moral, etika, intelektual dan lain sebagainya.
 
Keempat, bangunlah sikap empati kita terhadap orang lain, khususnya yang ada di sekitar kita. Selain untuk menjaga perasaan orang lain yang sedang dilanda kesusahan, sikap empatik ini juga mencegah kecemburuan sosial yang bisa saja berujung kepada tidak kriminal terhadap seseorang yang gemar pamer kekayaan. Apalagi dalam situasi pandemik Covid-19 seperti ini, kesenjangan sosial di Indonesia terbilang cukup signifikan. Banyak daerah perumahan mewah bertetangga dengan perkampungan kumuh yang notabene persoalan makan saja masih menjadi urusan yang krusial. Mungkin ada baiknya kegiatan pamer yang negatif bisa ditranformasikan kepada pamer yang positif, seperti misalnya yang dulunya grup arisan dengan atmosfir yang instagramable, bisa diganti dengan kesepakatan bersama mengumpulkan bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak pandemi. Dilihat di Iinstagrampun tetap kelihatan keren dan masyarakat yang dibantu merasa bersyukur. Bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.
 
Kelima, terakhir tapi yang paling penting kalau masih ingin menjadi bangsa Indonesia. Sejak jaman dahulu kala, manusia Nusantara adalah manusia yang mempunyai sikap toleran dan tenggang rasa. Sejak dahulu, bumi Nusantara dihuni masyarakat yang multikultur. Beragam suku bangsa, adat istiadat dan agama. Hebatnya, tidak pernah ada pertentangan atau perpecahan di dalamnya. Sejak masuknya pengaruh penjajahan dari sistem perdagangan bangsa asing yang ingin menguasai Nusantara karena tahu persis kekayaan yang tekandung di dalamnya, maka porak-porandalah sistem kemasyarakatan berbasis persaudaraan itu. Tugas kita sebagai bangsa Indonesia untuk merangkai kembali keutuhan nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki. Masih belum terlambat, selama kita masih memiliki sikap Toleran dan Tenggang Rasa, dan tetap memiliki pola pikir bahwa Indonesia ini hebat karena keberagamannya.
 
Setelah kita mengamalkan kelima butir hal tersebut dalam keseharian kita, barulah kita layak menjalankan petuah leluhur kita yaitu sikap Saling Asah, Saling Asih, Saling Asuh dan Saling Mengharumkan Satu Sama Lain. Artinya, jika sederhanakan makna kata tersebut, nilai persaudaraan yang sudah dibangun sejak dahulu itu merupakan karakter Manusia Nusantara, Bangsa Indonesia. Tidak ada nilai yang bertentangan dengan kearifan lokal tersebut. Dari sisi Ideologi bangsa kita Pancasila, nilai-nilai moralitas universal, dan dari sisi agama apapun yang ada di Indonesia. Tidak ada satu agamapun yang memiliki nilai kejahatan seperti menjelek-jelekkan agama lain, mempersepsikan buruk suku lain, diskriminasi antar golongan, dan masih banyak lagi. Jadi, siapkah kita mengIndonesiakan manusia yang belum menjadi manusia Indonesia, dan memanusiakan Indonesia yang hingga saat ini masih terasa jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dimana masih terjadi banyak ketimpangan dan ketidakadilan dari berbagai sisi kehidupan? Jawabannya hanya ada pada diri kita sendiri.
 
Rully Rahadian
Ketua 1 DPP MIO Indonesia

 
Berita Terkait
Berita Lainnya