,
19 Agustus 2019 | dibaca: 458 Kali
Catatan Pinggir CoWas JP
BISNIS JURNALIS DIGITAL
noeh21

Oleh M.Mufti Mubarok CEO Media Dosen

Cangkruan akbar dan reuni CoWas Jawa Pos dengan tema tetep nulis sampek matek, sak Dulur sak lawase, akhirnya memilih Ketua Baru Cak Sukoto, mengantikan Dhimam Abror . 

Sukoto tepilih setelah bersaing dengan Bang Haji Surya Aka dan  Ustad Fery M  di Hallo Surabaya.

Cowas JP  telah mengingatkan kisah   bekerja di media cetak yang minim teknologi komunikasi, komputer masih pakai program Dos, mesin ketik dan fax serta pager .HP belum ada.

Namun bekerja di Jawa Pos waktu itu memang sangat membaggakan. Terkesan gagah  jadi wartawan atau karyawan bagian apa pun di JP . 

Sebab koran nomer satu di Jatim dan nomer 2 se Indonesia adalah kebanggaan.
Persaingan media saat itu masih belum sebanyak sekarang. Kadang kalau di jalan kena tilang polisi, bilang dari Jawa Pos bisa lolos. Bahkan di kasih hormat. Padahal hanya bilang dari Jawa Pos. Polisi langsung tahu diri. Polisi tidak tanya kerja di JP bagian apa?

Sejarah koran besar ini berawal dari kantor di Kembang Jepun, yang merupakan cikal bakal koran satu becak, sebutan oplah yang masih kecil.

Adalah Pak T pendiri JP dan kemudian di lanjutkan Pak Erik Samola. JP  kemudian pindah Ke Karah Agung. 

Dari Karah Agung yang dikenal kantor Suejuk inilah JP berkembang. Maklum ada kolam ikan, ada suara jangkrik dan ada kesunyian pagi. Namun malam hari ratusan wartawan dan karyawan yang terkenal dengan sebutan karyawan kalong, artinya hidup malam dan pagi nya bangsawan ( bangsane tangi awan) itu gaya hidup wartawan. 





Waktu di Karah Agung wartawan, iklan, marketing , cetak dan anak anak perusahaan masih gruntel jadi satu di Karah Sgung 45. Kita masih ingat pak Dahlan Iskan masih naik motor saat jadi   redaksi, dibantu Sholikin H. Margiono, Abror, Joko Dusilo,  dll . Arif  Afandi masih di Yogya saat itu.
 Karah lah tempat awal kebangkitan Jawa Pos,  di Karah banyak lahir koran koran, tabloid, majalah dan buku buku. Memang waktu itu media cetak menjadi primadona dan Jawa Pos booming. Karena internet belum menjadi momok media cetak.  

Perang teluk, jatuhnya Marcos di Pilipina, dan jatuhnya Soeharto, jadi berita yang ditunggu-tunggu Bahkan ada banyak tabloid yang oplahnya bisa ratusan ribu. Contoh tabloid oposisi, tablodi X file, Majalah Liberty dan tabloid tabloid politik waktu itu tumbuh subur.

Ada Golden Moment di Jawa Pos. Saat reformasi meskipun JP sempat goyah karena krus dollar, tapi di tangan Dahlan Iskan  dan Himawan Masyuri yang luar biasa JP berkembang pesat hingga bisa melahirkan TV dan Graha Pena di mana mana.

Di tangan Dahlan  Iskan dan para tokoh tokoh muda, JP bisa sangat bertumbuh melampaui targetnya.

Namun JP grup sekarang telah beda, karena situasi jurnalis digital dan era medsos yang mewabah. Jurnalis Nitizen berkembang pesat dan media cetak tergulung dengan sendirinya.

Kini para pendiri dan para perintis kebesaran JP telah pangsiun . Namun alumni JP memang masih hebat hebat karena tempaan JP keras dan bonek cerdas.

Alumni JP kalau kerja atau jadi pengausaha banyak yang sukses. Karena jurnalis itu sebenarnya  jalan menjadi sukses berbisnis. Bisnis apapun. Jurnalis adalah orang cerdas dan kreatif. Tinggal di salurkan ke dunia bisnis. Dan masa depan jurnalis milinial digital akan menjadi "Nabi baru" di dunia media tanah air.

Salam sukses jurnalis digital dan etrepreneuship. Selamat Cowas JP dan kebangkitan media digital.    
                  
* Penulis adalah Dewan Pembina PWOI *
Berita Terkait
Berita Lainnya