,
27 Desember 2019 | dibaca: 639 Kali
Mengembalikan Eksistensi Pemuda dalam Peranannya selaku Anak Negeri.
noeh21
Tabloid Skandal bsesama Azandri Ketua DPRD Mura


Musi Rawas Skandal,

Pemuda sebagai agen perubahan serta agen sosial harus menjadi tonggak utama dalam peranannya membangun bangsa dan negara.

Dalam sejarahnya pemuda pernah bersama-sama untuk merumuskan suatu kesepakatan untuk mempersatukan adalah sebuah jati diri.

Demikian dikatakan Amir Hamzah kepada Skandal di kantornya Kamis(25/12/19). Lelaki yang lebih akrab dipanggil Kuyung Amer Sekwan, kini masih menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan.

Ketua DPRD Muba

Menurut dia, melihat dari historisnya, maka tidak ada alasan bagi pemuda saat  ini harus mampu memilih dan memilah hal-hal apa saja yang berpotensi untuk menciptakan sebuah persatuan. "Hal-hal apa saja yang berpotensi untuk menciptakan perbuatan tercela yang akan berdampak kepada perpecahan," kata Amir. 

Dia tidak dapat membayangkan apabila pihak yang harusnya menjadi tumpuan bangsa, malah tidak dapat menjadi tauladan terhadap masyarakat luas. 

"Mau dibawa kemana bangsa ini? Akankah kita sebagai pemudah hanya pasrah dan berdiam diri saja," tuturnya.

Hal senada dikatakan Azandri Ketua DPRD Mura. Menurutnya,  kita dapat belajar dalam menjawab tantangan, khususnya dalam permasalahan disintegrasi bangsa, pemuda menjadi pionir terdepan untuk kemajuan Musi Rawas mendatang.

"Pemuda milenial sekarang ini harus selalu mengingat akan sejarah yang sudah pernah dilakukan oleh pemuda-pemuda sebelum kemerdekaan. Mereka mampu membuahkan sebuah nilai kesatuan ditengah-tengah berbagai latar belakang identitas yang melekat dalam diri mereka," tuturnya.

Karena itu, lanjutnya, anak muda saat ini harus lebih aktif menyuarakan akan pentingnya persatuan. Pemuda harus mencegah benih-benih yang dianggap akan memunculkan konflik horizontal di kalangan masyarakat.

Bentuk-bentuk usaha yang dilakukan pemuda, lanjutnya, misal dapat berupa pendidikan multikultural terhadap masyarakat, sossialisasi akan pentingnya toleransi kepada warga khususnya bagi masyarakat yang masih menggap identitasnya sebagai identitas yang paling tinggi dibanding budaya lain yang ada disekeliling kita.

Bahkan pemuda harus peka terhadap kebijakan-kebijakan yang ditawarkan oleh pemerintah yang mewadahi kelompok masyarakat untuk memberikan pencerdasan pentingnya toleransi. 

"Sebagai pemuda kita juga harus kritis dan ikut mengambil peran untuk rancangan kebijakan pemerintah yang populis khususnya mengenai ideologi bangsa," ujarnya.

Pemerintah saat ini, dinilainya memiliki program penanaman nilai-nilai ideologi Pancasila yang disebut dengan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Nah di sini pemuda harus mengambil peran untuk melihat sejauh mana keseriusan pemerintah dalam mensosialisasikan program ini? Apakah program ini diterapkan secara masif, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya memang benar-benar sudah mencerminkan paham dari Pancasila itu sendiri. 

Upaya lain yang juga dari pemerintah seperti keterampilan hidup dalam kurikulum sekolah nasional mempresentasikan pengertian-pengertian hidup berdampingan tentang pemuda sebagai harapan bagi bangsa dan masyarakat.

Semangat juang sumpah pemuda yang telah mampu menciptakan sejarah dalam mempersatukan bangsa. Belajar dari para pemuda pendahulu kita maka kita juga harus optimis akan mampu menghadapi tantangan pada era sekarang ini. 

"Maka dari itu pemuda pada era milenial ini harus mampu mencari jalan keluar gejolak atas apa yang dihadapi bangsa kita hari ini. Isu sara yang menjadi permasalahan yang sangat fundamental atas kemajemukan latarbelakang masyarakat Indonesia. Dimana berbagai ujaran kebencian yang berbau sara itu sangat krusial bertebaran di  media sosial," tuturnya menyebut tantangan itu yang seharusnya dijawab oleh kaum pemuda bangsa ini.

"Intoleransi dan krisis jatidiri kebangsaan menjadi bahan refleksi bagi kita untuk memahami pentinganya rasa saling menghargai dan mencintai kepribadian sebagai satu bangsa. Sikap tidak mau menjalin komunikasi dalam sebuah komunitas yang berbeda menjadi sebuah hal kecil yang harus kita rubah. Ketika kelompok kita ingin dihargai maka kita terlebih dahulu menghargai komunitas lain. Pendidikan karakter dengan tujuan membentuk suatu moral dikesampingkan akibat rasa untuk saling menerima akan perbedaan itu. Peran pemuda sangat dibutuhkan," ujar Azandri.

Toleransi dan persatuan menjadi modal utama yang harus dipahami secara meluas oleh bangsa Indonesia.  Pemuda harus memunculkan kembali rasa solidaritas tinggi,vdi mana  dalam kesempatan ini hadir para pemuda Rehan Akil,Tose,dan kawan- kawan ikut dialog bersama .(ed).
Berita Terkait
Berita Lainnya