Lagi, Objek Wisata Batik Akar Kartini Senilai Rp. 7 Miliar Diresmikan
Jumat, 18 September 2020 | Dilihat: 712 Kali
.
Rembang Skandal
Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, SE. bersama Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) meresmikan Obyek wisata Taman Batik Akar Kartini (TBAK), yang berada di Desa Bulu Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang, Kamis (17/9/2020) kemarin.
Diacara ini, Bayu mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar Raden Ajeng (RA) Kartini yang berperan aktif ikut serta dalam proses terwujudnya destinasi wisata yang akan memperkuat ikon RA Kartini sebagai salah satu tujuan wisata di kabupaten Rembang.
Destinasi wisata ini sangat menginspirasi. Sebagai contoh, Desa Bulu saat ini dipimpin oleh kades wanita yang sangat luar biasa dan dapat memberikan prestasi yang bagi pembangunan Pemerintah Kabupaten Rembang (Pemkab) Rembang pada khususnya.
“Ini adalah moment yang sangat luar biasa. Saya sangat bangga atas munculnya penerus Kartini. Yang tak lain adalah kepala Desa Bulu, Suharyati yang telah memberikan inspirasi luar biasa kepda masyarakat sekitar. Ikut membangun Rembang menjadi lebih baik. Untuk kedepannya, stakeholder maupun dinas terkait, akan memberikan bantuan agar lebih maju dan berinovasi lebih baik,” papar wabub dalam sambutannya.
Kepala Desa Bulu Suharyati mengatakan, taman seluas 1 hektar ini terdapat joglo sekaligus resto yang didalamnya terpajang galeri batik tulis Matoh dan display aneka meja kursi dari akar pohon jati. Di luar juga terdapat aneka ratusan tanaman bunga termasuk bunga Celocia yang menarik dan pepohonan besar yang meneduhkan.
“TBAK berawal dari visi dan misi Desa Bulu untuk menciptakan Destinasi Wisata. Dalam rangka untuk lebih menghargai dari ikon RA Kartini. Ingin membuktikan figur perempuan dapat merubah apapun. Dan merupakan bukti nyata bahwa seorang perempuan juga bisa mendorong pembangunan daerahnya,”
Dia menyebut, total anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan obyek wisata tersebut senilai kisaran Rp. 7 miliar. Menggunakan anggaran pribadi sang Kades, disokong Dana Desa dan iuran warga setempat.
“Kita bangun perlahan, ada edukasi batik, edukasi akar, edukasi tanaman, nanti juga ada wahana outbond sedang proses. Total Rp.7 miliar. Terkait dana pemasukan, sistemnya bagi hasil antara keluarga pribadi, dengan pihak Desa, tapi dipertimbangkan dulu untuk pengelolaan, “ imbuhnya.
Salah satu keluarga keturunan langsung RA Kartini, Hudaya menjelaskan, lahirnya ide TBAK berawal pada keinginan pengembangan obyek makam RA Kartini supaya lebih menarik bagi wisatawan. Keberadaan makam pahlawan nasional ini telah menginspirasi membangun efek multipliyer guna meningkatkan taraf hidup masyarakat.
“Kita memanfaatkan potensi yang ada di Desa Bulu seperti makam, Batik Tulis dan Akar sebagai icon menarik TBAK,”ujarnya. (Sutrisno/Rbg).