,
28 Agustus 2019 | dibaca: 1750 Kali
9 LSM Pati Surati Kapolri Terkait Pungli Makelar Tanah
noeh21
Para aktivis di kantor desa


Skandal, Jateng

Kalangan aktivis  Pati yang tergabung dalam 9 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mulai gerah menyusul kasus Pungli di Desa Mangunrejo, Kecamatan Margorejo diam di tempat.

"Rencananya kami mengirim surat   kepada Kapolri terkait tidak ada respon dari aparat penegak hukum," ungkap Sunandar. 

Dia mengaku telah selesai membuat konsep laporannya. "Iya ini atas kesepakatan bersama dengan teman teman lembaga yang berjumlah 9 LSM. Surat itu sudah di tanda tangani semua, tinggal kirimkan kepada Kapolri," ujar pria gendut dua anak ini.


Anton Sugimin

Selain Kapolri, surat juga ditujukan kepada Jaksa Agung.

Sunandar berharap tidak usah terburu buru selama bukti bukti, pengakuan dan pernyataan korban pungli benar benar bersikap jujur.

"Yang penting bukti bukti dan pengakuan korban korban lain yang tidak hanya warga Jajar itu masih kuat untuk alat bukti dan pernyataan korban korban lain yang siap di mintai keterangan oleh penyidik," terang Sunandar.

Sementara Anton Sugiman, koordinator 2 pegiat anti korupsi Pati meradang soal atribut  aktivis yang hanya isapan jempol belaka dalam rangka mendukung dan mendorong kinerja penegak hukum.

Menurut mantan Kasubag Humas Kabupaten Pati ini, para aktivis yang suka gembar gembor sapu pungli, ganyang pungli  seperti di Desa Wangunrejo, kok malah diam. Di mana jiwa sebagai aktivis dalam membantu masyarakat lemah," ujar pria 4 anak ini yang juga mantan wartawan.

Terpenting, kata dia, 
dalam mengurai suatu perkara itu pelan tapi pasti. "Artinya korban korban pungli itu tidak mencla mencle saat di bantu dengan suka rela."ujarnya.

Joko Suparman mengkwatirkan jika korban pungli nantinya, seperti warga Dukuh Jajar di bantu dengan serius, semangat mereka mengebu gebu setelah diklarifikasi penegak hukum, justru ucapanya berbeda. Tidak komitmen, terlebih ketika yang katanya Saberpungli Jateng datang, malah plin plan keteranganya," ketus Joko agak geram. 

Kasus Pungli, atau Pologoro mencuat, setelah beberapa media online mempostingnya hingga menjadi viral. Apalagi beberapa korban sudah "menyanyi" dikenai Pologoro oleh oknum perangkat desa yang menjadi makelar pembelian tanah Jarum Super.

Namun, "nyanyian" itu tidak membuat persoalannya ke ranah hukum. Malah warga mengikhlaskan Pologoro itu kepada para makelar, hingga sampai berita ini diturunkan kasusnya diam di tempat. (Tim)
Berita Terkait
Berita Lainnya