,
08 Juni 2018 | dibaca: 4308 Kali
Program PTSL Jadi Ajang Bisnis: Wartawan Dapat Jatah Rp 85 juta
noeh21
Wiwik
Skandal pati

Wartawan maupun aktivis yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) jadi bahan pergunjingan masyarakat Pati, Jawa Tengah.

Keduanya dituding terlibat dalam mark up Pembiayaan Pendaftaran Tanah Sistemik Lengkap, atau akrab dengan sebutan PTSL. Biaya Mark up itu dinilai mencekik leher wong cilik.

Puguh

Padahal, sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri -  Agraria dan Tata Ruang/Badan Perrtanahan  Nasional, Menteri Dalam  Negeri, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi  tanggal 22 Mei 2017 dengan nomor : 25/skb/V/2017.nomor:590-3167A tahun 2017 dan nomor:34 tahun 201,  biaya program PTSL hanya Rp 200.000.

Namun fakta di lapangan, peraturan tersebut justru di jadikan bisnis pat gulipat oleh sejumlah oknum wartawan dan LSM.

 "Jujur saya akui saya ikut menangani program tersebut tidak saya lakukan sendirian," ujar wiwik.

Dia juga menuding dalam program PTSL ada anggaran untuk teman teman wartawan sebesar Rp 85 juta. Bahkan lebih uang jatah tersebut untuk pengondisian wartawan wartawan di Pati.

"Sayang uang jatah tersebut di bawa oleh Puguh, oknum wartawan yang hobi mencatut nama rekanya sendiri," ujar Wiwik dengan nada kesal.

Kepada tim skandal.com, Wiwik tak dapat menyembunyikan  geramnya pada Puguh.

"Aku wis paham boos sing nulis dan di share di group fb KAAP ulah dari orang yang sakit hati. Padahal Puguh alias jarot pada tahun 2017 mengerjakan program PTSL di Desa Karang Wotan Pucak Wangi. Puguh justru membawa lari uang sekitar Rp 60 juta. Sedang ketiga temanya Wahyudi, Romi dan Sugeng ditipu. Padahal ketiganya ikut membantu pemberkasan," terang wiwik.

Pria asal kelahiran Desa Blaru Pati ini membenarkan Puguh alias Jarot juga mengerjakan PTSL di Desa Tompe Gunung, desa istrinya. Lagi lagi puguh juga membawa lari uang panitia puluhan juta, sehingga tidak berani pulang ke desanya. Berani pulang dia akan di pukuli rame rame oleh warga," beber Wiwik dengan nada kecewa.

Tak hanya itu. Puguh juga mengatasnamakan wartawan Pati dengan cara meminta uang pengkondisian program PTSL di Kecamatan Batangan Desa Lengkong, Desa Kedalon. Lewat Kepala Desa Lengkong, Puguh justru membawa lari dan menggelapkan uang jatah wartawan Rp 85 juta.

Akibatnya, Puguh alias Jarot di blaklist dari BPN Pati, karena pernah meminta sejumlah uang kepada desa yang mendapat jatah program PTSL dengan modus mengatasnamakan suruhan pejabat BPN Pati.

"Karena ulah dan perilakunya, Puguh di blacklis dari kelompok wartawan Pati.,"ungkap Wiwik blak-blakan.

Sebaliknya, kepada skandal.com yang mengkonfirmasi segala tuduhan tersebut, Puguh mengaku siap buka-bukaan. 

"Begini pak, aku siap buka bukaan. Aku juga siap nekat, siap duel dengan Wiwik. Dia  mencemarkan nama baik saya. Justru secepatnya saya buat laporan," terang  Puguh dengan nada tinggi.

Puguh mengaku hanya sebatas  membantu mengerjakan proses pemberkasan. "Apa yang di tuduhkan itu bohong. Aku juga siap  buka bukaan di hadapan hukum jika hal ini di butuhkan,"ujar Puguh dengan nada tidak gentar atas tuduhan dari Wiwik.

Puguh juga mengaku sudah diskusi dengan tim penyidik Polres Pati dalam hal  membongkar kasus PTSL yang melibatkan rata rata oknum wartawan dan LSM di Pati  yang jadi makelar melacurkan profesinya.

"Di Pati ada dua kelompok jurnalis dari akademisi yang cerdas, dan yang kelompok lain dari asal jadi wartawan.",ungkap Puguh di Gasebo Pragola yang di iyakan oleh Obby dan kawan kawanya.

Anton Sugiman, tokoh jurnalis era 80an mengaku sedih atas maraknya oknum oknum yang menggunakan kesempatan saling berebut rayahan program PTSL. 

"Mereka terlibat semua mulai dari oknum wartawan , LSM, oknum pemerintah desa,hingga oknum BPN sudah  sepakat pat gulipat membodohi masyarakat," ujar mantan Kasubag Humas Pati yang sekarang aktif di LSM PKP.(tim)
Berita Terkait
Berita Lainnya