,
02 September 2019 | dibaca: 338 Kali
Kasus Asrama Mahasiswa Bintuni Penanganannya Belum Terang Benderang 
noeh21

Papua Barat, Skandal

Pembangunan Asrama Mahasiswa Bintuni di Kota Sorong sejak 2015 hingga saat ini masih terkantung kantung. 

Padahal,  pantauan dari Korwil Lembaga Aliansi Indonesia (LAI)  yang melakukan Kunjungan Kerja ke Papua Barat, di  beberapa titik  kota masih ditemukan  masalah. 

Sayangnya sampai sejauh ini kasusnya belum terang benderang.

Contoh kecil, kata Rahakbauw, Asrama Mahasiswa Bintuni di Kota Sorong di mana aparat penegak hukum sudah menetapkan 10 tersangka. Namun hingga saat ini cuma 3 orang yang menjalani hukuman. Sedangkan 7 lainnya  masih berkeliaran sana sini. 

"Jadi timbul suara minor di masyarakat, ada apa di balik semua ini? ungkap Rahakbauw.

Menurut Rahakbauw, bila aparat penegak hukum tebang pilih, maka perkara itu harus ditindaklanjuti hingga tuntas. Apalagi jika ada temuan ketidakberesan, perlu ada sangsi, sehingga bisa menimbulkan efek jera.

Menurut Rahakbauw, bila aparat penegak hukum bekerja tanpa tebang pilih, maka banyak persoalan kasus korup di Papua Barat banyak terungkap, baik di lingkup pemerintah maupun juga para kontraktor.

"Sayangnya "masuk angin" hingga banyak persoalan kasus korup tak bisa dapat terungkap," tegasnya.

Rahakbauw meminta  Polres Sorong  dapat menuntaskan kasus Asrama Mahasiswa Bintuni agar jangan jadi buah bibir masyarakat. 

"Masa kok 10 yang di tetapkan tersangka, tapi kenapa cuma 3 yang di lapas Sorong. Lalu yang 7  kemana? " tanyanya menggelengkan kepala.

Rahakbauw mengingatkan
negara ini adalah negara hukum . 

"Jadi siapapun dia ketika melanggar hukum, harus diproses secara fair play. Kalau di biarkan,  lalu mencari memcari kambing hitam, itu namanya  tidak adil. Semua tidak sama di depan hukum," tuturnya menggelengkan kepala. (MI)
Berita Terkait
Berita Lainnya