,
24 Februari 2018 | dibaca: 209 Kali
Menebak-Nebak Wakilnya Jokowi di Pilpres Mendatang
noeh21
Survei Alvara Research Center menempati duet sipil – militer menempati tertinggi. Maklumlah di Pilpres mendatang politik identitas, hoaxs, isu PKI tetap menjadi jualan yang akan mengoyak kebhinekaan. Di sinilah figur Wiranto dibutuhkan menjaga stabilitas keamanan sebagai pendamping Presiden mendatang.

PDIP kembali mengusung Jokowi sebagai presiden mendatang. Kepastian itu terungkap, ketika partai Moncong Putih Kepala Banteng ini menggelar hajatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Bali, Jumat lalu.

Cuma, siapa pendampingnya, sampai saat ini masih misteri. Sejumlah nama bermunculan. Ada Muhaimin Iskandari, Agus Harymurti Yudhoyono  (AHY), Anies Baswedan, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantanyo, sampai terpidana  penista agama, Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok.

Itu pun belum cukup. Masih ada nama anyar yang mendadak muncul ke permukaan. Siapa? Publik pasti tahu. Dia tak lain Menko Polhukam, Jenderal TNI (Purn) H. Wiranto. Namanya mencuat, tatkala Ketua Umum partai yang didirikannya – Hanura, Oesman Sapta Odang, menunjuk Wiranto sebagai pendamping Jokowi mendatang.


Wiranto dan Ketum Hanura Oso

Pak Wir, begitu sapaan akrabnya, tidak meng-iya-kan, ataupun menolak sodoran dari kader partainya. Ketua Umum PBSI ini hanya ingin fokus menyelesaikan tugasnya sebagai Menkopolhukam, sebuah job yang tidak ringan. Apalagi memasuki tahun politik: Pilkada serentak, disusul Pilpres mendatang.

Banyak menyebut, Pilpres mendatang, rada-rada tegang. Politik indentitas ala Pilkada Jakarta tempo hari diperkirakan tetap mencuat, disusul Hoaxs, isu soal bangkitnya PKI. Belum lagi dominasi investasi negeri Tirai Bambu, seperti halnya reklamasi, menjadi “nyanyian” merdu  yang terus  diotak-atik. Semua itu, bisa mengoyak kebhinekaan yang telah dirajut oleh para Faunding Father  negeri ini.

Sipil-Militer
Tak usah heran, jika Alvara Research Center dalam rilisnya menyebutkan duet pimpinan Sipil – Militer paling disukai, mencapai 93,2 persen.  Sementara perpaduan tokoh nasionalis  sekuler  mencapai 89,9 persen. Jawa dan luar Jawa menempati 82,4 persen, dan tua-muda 84,7 persen.

Dari duet sipil – militer, ada tiga nama yang muncul; AHY, Gatot dan Wiranto. Dari tiga nama itu, maka AHY menempati teratas. Elektabilitasnya mencapai 17,2 persen. Sementara Gatot mencapai 15,2 persen.

Lantas, bagaimana dengan Wiranto? Dalam  survei tersebut, nama Wiranto belum mencuat sebagai pendamping Jokowi.

Tapi, jika dilihat sebagai track record menangani keamanan negeri ini, maka acungan jempol patut diberikan kepada Wiranto. Lihat saja saat krisis politik 1998 lalu. Dia berhasil “memuluskan” transisi dari rezim otoriter ke reformasi hingga saat ini.

Padahal, jika ingin mengambil alih pucuk pimpinan saat itu, kansnya begitu terbuka, mengingat saat itu dia “orang pertama” di institusi tentara negeri ini. Tapi, Wiranto memuluskan  suksesi secara konsitusi dengan mengantarkan BJ Habibie sebagai Presiden RI ke-3.

Begitupun ketika Pilkada Jakarta yang memanas. Mantan Ketua Inkai ini tetap dingin menangani politik identitas yang mencuat. Padahal,  akselerasinya cukup mencuat. Ada jutaan orang yang turun ke jalan. Hasilnya, Pilkada pun berjalan mulus, menempatkan Anies sebagai Gubernur DKI.

Realitas itu, dari sisi duet Sipil-Militer, kans Wiranto tetap mencuat. Apalagi saat ini, reformasi yang keblablasan, membuat banyak pihak merindukan kepemimpinan Soeharto, yang dinilai mampu mensejahterakan masyarakat.  Mampu membuat swasembada beras, sesuatu yang diidamkan masyarakat negeri ini.

Dan, banyak menyebut, Jokowi yang ngebut membangun infrasturuktur negeri ini, membutuhkan stabilitas keamanan. Dia tidak ingin diganggu dengan hoaxs, politik identitas ataupun bangkitnya isu PKI yang menghabiskan energi.

Lagi-lagi, upaya membuat stabilitas negeri ini, Wiranto sangat pantas. Dia punya pengalaman menangani stabilitas keamanan dari mulai Orde Baru hingga Pilkada Jakarta kemarin. (Lian Lubis)
Berita Terkait
Berita Lainnya