,
01 Januari 2018 | dibaca: 254 Kali
Pilpres 2019
Jokowi “Babak Belur” Diserang SARA dan Komunisme
noeh21
Jakarta, Skandal

Menutup akhir tahun 2017, khususnya November-Desember, lembaga-lembaga survei masih menempatkan elektabilitas Presiden Jokowi  tertinggi. Ia meraih kisaran 40-45 persen, mengungguli kompetitornya seperti Prabowo Subianto, Gatot Nurmantiyo, Agus Harymurti Yudhoyono (AHY), ataupun si pendatang baru, Anies Baswedan.

Meskipun unggul, “petugas partai” dari PDIP ini dinilai belum aman. Alasannya, selain belum mencapai 50 persen, dia diperkirakan bakal “babak belur” diserang isyu-isyu SARA.

Bahkan, Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia sudah melihat isyu tersebut sudah dimainkan, sehingga membuat lambannya elektabilitas Jokowi yang belum mencapai 50 persen.

Ray menyakini lambannya elektabilitas mantan Walikota Solo itu terimbas politik suku, agama, ras dan antar golongan di Pilkada DKI Jakarta 2017. Jokowi sering diserang isyu komunisme, hingga tudingan punya orientasi pada perekomomian Cina.

“Isu SARA digunakan untuk kepentingan politik, karena punya dampak signifikan menghancurkan elektabilitas lawan politik,” ujar Ray, seraya menyebut isyu SARA banyak dipakai, lantaran muncul suasana yang melegalkan tindakan politik.

Sekadar contoh, Pilkada DKI lalu. Meskipun Ahok unggul dalam beberapa survai, termasuk tingkat kepuasaan mencapai 78 persen, namun “babak belur” lantaran dihantam isyu SARA maupun politik identitas. Perolehan suara Ahok jauh dibawah tingkat kepuasaan cara kerjanya. Eh, sudah begitu, lelaki asal Bangka ini pun meringkuk di jeruji besi Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Karena itu, Direktur eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi  Chaniagi, menyebut alumni 212 akan menjadi salah satu kekuatan poros penantang Jokowi dalam Pilpres 2019. Dia juga sepakat isyu-isyu umat (SARA) bakal menyerang Presiden Jokowi  dalam Pilpres mendatang.

Apalag sampai saat ini, kesan Jokowi punya jarak dengan agama  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara belum pupus. Capnya sebagai nasional sekuler masih kental.


Ray Rangkuti

“Walau belakangan Jokowi kerap merangkul ulama dan datangi pengajian, kesan Jokowi yang dianggap jauh dari agama itu belum akan hilang,” ungkap  Pangi kepada Tempo.

Profesor Marcus Mietzner dari Universitas Nasional Australia (ANU) juga melihat penggunaan isu agama dan komunisme akan digunakan dalam Pilpre 2019. Lagi-lagi, kasus Pilkada yang memenangkan Anies-Sandy menjadi contoh.

Menurut Marcus, selama ini tak ada calon inkumben kalah saat punya tingkat kepuasaan mencapai 78 persen. “Dan Ahok punya tingkat kepuasaan sebesar itu. Tapi dia kalah,” ungkapnya saat diskusi dalam Sekolah Tinggi Hukum, April 2017 lalu.

Sementara PDIP, selaku pengusung Jokowi, menyatakan siap menghadapi terpaan isu berbau agama dan ras di Pilpres mendatang. Bahkan, lewat kadernya Budiman Sudjatmiko, membantah tudingan terhadap Jokowi sebagai nasionalis sekuler.

Budiman menilai tudingan macam itu merupakan politisisasi agama oleh kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pribadinya. Ia juga menyebut partainya sudah mengindentifikasi  kelompok mana saja yang kerap menyerang PDIP dan Jokowi dengan isu agama.

“Suatu saat nanti akan dibuka,”jelas Budiman, tanpa mau menyebutkan pihak-pihak mana yang menjadikan isu SARA  maupun politik identitas sebagai senjata pamungkas. (ian)
 
Berita Terkait
Berita Lainnya