,
11 Januari 2018 | dibaca: 412 Kali
Dukung Ganjar, “Mahar” Politik SBY “Kawinkan” Jokowi-AHY
noeh21
Dukungan Demokrat ke Ganjar di Pilgup Jateng bukanlah sekadar cek kosong. Tapi berlanjut ke Pilpres mendatang. Setidaknya mensandingkan Jokowi – AHY.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Benarlah kata orang, politik itu selalu dinamis. Tak ada teman maupun lawan yang abadi, kecuali hanya kepentingan belaka. Lihat saja perseteruan Demokrat dengan PDIP. Di Jawa Tengah, keduanya menjalin kemesraan: sepakat mengusung Ganjar Prannowo –  Gus Taj Yasin, putra  ulama kondang KH Maimun Zubair yang juga Ketua Dewan Syuro  PPP di Pilgub Jateng 2018.

“Di Jawa Tengah kami mengusung incumbent Saudara Ganjar  dan Cawagubnya Taj Yasin Maimoen, anggota DPRD Jateng,” ungkap SBY. Dia juga, seperti dikatakan Ganjar, banyak memberikan pesan. Di antaranya menjaga  persatuan, NKRI maupun nilai-nilai yang sudah ada.

“Banyaklah pesan beliau,” ungkap Ganjar sumringah.


SBY dan Jokowi

Padahal, jika menoleh ke belakangan, hubungan PDIP dengan Demokrat, tidaklah harmonis. Meski awalnya pribadi antara bos (Mega) dengan anak buahnya (SBY) di Pilpres 2014 lalu, tetap saja merembes ke jajaran partai.

Ingat saja, ketika Demokrat menjadi penguasa dua periode di republik ini, secuil pun partai Banteng Moncong Putih ini tidak tergiur merapat berkoalisi.  PDIP mengambil sikap sebagai oposisi, mengkritisi kebijakan SBY.

Bahkan, saat peringatan detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka – tempat masa kecil dan remaja Mega, putri sulung Bung Karno ini, emoh datang. Ia lebih memilih peringatan tersebut di rumahnya, Kebagusan, Jagakarsa, bersama tetangga sekitarnya.

Barulah, setelah “petugas partainya” menghuni Istana Merdeka, Mega menjejakan kakinya. Sayangnya, SBY pun bersikap sama. Dua kali menantu Letnan Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhi ini tidak hadir di situ.

Nah, saat usia negeri ini 72 tahun, kedua tokoh ini bertemu. Jamaknya orang timur, mereka bersalaman. Terlihat, SBY yang tinggi besar itu, membungkuk memberikan hormat kepada mantan bosnya tersebut, tanpa diselingi obrolan ringan.

Momen langka itu, disambut positif pelbagai kalangan. Malah, ada usulan salam basa basi itu, jadi pintu agar keduanya rujuk. Lalu duduk satu meja, membicarakan negeri ini, yang setelah reformasi kondisi ekonominya terus memburuk. Hutang tak pernah susut, tetap membengkak.

Sayangnya, sampai tulisan ini diturunkan, keduanya tak pernah bertemu. Tetap membisu seribu bahasa. Bahkan saling menyindir, khususnya soal  Theresold Presidential yang mematok 20 persen jumlah kursi, dan 25 persen dari jumlah pemilih untuk menjadi calon Pilpres.

Tapi, entah kenapa di Pilgub Jateng ini, tiba-tiba saja Demokrat – PDIP akur. Keduanya sepakat menggadang-gadangkan Ganjar sebagai gubernur dua periode. Ada apa dengan Demokrat? Padahal, kata pelbagai pengamat, Jateng adalah “kandangnya” Banteng, sekaligus tolak ukur Jokowi menuju dua periode.


AHY dan putra bungsu Jokowi

Artinya, jika di “kandangnya” sendiri Ganjar keok, maka kans Jokowi bertahan di Istana Merdeka bakal ciut. Sebaliknya, bila menang, kemungkinan mantan Walikota Solo itu tetap bertahan menjadi presiden kedua kalinya.

Syamsuddin Haris, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), punya jawaban. Kata dia, itu adalah upaya pendekatan Demokrat kepada Jokowi: bagaimana kadernya bisa disandingkan dalam Pilpres mendatang?

Siapa? Telunjuk bakal mengarah kepada Agus Harimuri Yudhoyono (AHY). Maklumlah, semenjak Pilgup DKI Jakarta lalu, Demokrat – khususnya SBY selaku ayahanda, terus mendorong AHY maju di gelanggang politik nasional.

Apalagi, suami dari selebriti Annisa Pohan ini, namanya masuk dalam bursa Pilpres. Sebut saja, survey yang dilakukan Lembaga Poltracking Indonesia menunjukkan nama AHY bersaing ketat dengan mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi Wapresnya Jokowi. Selisih keduanya sangat tipis: Gatot 16,4 persen, AHY 16 persen.

Lalu survei Polmark Research Center (PRC) yang diawaki Eep Saifulah Fatah. Survei itu menyebutkan jika Jokowi disandingkan dengan AHY, mencapai 63,5 persen, unggul sedikit ketimbang Jokowi-Gatot 63,1 persen.

Jadi, tak usah heran, pelbagai pengamat menyebutkan, jika SBY dan Demokrat membantu PDIP mempertahankan Jateng sebagai “kandangnya” Banteng Moncong Putih, sekaligus sebagai “mahar” politik menyandingkan Jokowi-AHY.

Berhasil? Lagi-lagi politik muaranya sulit ditebak. Hari ini tempe, esoknya bisa menjadi tahu yang disemur, bacem dan sebagainya. (Ian)
Berita Terkait
Berita Lainnya