,
11 Januari 2018 | dibaca: 266 Kali
14 Tahun Lalu, Mega “Terluka”
noeh21
Masih ingat Pilpres 2004 lalu? Saat itu Mega tak ubahnya “srikandi” yang dikeroyok oleh kaum pria. Ada Amien Rais yang berpasangan dengan Ir. Siswono. Lalu Wiranto dengan Salahuddin Wahid. Sedang dua pasangan lain, Hamzah Haaz – Agum Gumelar, Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf  Kalla, adalah menteri-menterinya. Sementara Mega, saat itu, berdampingan dengan mendiang KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Nahdatul Ulama (NU) saat itu.
 
Di Pemilu langsung yang baru digelar pertama kali itu,  Amien yang disebut-sebut kandidat kuat dengan “investasi” sebagai lokomotif reformasi, tersungkur . Perolehan suaranya jeblok, di bawah pasangan Mega-KH Hasyim Muzadi maupun SBY-Jusuf Kalla. Dua pasangan ini  akhirnya bersiteru di putaran kedua.
 
Di putaran kedua itu, Mega yang menjadi “bosnya” SBY-JK, benar-benar menerima pil pahit. Perolehan suaranya jauh di bawah SBY-JK, yang membuat keduanya melaju sebagai RI dan R2. Mega pun, suka atau tidak suka, mengakui keunggulan anak buahnya tersebut. Cuma, layaknya usai pesta demokrasi, Mega tak memberikan ucapan kepada SBY. Ia “meneng wae”, alias membisu seribu bahasa.
 
Tidak demokrat sejata sesuai dengan nama partai yang dipimpinnya itu? Ternyata bukan itu. Ada “luka” yang tidak bisa terhapus begitu saja. Bukan rahasia umum lagi, hubungan keduanya tidak harmonis lagi sebelum Pilpres 2004 digelar.  Ada apa?
 
Maklum saja,seperti ditulis dalam buku  Prof Tjipta Lesmana yang berjudul  Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa terbitan tahun 2008, ketidakharmonisan itu dimulai saat  Presiden Megawati mencoba menginvestigasi  menterinya yang tertarik maju presiden sebagai pesaingnya. Ia juga sibuk  mencari kandidat wapres.
 
Sayangnya, SBY yang saat itu sebagai Menko Polkam, tak pernah memberikan jawaban tegas. Ia selalu menampik jika ditanya akan maju sebagai Capres, baik oleh media maupun Mega sendiri. Padahal isu dia akan maju Pilpres begitu kuat, termasuk  sering muncul dalam iklan sosialisasi pemilu yang dilansir KPU. Iklan itu kemudian dihentikan setelah mendapat protes publik.
 
Ulah SBY itu tercium oleh Mega. Makanya, SBY yang juga sempat digadang-gadangkan sebagai Wapresnya  Mega, akhirnya dikucilkan. Dia tidak pernah diajak rapat lagi oleh Mega, ataupun pertemuan-pertemuan lainnya.

“Yang membuat Megawati kesal, bercampur galau, adalah sikap SBY yang dinilai tidak jantan,  tidak mau jujur  apakah  hendak mencalonkan diri. Kalau saja SBY mengambil sikap seperti Yusril (yang terus terang akan maju lewat PBB-red), persoalan mungkin menjadi lain: sejak awal Megawati pasti akan meminta SBY meninggalkan kabinet; sama halnya dengan Yusril.

Namun SBY selalu menunjukkan sikap yang ambivalen, Megawati pun menggunakan taktik lain. Secara sistematis dan diam-diam dia mengucilkan SBY dari kabinet,” ungkap Prof Tjipta Lesmana di halaman 305.
 
Karena merasa dikucilkan, SBY pun suka curhat, terutama kepada kerabatnya. Curhatan ini yang membuat Taufiq Kiemas merasa gerah. “Wong Palembang” ini menyebutnya sebagai “jenderal cengeng, seperti anak kecil”. Sentilan Taufiq ini bukannya membuat SBY terpuruk, justru menimbulkan simpati masyarakat. Capnya sebagai menteri yang dizolomi bosnya begitu melekat.
 
Makanya, setelah mengundurkan diri sebagai Menko Polkam, 11 Maret 2004, kampanye SBY lewat Demokrat selalu dibanjiri massa. Ia dielu-elukan sebagai tokoh yang dizolomi oleh presiden. Masyarakat begitu simpati. Apalagi selain santun, ia juga pandai bernyanyi setiap kampanye, khususnya lagu-lagu Zamrud, membuat elaktablitasnya menjulang tinggi.
 
Tak tahan dikucilkan Megawati, SBY pada 11 Maret 2004 mengirim surat pengunduran dirinya sebagai Menko Polkam.
Pada 13 Maret 2004, SBY langsung berkampanye untuk Partai Demokrat. Suasana kian panas saat debat presiden di televisi pada 16 September 2004. Kala itu Megawati meminta kepada panitia agar tidak ada sesi jabat tangan antarcapres.

Pada 13 Maret 2004, SBY langsung berkampanye untuk Partai Demokrat. Suasana kian panas saat debat presiden di televisi pada 16 September 2004. Kala itu Megawati meminta kepada panitia agar tidak ada sesi jabat tangan antarcapres.

Pilpres 2004 dimenangkan SBY dengan suara telak. Pada pidato HUT TNI 5 Oktober 2004, Megawati dengan meneteskan air mata mengharap semua pihak berlapang dada menerima hasil pilpres. Kala itu tempat duduk Mega dan SBY sengaja dipisahkan sehingga keduanya tidak bersua.

Ketika SBY dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2004, Megawati tidak hadir dengan alasan sibuk mendoakan agar acara pelantikan SBY berjalan lancar. Dia memilih berkebun dan membaca buku di rumahnya ke Kebagusan, Jakarta Selatan.

Sejak itulah keduanya jarang bersua. Megawati tidak pernah menginjakkan kaki ke Istana, utamanya untuk menghadiri upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI. (Ian)
 
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya