,
08 Desember 2018 | dibaca: 668 Kali
Perisai Berkarya Laporkan Dua Penghina Jenderal Besar Soeharto
noeh21


Jakarta Skandal 

Tri Joko Susilo.SH  Ketua Umum Patriot Organisasi Pagar Negeri (PERISAI BERKARYA), dan puluhan kader perisai berkarya dari Jabodetabek dan berbagai daerah hari ini bergerak melaporkan Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Ahmad Basarah yang telah menghina Jenderal.Besar HM Soeharto (Presiden RI-2) sebagai Guru Korupsi di Indonesia dan Antoni Rajajuli (Sekjend PSI) menghina Jenderal Besar HM.Soeharto Simbol KKN.

Akibat tuduhan dan penghinaan terhadap Presiden kedua tersebut, Perisai Berkarya mendesak kepada penegak hukum, khususnya Polri dan Badan Kehormatan MPR,  secepatnya memproses laporan pidana dan perdata tersebut, sekaligus dipenjarakan. 





Tri Joko Susilo mengaku perlawanan  terhadap dua partai penguasa ini, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan  Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan dilakukan secara sistematis dan masif di tengah gelombang umat dan bangsa dalam menjaga NKRI yang besar.

"Hari ini ada partai menyandang nama  Pancasilais Bhineka Tunggal Ika tapi sifatnya malah memecah, hobi menjelekan Pemimpin Bangsa dan hobi somasi gugat menggugat," tutur Tri.

Tri mengingatkan,  PDI-P dan PSI harus menyadari  Jenderal Besar HM.Soeharto (Presiden RI-2) adalah Bapak Pembangunan yang telah ditetapkan oleh Tap MPR No. V Th 1983 tentang pengukuhan Presiden Soeharto sabagai Bapak Pembangunan Indonesia.

"Ini artinya PDIP dan PSI  telah mengabaikan simbol ketetapan undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menantang tokoh-tokoh bangsa dulu bahwa Bapak Jenderal Besar HM.Soeharto adalah Bapak Pembangunan, ini kok malah di tuduh guru korupsi dan simbol KKN," tutur Tri. 

Dia juga berharap institusi TNI harus mengambil sikap terhadap pernyatan Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Ahmad Basarah dan Rajajuli (Sekjend PSI) yang telah menciderai marwah Bapak Jenderal Besar HM.Soeharto sebagai Alumni Tentara Nasional Indonesia yang telah mengharumkan TNI dan dikukuhkan sebagai Jenderal Besar.

Dalam surat laporan enam lembar itu di antaranya  menyampaikan bahwa PDI-P dan PSI telah melakukan ujaran kebencian,  menciptakan opini penyesatan sejarah. "Jadi semua lengkap di surat ini silahkan teman teman media pelajari kopian pelaporan kami," terang mantan aktivis HMI Jakarta dan mantan pengurus DPP KNPI era kepemimpinan Almarhum Hasanudin ini. 

Menurut Tri, perlawanan yang dilakukan, karena penghinaan itu melewati batas kewajaran. Bung Karno saja menyatakan cacing saja kalau diganggu akan menggeliat. Begitupun Jenderal Besar HM.Soeharto mengatakan semangat perlawanan tak bisa mati.

"Kami kader NKRI pembela pancasila dididik dengan darah perlawanan, musuh para penggagal bangsa minta konfrontasi jenis apa, bila melampaui batas pasti kita atasi, kadang sikap keras perlu bila yang dihadapi juga terlampau keras dan barbar," papar  Tri Joko Susilo.

Perlawanan di akhir tahun 2018  ini akan terus ditabuh sampai Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Ahmad Basarah dan Rajajuli (Sekjend PSI) di penjarakan . 

"Jihad konstitusi untuk memenjarakan orang – orang ini    sudah berkobar dan bagi kami enteng menghadapi PDI-P dan PSI ini seperti orang jalan-jalan, hujan yang turun hari ini tak menyurutkan semangat kader. Jika hujan saja tidak dapat menyurutkan langkah kita, halangan apalagi yang dapat membuat kita surut  membubarkan PSI. Semangat memenjarakan Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Ahmad Basarah dan Rajajuli (Sekjend PSI),"  kata Tri Joko sesemangat membubarkan antek antek  PKI.

Dia menilai tdak boleh lagi orang orang ini masuk di  parlemen."Selesai dan selesai sudah," terang Tri Joko Susilo

Menurut Tri, jangan karena partai pendukung pemerintah, lalu  seenaknya memfitnah Mantan Pemimpin Republik Indonesia ke-2. Lihat sejarah gemilang yang telah ditorehkan dalam menjaga NKRI. Maka sebagai penerus bangsa harus mendidik generasi ke hal-hal positif. "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pemimpinnya. Jangan sampai dugaan kami benar bahwa ini partai-partai radikalis kiri, kami akan melawan," tuturnya. 

Dia juga meminta jaringan Ormas Perisai Berkarya dari pusat sampai daerah untuk pasang hastag #bubarkanpartaipemfitnahpakharto#

Dia juga menyebut, hastag tersebut  harga mati sampai kapanpun. Bahkan setelah pemilu untuk mengawal penegakan hukum meskipun partai ini besutan penguasa. 

Tri ingatkan, kader-kader PDI-P sudah banyak diseret KPK. Begitupunbdi PSI ada Sunny, mantan stafsus Ahok yang bermasalah.

"Kita bisa lihat partai apa ini yang pembinanya Sunny dan Jefry Geofany," jelas Tri menyebut  Jefry sering pindah pindah partai.

"Berhentilah mengklain partai anak muda dan paling sok tahu. Ingat  blunder blunder PSI mulai dilaporkan oleh Bawaslu. Ini partai pasti kita gulung, kita bubarkan," tegas Tri, menanyakan kabar proyek pameran buku kementerian pendidikan di Perancis miliaran rupiah dan diikuti Goenawan Muhamad, Raja Juli Antoni dan bendahara pertama PSI.  Kia lihat macam apa partai ini," tutur Tri Mangkel (red)
Berita Terkait
Berita Lainnya