,
03 Maret 2018 | dibaca: 143 Kali
Kejahatan Narkoba Makin Buas dari "Buwas"
noeh21

​Kejahatan narkoba dan korupsi semakin punya kemiripan. 

Di soal korupsi,  pengungkapan kasus dugaan rasywah bahkan operasi tangkap tangan (OTT) terus dilakukan KPK, kejaksaan, dan polisi. 

Namun, nyatanya korupsi belum juga menampakkan tanda-tanda bakal habis. 

Praktik korupsi tetap tumbuh sekalipun upaya untuk membunuhnya sudah berdarah-darah.

Begitu pula untuk soal narkoba. 

Berita penggerebekan narkoba dan penangkapan bandar oleh kepolisian ataupun Badan Narkotika Nasional (BNN) hampir setiap hari kita dengar. 

Namun, persis seperti korupsi, nyatanya bisnis narkoba tetap hidup dan senantiasa mengincar pasar Indonesia. 

Perang terus dilakukan, tapi peredaran narkoba semakin liat dan sulit dihentikan.

Fakta inilah yang mesti menjadi pijakan bagi Irjen Heru Winarko  yang kemarin dilantik menjadi Kepala BNN menggantikan Komjen Budi Waseso yang memasuki masa pensiun. 

Heru yang sebelum ini menjabat Deputi Penindakan KPK tentu tahu betul betapa sulit dan diperlukan kerja keras untuk memberantas kejahatan-kejahatan luar biasa sejenis korupsi dan narkoba.

Jika melihat latar belakangnya sebagai deputi di KPK selama hampir tiga tahun terakhir, integritas Heru mestinya tidak perlu diragukan. 

Presiden Joko Widodo pun mengakui salah satu pertimbangan dia memilih Heru menjadi Kepala BNN ialah dari sisi integritasnya

Integritas menjadi poin penting karena bisnis narkoba merupakan bisnis mafia dengan perputaran uang yang amat besar dan menawarkan godaaan besar untuk para penegak hukum yang menanganinya. 

Presiden juga mengharapkan Heru mampu membawa standar dan budaya baik yang ada di KPK untuk membenahi kekurangan-kekurangan di BNN.

Kini, yang mesti dipelajari dan diadaptasi cepat oleh Heru ialah atmosfer penanganan kejahatan narkoba. 

Meski mirip dari segi daya tahan dan daya rusaknya, kejahatan narkoba sama sekali berbeda karakter dengan kejahatan korupsi. 

Perbedaan karakter itu menuntut perbedaan dalam penyelesaian ataupun efektivitas pemberantasannya

Artinya, Heru tak cukup hanya mengandalkan modal yang ia dapat selama di KPK dan kepolisian. 

Apalagi, publik selama ini sudah telanjur 'jatuh cinta' dengan sosok Budi Waseso atau Buwas sebagai Kepala BNN. 

Buwas memang belum kuasa membendung derasnya arus peredaran narkoba di Nusantara.

Namun,  ketegasan, keberanian, dan gebrakan-gebrakannya yang terkadang kontroversial harus diakui telah menginspirasi masyarakat dan aparat penegak hukum yang berkecimpung di bidang pemberantasan narkoba untuk tidak mundur menghadapi segala risiko dalam menangani kejahatan besar itu

Heru, tentu saja, diharapkan bisa menjadi suksesor Buwas, bahkan mestinya mampu membawa BNN menjadi lembaga yang lebih profesional, lebih bergigi. 

Pada satu sisi, ia harus bisa lebih 'buas' daripada Buwas saat berhadapan dengan bandar dan gembong narkoba. 

Tentu saja buas dalam arti yang terukur, bukan buas yang serampangan karena negara tak boleh kalah melawan penjahat.

Di sisi lain, ia juga mesti menyiapkan program, gebrakan, dan terobosan-terobosan efektif untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan rehabilitasi. 

Itu semua demi memenuhi target yang ia emban dari Presiden untuk menyetop narkoba masuk ke Indonesia dan menurunkan sebanyak-banyaknya pengguna di Tanah Air. (Lulu/Diskusi).
Berita Terkait
Berita Lainnya