,
08 Juni 2020 | dibaca: 364 Kali
Disiksa, ABK Asal Indonesia Nekat Melompat Ke Laut
noeh21
                                  

 Sumut-Skandal.com             
               
Dua warga negara Indonesia (WNI) melompat ke laut, karena kemungkinan tidak tahan merasakan siksaan yang dilakukan kapal berbendera Cina, Lu Qing Yuan Yu 213. 

Satu dari WNI yang nekat itu adalah Reynalfi, warga Kota Siantar, Sumatera Utara (Sumut). Dia melompat bersama rekannya, Juniansyah, warga Utan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dari peristiwa naas itu, sejumlah awak media di Kota Siantar, Minggu (07/06/2020), mendatangi rumah orang tua dari Reynaldi di Jalan Sumber Jaya I, RT 003, RW 002 LK II Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Siantar, Sumatra Utara.

Orang tua ABK asal Indonesia


Para awak media, bertemu dengan orang Tua Reynalfi, bernama Heriyanto. Yang sangat ramah, Heriyanto menyambut kehadiran sejumlah awak media (wartawan).langsung Orang tua kandung Reynalfi ini bercerita tentang kisah perjalanan anaknya, hingga kemudian menerima kabar, kalau anaknya itu nekat melompat ke laut.                                                                         
Kata Heriyanto, anaknya memiliki administrasi lengkap untuk bekerja di luar negeri. Karena Reynalfi yang saat ini berusia 22 tahun, ia sebut memiliki paspor, SKCK dan dilengkapi dengan sejumlah dokumen lainnya Dari Pemerintah Indonesia.

 Sebut Heriyanto, Reynalfi berangkat dari rumah, karena ingin bekerja kapal. Untuk mewujudkannya, bulan September 2019 yang lalu, anak kedua dari 4 bersaudara itu berangkat ke Jakarta.Ketika di Jakarta, Reynalfi sempat menjalani pelatihan sebagai anak buah kapal (ABK) selama dua pekan.

Namun, pada bulan Nopember 2019, Reynalfi mengabarkan kepada mereka, kalau ia telah bekerja di kapal. Saat itu, Reynalfi menyebut, akan bekerja di kapal Thailand.

Nopember 2019 yang lalu, merupakan terakhir kalinya Reynalfi memberikan kabar kepada keluarganya, sebelum ditemukan nelayan terombang-ambing di laut Line STS Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Itu terjadi, diduga karena Reynalfi tidak diperbolehkan menggunakan handphone (HP) untuk menghubungi keluarganya.

Menurut Heriyanto, ia bersama istri dan anaknya mengetahui kabar Reynalfi, pasca aparat kepolisian dari Polres Karimun, Sabtu (06/06/2020), sekira jam 22.30 WIB, menghubungi dirinya melalui handphone.

Pihak Polres Karimun mengabarkan, kalau anaknya, Reynalfi melompat ke laut di perairan Karimun, bersama seorang temannya. Lalu pihak Kepolisian  tersebut memberi tau, kalau Reynalfi selamat  dalam kondisi sehat.

Tak lama kemudian, malam itu Reynalfi turut berbicara, juga melalui sambungan telepon dari pihak Polres Karimun. Dikatakan Heriyanto,sewaktu lompat dari kapal, Reynalfi dan temannya sempat terombang-ambing dilautan sekira 7 jam . Namun dirinya dapat diselamatkan nelayan Karimun.

Carita Keluh kesah Reynalfi,kepada ayahnya, saat berada di kapal Cina, Lu Qing Yuan Yu 213, sebut Heriyanto, Reynalfi dan ABK lainnya, diberi makan dua hari sekali. Itupun hanya nasi putih tanpa lauk-pauk. “Dua hari sekali baru dikasih makan,” sebut Heriyanto.

Masih Heriyanto, anaknya sering mendapatkan siksaan di kapal berbendera Cina tersebut. Dimana, bila lambat disaat bekerja, langsung dipukul.tapi Heriyanto, masih bersyukur, karena kondisi anaknya saat ini dalam keadaan sehat.

Disinggung tentang kapan Reynalfi kembali ke Kota Siantar, Heriyanto belum mengetahuinya. Karena pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan. Namun ia berharap, agar Reynalfi pulang ke Siantar secepatnya sebelum ingin berangkat ke NTB, pasca peristiwa ini. “Kami harap, dia (Reynalfi) pulang dulu (ke Siantar). Setelah itu baru pergi, kalau mau ke NTB,”ucap Heriyanto.

Heriyanto menegaskan, agar pihak perusahaan kapal Cina, Lu Qing Yuan Yu 213, segera membayarkan seluruh gaji anaknya. Karena itu merupakan hak anaknya dan hasil kerja keras Reynalfi selama berbulan-bulan. “Segera dibayarkan gaji gajinya.kerna Itukan hasil keringat anak saya yang bekerja keras ” kata Heriyanto.(Kabiro Sumut)
Berita Terkait
Berita Lainnya