Tutup Menu

A.Rahakbauw Endus Penganiayaan Dirinya Sebuah Skenario

Sabtu, 12 September 2020 | Dilihat: 998 Kali
    


Malra, Skandal

Arif Rahakbauw Komisioner KPUD Kab Malra yang jadi korban pengeroyokan dan penganiayaan 5 preman sesuai laporan polisi No ;LP / 221/lX /2020 beberapa waktu lalu di Desa Fidatan BTN membantah kasus yang menimpa dirinya karena perselingkuhan.

"Itu tidak benar, karena saya tidak tertangkap basah di kamar maupun di hotel," tegasnya pada Skandal.

Dia menyebut pengeroyokan dan penganiayaan dirinya adalah sebuah skenario. Terlebih motornya pun dirusaki oleh pelaku, termasuk HP  merk Samsung A7, keluaran 2017 diambil pula oleh para preman serta pihak pihak provokator yang selalu merusak Ohoi Nuhu di wilayah selatan barat.



"Saat saya di rumah kediaman Jumadi Rahayaan selaku paman saya sendiri, ada istrinya dan  4 anaknya yang sambil duduk nonton. Sedangkan yang bungsu lagi tidur," ungkap Arif.

Bahkan, dia dilarang keluar rumah, saat kemunculan para preman di rumah pamannya itu. Dia berpikir,  apapun terjadi harus  pulang ke rumah, karena sudah larut malam.

Namun setelah keluar, langsung dijemput dan tanpa disadari langsung dipukuli hingga babak belur. "Itupun ada teriak dari kedua orang,  Ida Wati R.dan Renab Ohoiwuy untuk membunuhnya," jelas Arif.

Perintah itu membuat 5 preman semakin emosi, hingga dia babak belur, dipukul  dengan batu,kayu,diinjak,di tendang seperti bola.

"Saya menduga bahwa ini semua skenario yang dibangun oleh oknum oknom yang tidak bertanggung jawab, dan kalau terbukti saya salah, kenapa tidak laporkan sata ke Polres, atau tokoh  agama dan tokoh pemuda," tuturnya 

Makanya dia minta  Kepala Kepolisian dan seluruh staf Polres Malra agar bisa mempercepat usut persoalan ini,karena  negara ini negara hukum. "Jadi berbuat sesuatu itu harus berpikir yang positif. Apalagi saya tidak perna punya masalah dengan Ida Wati Renjaan dan Renab Ohoiwuy,tapi kenapa mereka teriak perintahkan  bunuh saya. Memang salah saya apa? " tanyanya penuh keheranan.

Makanya dia minta dengan hormat kepada Kapolres Malra dan Waka Polres, Kasat Serse agar pintu masuk keluar bandara dan pelabuhan laut  agar diperketat. 

"Informasi yang diperoleh  ada beberapa oknum pelaku penganiyaan mau kabur keluar dari kota Tual dan kab Malra. Jad saya tetap kawal masalah ini ke jalur hukum," ujarnya mengakhiri. (***)

Dapatkan Info Teraktual dengan mengikuti Sosial Media TabloidSkandal.com