,
29 Maret 2018 | dibaca: 284 Kali
PWO Marwah Baru Angkat Media Kecil dan Jurnalis Dekil
noeh21
Ahmad Sahib dan Kivlan Zein

Jakarta,   Skandal  
                       
Kelahiran Perkumpulan Wartawan Online (PWO) yang sangat diapresiasi banyak pihak diharapkan ke depan akan lahir pula aturan-aturan yang adil dan tidak memarjinalkan para pelaku pers. 

Demikian ditegaskan Ahmad Sahib, pendiri PWO di Jakarta rabu,  28/3/2018.      
               
 "PWO akan berjuang memberantas perlakuan tak adil dan marjinal media kecil dan jurnalis dekil", tandasnya pria asal Lombok ini.    
                   
Menurut Sahib, ada hal yang terlewatkan dalam produk karya Profesi Jurnalis yaitu "Intropeksi".

Kata dia, banyak hal yang jadi catatan penting dalam perjalanan membangun kualitas Insan media.

Salah satunya,  munculnya persaingan yang tidak sehat di antara sesama. Akibatnya, banyak kesenjangan, sehingga yang disebut seniorpun gagal membangun edukasi yang semestinya ditelurkan untuk meneruskan cita-cita bangsa sesuai harapan anak bangsa insan pers generasi berikutnya.

Karakteristik seperti ini, tambah Sahib,  menyebabkan bangsa ini semakin tetap tertinggal dalam segala hal dibanding negara-negara lain. Padahal  sebelumnya, mereka  justru berada di belakang kita.

Lahirnya PWO yang menjadi wadah berlindung bagi Insan Pers online diharapkan akan memberikan rasa keadilan dan memperjuangkan hak jurnalis, setidak-tidaknya dapat menjadi pengayom dalam membangun dan menyalurkan kemampuan sumber daya insan media,  melahirkan para jurnalis online yang cerdas, profesional sesuai bidang yang digeluti.

"Tak ada yang mau ditinggal, sebab waktu semakin melaju. Maka harapan kita semoga keberadaan PWO dapat menjadi marwah baru di kalangan Media Online dan dapat memberikan ruang ekspresi dan diapresiasi sebagai wadah yang untuk bernaung dengan penuh rasa keadilan sesuai prinsip pemikiran kaum Intelektual Media," tuturnya.

Luas wilayah Indonesia dengan jumlah penduduk seperempat Milyar sudah sepatutnya menjadi hal yang harus dipikirkan.

"Dalam aspek media, tentu kita bicara bagai mana prototip lembaga, dalam arti kata yang tentu lebih dinamis dan mengurangi dinamika dengan menyingkirkan kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, tetapi melirik prospeck dan mengedepankan tanggung jawab terhadap Bangsa," tutunya.

PWO, tegas Sahib, akan kritis seiring perubahan peradaban politik, dimana para pelaku pers justru tampak terbawa arus bahkan tergeruk pada pola konspirasi politik.

"Dalam situasi ini,  tampak hanya media yang memiliki apiliasi terhadap  kekuasaan dan partai politik tertentu  yang terakomodir.        
           
Selain itu  dari pusat hingga ke daerah media-media yang besar cenderung menjadi benalu bahkan Lintah pada APBN, APBD atau jika APBRT pun ada mungkin akan disikat pula demi gaung medianya", tegasnya.

Dia mengingatkan  besar kecilnya media tak menjadi ukuran, tapi eksistensi pemikiran itulah yang menjadi takaran penilaian Publik.

Dan, PWO menyadari,  segala sesuatu dimulai dari hal yang terkecil, kemudian berdampak besar dan makin Besar.
Begitupun pevormance  personal jurnalis tentu juga perjalanan perjuangannya menjadi ukuran yang paling membekas. (Rel PWO)
Berita Terkait
Berita Lainnya