,
05 Mei 2021 | dibaca: 1421 Kali
Berlaga Preman, Kades Arma Bersama Warga Hampir Meraut Napas Felisianus Futunanembun
noeh21
Saumlaki – tabloidskandal.com
Penganiayaan atau kekerasan bersama sesuai laporan polisi, tertanggal 3/5, di desa Arma Kecamatan Nirunmas Kabupaten Kepulauan Tanimbar KKT Provinsi Maluku .
 
Masa penganiayaan yang dipimpin Kades Izak Jambormias Senin malam diperkirakan sekitar pukul 11 : 23 Wit, lakukan tindakan melawan hukum terhadap seorang guru kontrak. Kejahatan yang dilakukannya itu dari rumah adat sampai ke kantor desa. Akhirnya korban bersama keluarga melaporkan ke pihak yang berwajib Polsek Nirunmas guna ditindak lajuti secara hukum
 
Korban atas Felisianus Futunanembun yang disapa Elfis asal desa olilit barat, bertugas sebagai guru bantu pada SD Inpres Arma, tengah mengikuti prosesi adat yang dilaksanakan di rumah adat keluarga Batkrombawa insiden tersebut terjadi dilakukan Jambormias bersama warga terhadap dirinya.
 
Kejadian tersebut berawal dari fitnaan serta makian yang dilontarkan sekelompok anak muda terhadap korban saat dirinya bersama rekan guru dan istrinya hendak mengikuti acara adat dikediaman keluarga Batkrombawa, sesampainya dilokasi dimana sejumlah pemuda yang berkerumun melontarkan kalimat yang tidak etis disusul dengan makian.
 
"Perilaku serta tindakan tidak menyenangkan yang dilontarkan kepada saya bersama rekan guru dan istrinya, maka saya menghampiri mereka lalu menanyakan langsung siapa yang melontarkan kata - kata fitnahan serta makian itu ? Berhubung lampu padam dengan kondisi malam dan gelap sehingga tak bisa mengenal wajah mereka satu persatu, tetapi ada yang di tunjuk oleh mereka sebagai pelakunya, sehingga saya menamparnya sebagai pelajaran sekaligus sedikit nasihat yang saya berikan kepadanya, serta berniat menyampaikan kejadian itu ke pihak Kades untuk diberi nasihat." ujarnya kepada media ini, Rabu (5/5) diKediamannya di Olilit Barat.
 
Usai dari tempat kerumunan itu pihaknya bersama rekan dan istrinya melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan yang dimaksud, setelah sampai dirumah adat berselinan waktu tak lama tiba - tiba terdengar suara masa dengan lantang mengacam bunuh sambil menghampiri rumah. Suara yang membuat panik tuan rumah beserta warga yang sementara mempersiapkan upacara adat, masa langsung diatasi oleh pihak tuan rumah.
 
"Upaya yang dilakukan pun tidak membuai hasil atau tidak diindahkan massa, tiba - tiba datanglah kepala desa serobot masuk ke dalam rumah dengan melepas tamparan ke muka saya sebanyak 4 kali setelah itu Kades menggenggam leher saya sambil menyeret keluar dari rumah adat menuju kantor yang jaraknya kurang lebih 100 M." ungkapnya.
 
Lanjut, pukulan beruntun oleh massa terhadap dirinya sepanjang perjalanan, sesampainya di depan kantor datanglah kepala sekolah hampiri serta merangkul dirinya sambil mengikuti instruksi kades masuk bertiga di dalam kantor guna menutup pintu kantor desa. Masa yang begitu niat berusaha mendobrak pintu sehingga kami pun semakin panik dengan mecoba melarikan diri, terpaksa dapat meloncat keluar dari toilet.
 
"Saya sempat melarikan diri, namun di bagian toilet lebih banyak lagi masa yang menunggu, saya pun terjebak dengan jurang akhirnya kepsek mencoba menyelamatkan saya sambil merangkul dan menahan pukulan masa namun masa tetap melampiaskan niatnya bahkan sempat suami - suami dari para rekan guru yang coba membantu mengeluarkan saya dari cengkraman pukulan beruntun itu, tetap saja saya di pukuli, dari amukan massa itu, saya tidak sempat sadarkan diri karena terlalu banyak pukulan yang mengarah pada tubuh saya" jelasnya
 
Dikatakan, waktu dirinya siuman dengan terkejut sudah berada di rumah kepala sekolah akhirnya terpaksa saya di bawah ke Puskesmas Waturu guna memeriksa kesehatan.
 
Menindak lanjuti pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan laporan polisi akhirnya resmi kami laporkan tepat hari selasa tanggal 4/5 yang mendampingi kepala sekolah serta orang tuanya.
 
Briksius Futunanembun sebagai bapak kandung korban bersama keluarga besar berharap pihak polsek dapat mempercepat proses persoalan tersebut karena, menurut pihaknya perbuatan ini terlalu sadis dilakukan kades bersama masa terhadap anak kami, yang tak tau kesehatan tubuh anak kami seperti apa kedepan.
 
"Biar perlu secepatnya dilimpahkan ke polres sehingga jangan terlihat lamban hal ini kami rasahkan sendiri saat melakukan laporan polisi kami harus menunggu hingga 8 jam, sehingga kami meminta, Kades dan semua pelaku penganiayaan terhadap anak kami harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku, sehingga bisah menjadi efek jerah terhadap pimpinan desa lain di KKT" harapnya.

"Bapak bupati diminta segera sikapi prilaku Kades Arma, biar perlu di pecat dari jabatannya." tambahnya
 
"Tindakan Kades sangat tidak menunjukan dirinya sebagai seorang kades, sehingga Bupati diminta memanggil Jambormias untuk diberi tidakan atau sangsi, biar perlu ada SK pemberhentian secara tidak terhormat, mengingat tindakannya seperti seorang preman Desa" tambahnya.
 
Pantauan korban dirumahnya hanya terbaring, saat memberikan keterangan juga kondisinya lemas sangat memprihantinkan tubuh korban terdapat banyak luka lebam dari kepala hingga kaki adapun respon komunikasi agak lambat.
Tan2
Berita Terkait
Berita Lainnya