,
16 Juni 2020 | dibaca: 385 Kali
Tuding Sultan Hamid II ‘Pengkhianat Bangsa’, Celotehan Hendropriyono Berbuntut ‘Bola Panas’
noeh21

Pontianak, Skandal

Pernyataan Mantan Kepala Badan Intelejen Nasional (BIN), Hendropriyono, mendadak viral dan menjadi ‘bola panas’ di media sosial.

Dalam keterangannya di sebuah kanal Youtube, Kamis 11.6 lalu, ia menyebut Sultan Hamid II sebagai pengkhianat dan tidak layak diberi gelar pahlawan nasional. Hal inipun sontak banyak menuai protes dari berbagai kalangan.

Salah satunya dari cucu Sultan Hamid II, yakni Sultan Pontianak IX Sultan Syarif Machmud Melvin Alqadrie, yang akrab di sapa Sultan Melvin.

“Dia harus ditangkap dan diadili. Sebelum saya mengeluarkan titah saya sebagai sultan. Jangan tunggu masyarakat marah dan bergerak,” tegas Sultan Melvin melalui keterangan tertulis, Sabtu 13.6.2020

Bagaikan gaung bersambut, Hendropriyono kemudian dilaporkan ke Mapolda Kalbar oleh  Pangeran Sri Negara Kesultanan Pontianak, Syarif Mahmud, pada Sabtu malam 23.6.2020

Ia meminta Gubernur Kalbar untuk tidak tinggal diam atas ujaran yang menurutnya merupakan suatu penghinaan bagi kakeknya, yang juga sebagai perancang lambang Negara Indonesia, Burung Garuda.

“Laporan pengaduan ini terkait adanya dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik Sultan Hamid II ,” ucap Mahmud.

Untuk diketahui, inti dari rekaman Hendropriyono yang viral di media sosial pada Kamis 11.6 lalu, menyebut tentang alasan terkait Sultan Hamid II yang dinilainya tidak layak dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

“Tiap tahun kan ada pengusulan untuk menjadi pahlawan nasional, pada peringatan 17 Agustus, hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Akhir-akhir ini kan gencar sekali saya menerima WhatsApp, saya kira ini viral ya di media sosial tentang pengusulan Sultan Hamid II dari Pontianak sebagai pahlawan nasional,” kata Hendropriyono.

Dalam pernyataannya tersebut, ia juga mengatakan terkait politisasi sejarah bangsa.

“Saya ingatkan kepada generasi penerus bangsa, para kaum muda, jangan sampai tersesat dengan suatu usaha politisasi sejarah bangsa kita. Karena Sultan Hamid II ini bukannya pejuang bangsa Indonesia,” jelasnya.

Momentum ini memuncak dengan digelarnya Konferensi Pers bertemakan ‘Counter Back Statement Hendropriyono’ yang digelar oleh Yayasan Sultan Hamid II di Pontianak, Minggu malam 14.6.2020

Konferensi Pers ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Sultan Hamid II, Anshari Dimyati; Anggota Dewan Penasehat Yayasan Sultan Hamid II, Sy. Hasyim Azizurrahman Alkadrie; Akademisi, Turiman Fachturahman Nur; Anggota DPR-RI, Sy. Abdullah Alkadrie; Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar, Sy. Amin Muhammad Assegaf; Ketua DPW PKS Kalbar, Arif Joni Prasetyo; Ketua Rabithah Alawiyah kalbar, Sy. Muhdar Baraqbah; dan beberapa awak media.

Tujuan dari Konferensi Pers ini untuk menyikapi pernyataan Hendropriyono tentang Sultan Hamid II yang viral di media daring (Youtube, WhatsApp, dan lainnya) beberapa hari ini, yang menyebut Sultan Hamid II adalah ‘Pengkhianat Bangsa’.

Ketua Yayasan Sultan Hamid II, Anshari Dimyati, menegaskan dengan adanya ungkapan viral dari Hendropriono terkait Sultan Hamid II yang di cap sebagai ‘Pengkhianat Bangsa’, justru menyinggung perasaan masyarakat di Kalbar dan hal ini sangat disayangkan.

Anshari juga menekankan bahwa tidak ada yang namanya politisasi sejarah bangsa, yang ada pihaknya hanya meluruskan sejarah bangsa ini.

“Bahwa fakta-fakta yang diungkap berdasarkan kajian penelitian itu harus diakui keberadaannya, wajar saja masyarakat Kalbar merasa tersinggung atas opini yang dikeluarkan oleh Hendropriono itu tidak tepat dan tidak bijak. Karena Sultan Hamid II dulunya pernah menjabat sebagai Kepala Daerah Istimewa Kalbar Tahun 1949-1950. Ia yang membangun Kalbar, serta memperjuangkan kedaulatan penuh di Indonesia,” pungkasnya.(RH)
Berita Terkait
Berita Lainnya