,
10 Desember 2019 | dibaca: 585 Kali
Sanusi Minta Kapolres dan Kapolsek Dullah Utara Dimutasi
noeh21

Tual, Skandal
Sanusi Rahaningmas meminta Kapoda Maluku  agar melakukan mutasi  Kapolres Malra dan Kapolsek Dullah Utara yang tidak mampu mengungkap kasus-kasus pemerkosaan, penganiyaan dan pembunuhan di Maluku Tenggara dan Kota Tual.

"Ternyata, kasus-kasus tersebut tidak terungkap," ujarnya mengelus dada.
 
Akibatnya  masyarakat bertanya-tanya dan meragukan   kinerja Polres Maluku Tenggara dan jajarannya, terutama Polsek Dulla Utara. Terlebih ada korban tusukan sampai meninggal dunia, Senin, 09/12.
 
Kejadian tersebut terjadi dari 23/11, sekitar  jam 01.30 dini hari di Kompleks Mangon Kota Tual. Menurut informasi, pelaku ada 3 orang tapi pihak keamanan hanya menangkap satu orang. Sementara dua orang lainya dibiarkan bersembunyi di wilayah hukum Polsek Dullah Utara hingga mereka kabur dari kota Tual.
 
Satunya, menurut informas,i ada lari ke Dobo dan satunya lagi ke Jakarta. Padahal saat ini,  peran keluarga alias orang-orang tua tidak kuat untuk menenangkan masa dari pihak korban yang tidak diinginkan terhadap keluarga pelaku yang melarikan diri.
 
Menurut Sanusi Rahaningmas, mantan Anggota DPR Provinsi Papua Barat tiga periode dan sekarang menjadi Anggto DPD RI Dapil Papua Barat yang juga kakak sepupu korban,  meskipun sesungguhnya di antara pelaku dan korban mungkin ditarik benang merah dari silsila keturunan, masih ada hubungan keluarga.
 
Namun karena korban sampai meninggal akibatnya masalah bisa tambah rumit . "Sebenarnya dari awal keluarga korban hanya menginginkan  semua pelaku harus ditangkap dan di proses sesuai hukum yang berlaku. 
 
Bahkan hal tersebut, kata Sanusi Rahaningmas, yang  menghubungi Kapolres lewat handphone mempertanyakan  hal teesebut sejauh mana.  " Jawaban Kapolres bahwa belum ada pelimpahan dari Polsek ke Polres Malra sehingga beliau belum tahu masalahnya," tutur Sanusi.

Menurut dia,  yang juga  Putra kelahiran Ohoi Mataholat Kabupaten Malra, itu jawaban itu sangat konyol yang diungkapkan oleh seorang pimpinan Polri di daerah. Ini benar-benar malas," ketusnya. 

"Tapi mungkin karena anggota Polres Maluku Tenggara  malas, terbukti dari waktu ke waktu tidak pernah terungkap. Maka sudah sepantasnya Kapolda Maluku harus mutasi kedua orang ini," tuturnya. 

Sebab,  kalau dibiarkan akan melahirkan konflik yang mengganggu Kantibmas Kota Tual dan Maluku Tenggara.

"Saya Sanusi Rahaningmas Anggota DPD RI akan menyampakan juga hal ini kepada Kapolri agar dapat memberikan ketegasan kepada Kapolda untuk bisa memantau dan memperhatikan kinerja dari pada Polres Maluku Tenggara maupun Polres lainya di Wilayah NKRI agar serius dalam menangani kasus seperti di atas," tutur tSanusi Rahaningmas.

Dia yakin Kapolda Maluku bisa tanggap cepat. Dia juga  akan  minta kepada keluarga Umel Yarbot Ohoi Ohoiwait dan Mataholat serta Ohoi-Ohou sekitatnya termasuk Ohoi Weduar yang merupakan Ohoi asal mama korban agar bisa menahan diri dan menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.

"Bagi keluarga dari pelaku saya mohon agar dapat menyerahkan atau memberikan informasi kepada pihak aparat terkait terkait dua orang pelaku yang melarikan diri alias buron ke Dobo atau ke Jakarta  agar bisa kembali untuk mengikuti proses hukum ketimbang  ketemu keluarga korban di Dobo atau Jakarta yang tidak tahan emosi, hingga menimbulkan hal baru yang akan  merusak hubungan keluarga sesama orang Kei di tual, Malra maupun di luar daerah lain," tuturnya.

Semoga peristiwa ini menjadi hikmah buat kedua keluarga dan  kedua pucuk pimpinan di Polres Malra dan Polsek Dulla Laut  Utara segera dimutasikan ke daerah lain. (MI)
Berita Terkait
Berita Lainnya