,
03 Maret 2019 | dibaca: 362 Kali
PESERTA ADVENTURE OFF ROAD LINTASI AREAL LIKUIFAKSI, POLDA SULTENG HATURKAN MAAF. 
noeh21


Palu, Skandal

Mewakili Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng), Wadir Intel Polda Sulteng, AKBP Soeliono memohon maaf kepada keluarga korban likuifaksi Petobo dan Balaroa, menyusul pemberitaan yang bernada protes atas kegiatan adventure off road (petualangan mobil jeep di luar jalan raya) yang melintasi areal likuifaksi Petobo dan Balaroa. 

Kegiatan tersebut dilaksakan Ditlantas Polda Sulteng, dengan tema Milenial Road Savety Festival yang kegiatannya dimulai tanggal 1 hingga 10 Maret nanti. Adventure ini dilepas langsung Wakapolda Sulteng. 




Sebagaimana viral diberitakan, kegiatan Adventure off road tanggal 1 maret itu diprotes keras oleh forum korban likuifaksi Petobo dan Balaroa, yang menilai kegiatan ini tidak etis dan tidak miliki empati terhadap bencana yang menimpa ribuan warga Petobo dan Balaroa. Apalagi di lintasan tersebut masih tertimbun cukup banyak sanak saudara mereka.

Menurut forum korban likuifaksi, setiap hari, khususnya  Jumat, para keluarga korban melakukan s
ziarah, sambil terus menggali dan mencari tulang belulang jasad korban yang masih tersisa. 

Menyikapi pemberitaan itu, Wadir intel Polda Sulteng, Soeliono lantas menggelar pertemuan silaturahmi dengan pihak forum korban likufaksi di cafe Kemang Palu pada siang hari itu juga, 2 maret 2019.

"Tadi pagi (2/3) saya diperintah langsung    Pak Kapolda  untuk segera menyelesaikan masalah ini," ujar Soeliono dalam pertemuan silaturahmi itu siang itu. 

Turut hadir dalam pertemuan ini antara lain ketua forum Petobo,  Yahdi Basma, SH, Sekretaris Forum Balaroa,  Agus Manggona, serta beberapa anggota forum Petobo dan Balaroa. 

Selain itu,  tampak pula hadir Wadir Binmas Polda,  AKBP Sirajudin, Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda, sekaligus Ketua pantia, AKBP Zamsami, sejumlah jajaran Polda Sulteng,  peserta dan komunitas Adventure off road palu. 

Senada dengan Wadir Binmas Sirajudin, AKBP Soeliono mengungkapkan, tidak ketahui persis jika rute yg dibuat panitia itu melewati area bekas likuifaksi Balaroa dan Petobo. 




"Dan ini kita pastikan miskomunikasi antara panitia dengan peserta Adventure.  Oleh karena itu, saya atas nama Polda Sulteng menghaturkan maaf kepada seluruh warga Petobo dan Balaroa atas kejadian kemarin" kata Soekino, seraya menitipkan kepada segenap saudara-saudara kita di Petobo dan Balaroa. 

Sementara itu,  Ketua Panitia Pelaksana, AKBP Zamsami menandaskan bahwa jauh sebelum kegiatan ini digelar, pihaknya telah lakukan survei rute dengan Indonesia Off Road Federation, IOF. 

Tidak cuma itu, panitia telah sampaikan rencana ini kepada masyarakat disekitar rumah singgah. 

"Hanya saja barang kali koordinasi belum lengkap,  seperti misalnya warga yang menerima kami dari tim survei IOF di rumah singgah itu bukanlah warga setempat, sehingga, informasinya tidak tersalurkan sampai  ke warga lainnya dan tokoh masyarakat sekitar" ujar Zamsami,  sambil menambahkan 
bila hal ini dianggap keliru, meminta maaf.

Dijelaskan Zamsami, rute yang dilalui 62 peserta Adventure Off Road itu antra lain dimulai dari Depan Mapolda, terus ke jalan Raden Saleh, trus ke Depan Mako Ditlantas atau tepatnya di lokasi tsunami pantai talise, lalu belok kiri jembatan III, kemudian masuk ke areal likuifaksi Balaroa, dan seterusnya ke Gawalise, hingga melewati desa Balane, terus naik ke puncak Porame, dan melintasi desa Bek, lantas turun ke sungai Wonu, tanggul Maranata, Sidera, dan lanjut ke sekitar wilayah bekas gempa dasyat di desa Jono Oge.

Dari situ, kemudian belok ke lokasi likuifaksi Petobo, lanjut ke Kawatuna, kelurahan Lasoani, dan meluncur turun ke jalan Veteran, Merpati, lalu naik lagi ke BTN Lagarutu, naik terus ke Pasar Talise, lantas turun lagi ke dalam kota di jalan Hangtua dan seterusnya, hingga akhirnya finis didepan  Mapolda Sulteng.

Menyikapi penyataan dan penjelasan pihak polda, ketua Forum Warga Korban Likuifaksi Petobo, Yahdu Basma,sh mengatakan dapat memahami kekeliruan pihak penyelenggara Adventure oof road itu. 

Menurut ketua pansus pasigala DPRD sulteng itu, pertemuan silaturahmi yang digagas jajaran polda sulteng hari ini merupakan sikap yang baik, dan dapat menerimanya sebagai peristiwa yang dicukupkan sampai disini saja, dan sekaligus berharap kejadian semacam ini tidak terulang lagi. 

"Berbeda dengan areal tsunami, disini (diareal likuifaksi, red) masih banyak bapak ibu dan anak istri kita tertimbun,  jadi disitu poinnya bapak" kunci anggota dan caleg DPRD sulteng itu. 

Hal senada juga telah disampaikan ketua Forum Balaroa, Rahman Kasim SH MH pada pertemuan jajaran polda dengan ketua furom dan warga Balaroa, sore hari 2 maret. 

"Sejak dulu warga menolak upaya beberapa pihak yang mau laksanakan kegiatan di likasi itu, karena sampai saat ini  kami menyakini masih ada 300 ran jenazah yang tertimbun disana" tegas Rahman dalam pertemuan sore itu, sambil menyucapkan terima kasih kepada panitia dan polda sulteng yang telah legowo menghaturkan maaf secara terbuka atas kejadian ini.(din)
Berita Terkait
Berita Lainnya