Sultra - tabloidskandal.com
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Dr.Ir. Soerjanto Tjahjono mengungkapkan wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) terbanyak mengalami insiden kecelakaan laut, hal ini diungkapnya saat membuka kegiatan diskusi Forum “Accident Review Forum” Keselamatan Pada Kapal Pengangkutan Muatan Curah Padat (Nickel ore), yang dilaksanakan Di Hotel Claro, pada Rabu pekan lalu.
“ kita ketahui di Sultra ini ada enam ratus lebih pulau dari 8000 pulau yang terdata diindonesia, kami juga sudah banyak melakukan investigasi disini, karena banyaknya terjadi kecelakaan laut “, ungkap Soerjanto dalam paparannya (16/6).
Oleh soerjanto mengatakan faktor insiden laut tersebut lebih banyak disebabkan oleh faktor cuaca dan tidak memenuhi Standarisasi layak berlayar. Meskipun demikian, lain halnya yang terjadi pada kapal bermuatan curah padat angkutan ore nickel, kecelakaan ini lebih khusus karena prosedur kelebihan muatan dan volume kadar air yang berlebihan, seperti yang terjadi pada kapal pengangkut ore nickel KM Nur Allya yang tenggelam pada 2019 tahun lalu.
Lebih khusus terkait insiden kapal bermuatan curah padat, secara rinci Ketua KNKT mengungkapkan selain faktor cuaca, permasalahan prosedural lainnya juga masih menjadi permasalahan diantaranya standarisasi layak muatan curah padat yang tidak memenuhi standar, yang mengakibat terjadinya likuifaksi muatan saat melaksanakan perjalanan berlayar.
"kita adalah negara paling berbahaya untuk angkutan value, yang jelas tiga besar "dangerous nol operation in the world" , dalam sidang IMO kita nyumbang 7 kecelakaan dari 10 yang tercatat secara global, sebagian besar berangkat dari wilayah sulawesi dan maluku utara", ungkapnya pula.
Terkait hal tersebut pihaknya berharap khusus pemuatan bahan baku curah padat diharapkan standarisasi sertifikasi layak muat harus diterapkan sebaik mungkin, khususnya sertifikasi MC muatan yang harus sesuai dengan volume berat ditetapkan pada muatan kapal pengangkut.
" dari salah satu rekomendasi KNKT untuk pengaturan bahan curah padat, kita menemukan beberapa kecelakaan yang berkaitan dengan hal ini, dari saat ditambang sampai kekapal, sudah tau hujan nambang terus akhirnya nickel ore kadar airnya tinggi, begitu sampai dikapal berlayar terjadi likuifaksi hal ini bisa buat kapal oleng dan bisa terjadi insiden saat berlayar", ungkapnya pula saat di wawancara awak media.
Terkait hal tersebut dikesempatan lain , lebih lanjut Kasundit tertib berlayar Dirjen Perhubungan laut kementrian perhubungan Capten Dedtri Anwar MM, menambahkan, saat ini pihak tengah mensosialisasikan aturan baru Peraturan Mentri (PM) No 6 Tahun 2021, aturan ini khusus mengatur standarisasi layak berlayar kapal bermuatan curah padat.
Lebih rinci aturan ini mengatur tentang diantaranya, surat kepemilikan barang, sertifikasi Nahkoda Kapal pengangkut serta Laboratorium yang akan digunakan, PM juga mengatur tentang lembaga sertifikasi pelatihan dan lembaga sekolah bagi sertifikasi awak layak berlayar.
"kemarin kitakan belum punya Peraturan Mentri (PM) curah padat, dan itu dipersyaratkan oleh organisasi dunia yang mengatur tentang keselamatan kapal, yakni IMO (international maritime organization), institute itu mempersyaratkan harus ada, dan kita akan diaudit tahun 2023 nanti, apakah kita sudah ngatur, alhamdulillah kita sudah buat PMnya, masih dalam tahapan sosialisasi penerapan, tahun depan sudah harus diterapkan," ujar kapten dedtri kepada awak media.
Dalam kegiatan ini turut hadir, kepala dinas Perhubungan Sultra, perwakilan Dinas ESDEM sultra, BMKG Sultra, Kepala KSOP Sultra dan Sulteng, Kepala KUPP Se-Sultra,
Kegiatan ini juga dihadiri langsung oleh Pimpinan Perusahaan Smelter diwilayah Sultra Dan sulteng, Serta Himpunan Pengusaha , Dan seluruh perwakilan Pimpinan Pemilik IUP sesultra dan sulteng.
(Risna).