,
03 Januari 2020 | dibaca: 503 Kali
Kepala Bappeda Muba Angkat Bicara, Terkait Biaya Rp 250 Ribu Psikotes TKS
noeh21

Skandal Muba

Setelah terbit dan beredarnya pemberitaan yang berjudul "Evaluasi TKS Bapedda Muba Selain Ikut Psikotes Diduga Harus Bayar 250 Ribu" membuat Zulfakar, selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Musi Banyuasin (Kab. Muba) sekitar pukul 16.15 WIB angkat bicara, Kamis (02/01/20).

"Kami lakukan psikotes itu untuk melakukan uji kompetensi dan etika. Itu kami lakukan untuk mencari orang orang yang berkualitas dan berkompeten di bidangnya," ujar Zulfakar pada awak media di ruang kerja Sekretaris Bappeda, Kamis 02/01.

Secara tegas Zulfakar juga membantah terkait munculnya rumor  Bappeda telah menyiapkan SDM baru untuk menggantikan TKS yang dinyatakan tidak lulus psikotes.

"Itu tidak ada. Bappeda tidak menyiapkan TKS Baru untuk menggantikan TKS yang lama. Kami melakukan psikotes ini tidak menggunakan APBD karena tidak ada aturannya untuk TKS," jelasnya.

Menurut Sekretaris Bappeda Muba, Nurjahrah Wati dana Rp 250.000 tersebut diperuntukkan untuk membayar lembaga Carissa Institute.

"Jumlahnya ada 44 TKS yang ikut psikotes dan mekanisme Evaluasi TKS Bappeda ini memakai lembaga Independen yaitu Carissa, karena kami tidak punya anggaran untuk mendatangkan lembaga tersebut," ujarnya.

Karena syarat untuk melamar TKS di Bappeda  harus ada keterangan psikotes, tapi itupun tidak diwajibkan. Intinya kami ingin lamaran tersebut ada lampiran hasil psikotes," ungkapnya.

Sementara itu, Goni salah Psikolog dari Lembaga pendidikan Carissa Institute ketika di wawancarai membenarkan  lembaga Carissa didatangkan oleh Bapedda.

"Kami ini dari Lembaga pendidikan Carissa dan hari ada delapan orang yang datang ke Bappeda Muba. Siapapun yang ingin memakai jasa kami ya harus bayar Rp 250 ribu. Sebagian peserta ada yang transfer dan ada sebagian yang bayar cash kepada kami tadi. Duit itu tidak melalui Bappeda, namun dari peserta langsung ke kami, karena kami ingin tranparansi dan profesional," jelas Goni mengakhiri wawancara. (TIM)
Berita Terkait
Berita Lainnya