Tutup Menu

Kematian Almarhum J.R Bukan Positif Corona, Tapi Infeksi Paru Paru dan Diabetes.

Selasa, 21 Juli 2020 | Dilihat: 5366 Kali
    


Tual, Skandal 

S.Rahayaan, putra dari alm JR menyebutkan kematian ibunda tercinta bukan karena positif Covid 19,tapi karena infeksi paru-paru dan diabetes.

"Ibunda meninggal bukan karena Corona," tegas S. Rahayaan saat memberikan keterangan pers di kediamaannya, sekitar 11.20 WIT, 21/7.

Menurut Rahayaan, 6 Juli  2020 ibundanya mengeluh sesak nafas dan badan lemas. Akibatnya, ibu dibawa anaknya ke RSUD Karel Sadsuitubun, sekitar pukul 00.30 WIT,dibawa ke IGD dan langsung ditangani secara medis. Dari IGD, almarhum dibawa ke ruangan kelas sekitar 4 hari.
 
Saat berada di ruang kelas 1, dokter sempat menyampaikan kepada keluarga almarhum menderita infeksi paru paru, 7/7. Lalu esok harinya, 8/7,  pihak RSUD melakukan rapid tes kepada ibu J.R. Hasilnya reaktif, dan  disampaikan langsung kepada keluarga, karena berhubung pasien di pindakan ke ruang isolasi.

Namun kesaksian anak Alm menyebutkan ibunya sudah reaktif pada hari Kamis, 9 Juli sehingga Alm sempat dipindahkan ke sebuah ruangan terlebih dulu. 

"Lalu dipindah-pindah lagi ke sala satu ruangan isolasi yang telah menghembus nafas terakhir," ujar Rahayaan tertunduk lesu.

Itupun sebelum meninggal, almarhum sempat mengeluh  sesak napas. Terlebih saat itu,   salah satu perawat yang lagi bertugas malam itu memberi fasilitas oksigen sentral yang belum dipersiapkan di ruang isolasi.

Tanpa ada bantuan alat oksigen, mengakibatkan alm sempat mengeluh sesak napas. Alm sempat minta tolong kepada anaknya agar hubungi perawat atau petugas, sambil mempersiapkan oksigen. 

Setelah itu, A.R langsung sampaikan kepada petugas atau perawat setempat, baru  memindahkan oksigen yang telah dipakai Alm di ruangan sebelumnya, sehingga  mempertanyakan  cara kerja  rumah sakit model tidak profesional.

"Kalau cara kerjanya seperti ini, pasien bisa saja mati konyol, karena memindakan pasien tanpa mempersiapkan ruangan, tidak fasilitas oksigen sentral di ruang isolasi.itupun anak Alm juga sempat mengeluh karena lagi sakit di hidungnya, bekas pengambilan sampel Swab test," tutur Rahayaan.

Begitu juga alm, sempat mengeluh karena rasa sakit, panas di bagian kepala."Namun kalau di kipas manual, badan rasanya ringan. Kedua anak selalu gantian mengipas alm," tambahnya.

Selain itu,  kondisi alm selalu merasa kedinginan apabila AC dinyalakan.

Pada 9 Juli, Alm melakukan foto rontgen. Dokter menyampaikan  menyampaikan hasil  laboratorium yang  memvonis bahwa Alm J.R mengidap sakit diabetes mellitus.

Anak Alm Simon.R  sempat mengatakan  sejak ibunya  reaktif, membuat pihak rumah sakit membatasi hanya satu orang dari keluarga yang menemani dan merawat pasien selama 3 hari sejak ditetapkan reaktif.

"Saya sendiri turut serta mengurus dan merawat dalam bentuk apapun. Bahkan juga sampai buang air kecil besar,say sendir yang jengurusnya,,itupun tidak difasilitas APD oleh RSUD pada saat itu.Malah saya sendiri yg menfasilitas untuk membeli sarung tangan, masker dan sebagainya. Saya menemani ibu  selama 3 hari,setelah itu kedua adik saya Alvin sama Rais melakukan penggantian untuk menjaga ibu.

Sementara  10 Juli dokter  menginformasikan hasil Rontgen  paru paru ibunya semacam di tutupi oleh awan awan putih, (dalam bahasa verbatin dokter).  Sayangnya hasil  foto Rontgen,tidak ada satupun diberikan kepada keluarga, dan hari itu juga atas konsultasi dengan dokter   Simon dan Alvin meminta agar keduanya juga ikut rapid tes.

Dokter juga sempat mencurigai dialah yang telah menularkan virus kepada pasien,namun sempat ditegaskan Simon bahwa terakhir keluar dari Ambon dan Seram sejak bulan Oktober 2019. Selebihnya itu cuma tinggal berinteraksi di seputaran Tual dan Langgur,

"Kalau dinyatakan ibu reaktif, maka seharusnya pihak rumah sakit harus melakukan SWAB test kepada ibu Alm pada hari Sabtu tanggal 11 Juli 2020,  dan tanggal yang sama dokter telah melakukan resep obat  kepada pasien dan keluarga harus membeli sendiri," tuturnya.

Dia pun mempertanyakan bila  pasien di nyatakan positif Corona, kenapa diberi  kebebasan menjenguk dan menjaga pasien.Kenapa tidak di vasilitasi APD

"Ada apa ini? Terus kenapa harus obat obatan keluarga yang tanggung, apakah dana covid ini khusus untuk bantu orang besar dari pada orang kecil.?" dambungnya kesal.

Lalu kalau positif covid 19 kok kenapa harus di obati dengan obat obat jantung. "Kami pihak keluarga punya bukti semua, sakit paru paru kok kenapa harus di bilang positif corona. Kami tetap akan melakukan jalur hukum,tapi sebelum itu juga kami sudah menyurati DPRD kab Malra untuk  sama-sama beraudens  bicarakan tentang persoalan yang terjadi di RSUD kab Malra (***)

Dapatkan Info Teraktual dengan mengikuti Sosial Media TabloidSkandal.com