,
02 Oktober 2020 | dibaca: 209 Kali
Bupati Ale Terus Dikejar Kasus Kebun Kelapa, Kapolres Tolitoli :
KAMI AKAN BEKERJA DAN TERUS BEKERJA, BUKAN MANDEK
noeh21

Tolitoli, Skandal

​​​​​​Moh.Saleh Bantilan, Bupati Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng) yang diduga  pelaku penyerobotan kebun kelapa orang di Kelurahan Nalu Tolitoli berapa tahun silam, kini dijadikan lokasi Rumah Adat, terus dikejar pemiliknya, Hasanudin alias Udin Lamatta.

Dalam mengejar Ale Bantilan, sapaan Moh.Saleh Bantilan di kasus yang melibatkan kakak sepupunya, haji Maruf Bantilan, Udin Lamatta kembali mengirim surat kepada Inspektorat Pengawas Daerah (ITWASDA) Polda Sulteng, kamis (1/10/2020.





Hal ini dilakukan, menyusul surat Udin kepada Itwasda Polda Sulteng tertanggal 12 Maret 2019, perihal pengaduan atas terhentinya proses pemeriksaan Ale di Polres Tolitoli, sampai kini belum direspon, baik Itwasda maupun pihak Polres Tolitoli. 

Ditemui di kantor Polres, kemarin 1 Oktober 2020, Udin nyatakan baru serahkan tembusan surat, berikut satu bundel dokumen kepemilikan kebun miliknya ke seksi umum (sium) Polres Tolitoli terkait kasus Ale Bantilan di lahan itu. 

Dalam surat susulan tertanggal 1 Oktober 2020 yang ditembuskan ke Ale Bantilan, Mendagri dan Bareskrim Polri, Udin Lamatta dengan tegas mengatakan sebagai warga negara taat hukum saya berhak mendapatkan jaminan penegakan supremasi hukum di republik ini.

Bahwa seseorang, tegasnya, merampas dan tebang pohon kelapa orang lain bak “Maling” disiang bolong, dibarengi sikap intimidatif dan tanpa hak (dikuasai dahulu dahulu baru kemudian dibayar sepihak, tidak sesuai aturan yang berlaku) maka dia telah lakukan perbuatan melawan Hukum, sehingga aparat hukum wajib mengusut tuntas. 

“Tolong jangan mentang-mentang pelaku rampok tanah itu adalah Bupati dan mengaku Raja, lantas hukum membenarkan,” tegas ketua Media Online Indonesia (MOI) Sulteng itu, sambil minta polisi untuk tidak membiarakan siapa pun pejabat di Tolitoli ini kebal hukum.

Sementara itu, dihubungi awak media ini via WhatsApp, Kapolres Tolitoli AKBP Budhi Batara Pratidina,SH,Sik,MH membenarkan Udin Lamatta terus pertanyakan perkembangan proses hukum Ale di Polres, bahkan pihaknya sudah perintahkan Kasat Reskrim untuk mendalami. 

“Saya sudah perintahkan Kasat Reskrim dalami laporan (Udin Lamatta,red) terdahu dan terkait status kepemilikan di BPN,“ ujar mantan Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Sulteng. 

Ditambahkan Kapolres, kami juga sudah berkoordinasi dengan pertanahan, dan pihak pertanahan akan cek dulu status tanah dimaksud. 

“Terkait masalah lokasi rumah adat, kami sudah berkoordinasi dengan pertanahan, pihak BPN akan mengecek dulu status kepemilikan tanah tersebut,” jelas Kapolres, seraya minta Udin Lamatta untuk terus berkoordinasi dengan Kasat Reskrim.

“Mohon yang bersangkutan (Udin Lamatta,red) konfirmasi  dan koordinasi selanjutnya ke Kasat Reskrim Iptu Rizal, sebagai bahan kami. Nanti saya sampaikan informasi yang kami kumpulkan, kami akan bekerja dan terus bekerja, bukan mandek,” kunci Kapolres.

Guna penuhi keseimbangan berita, awak media ini pun mekonfirmasi Bupati Tolitoli, Moh Saleh Ale Bantilan, tapi gagal.  WhatsApp konfirmasi yang dilayangkan ke ketua partai Matahari PAN Tolitoli itu centang dua tapi tidak dibaca. Demikian halnya telepon, nomor seluler 081145xx234 miliknya tidak aktif, tidak dapat dihubungi.

Sedang kakak sepupu Ale, Maruf Bantilan belum dikonfirmasi, mengingat Rektor Madako Tolitoli bergelar Doktor Ilmu Pemerintahan, sekaligus mantan Bupati Tolitoli dua periode yang akrab disapa MB tengah jalani perawatan medis di rumah sakit.  

Yang pasti, seperti diwartakan sebelumnya, MB menyatakan sekarang masalahnya tambah rumit, karena rumah adat itu dia (Ale) bongkar jadi permanen tanpa sepengetahuan dirinya selaku pendiri  (terngok busernews.com, edisi 18 September 2020 “TAK BISA JAWAB ALASAN SEROBOT TANAH ORANG, BUPATI ALE DIPERMALUKAN DEPAN ANAK BUAHNYA). 

“Sekarang masalahnya tambah rumit. Kesalahan Ale sudah berlipat lipat. Oleh karena itu, kita tunggu saja Ale sudah tidak jadi Bupati lagi, sekitar bulan Februari baru saya panggil dia, lalu kita bicara bertiga,” jelas Maruf Bantilan di busernews.(tim)
Berita Terkait
Berita Lainnya